Konten dari Pengguna

Kisah Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Surabaya. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Surabaya. Foto: Shutter Stock

Hari Pahlawan merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia. Peringatan ini jatuh setiap tanggal 10 November untuk mengenang perjuangan heroik rakyat Surabaya menghadapi tentara Inggris dan Belanda pada 1945. Jika ingin memahami betapa gigihnya semangat perlawanan para pahlawan, berikut kisah pertempuran Surabaya 10 November 1945, dikutip dari laman DJKN Kementerian Keuangan.

Awal Mula Konflik di Surabaya

Pertempuran Surabaya tidak terjadi begitu saja, melainkan bermula dari ketegangan akibat kedatangan pasukan Sekutu. Berikut rangkaian peristiwanya:

  • Pada 25 Oktober 1945, pasukan Sekutu yang terdiri dari tentara Inggris dan Belanda (NICA) memasuki Kota Surabaya.

  • Tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk mengamankan tawanan perang dan melucuti senjata Jepang.

  • Namun, pada 27 Oktober 1945, NICA yang dipimpin Brigadir Jenderal Mallaby mendirikan pos pertahanan dan membebaskan tawanan perang, sekaligus memerintahkan rakyat menyerahkan senjata.

  • Perintah ini ditolak tegas oleh rakyat Surabaya, dan memicu serangan balik oleh pasukan Indonesia yang dipimpin Bung Tomo pada 28 Oktober 1945.

Gencatan Senjata

Meskipun gencatan senjata sempat diberlakukan pada 29 Oktober, ketegangan di Surabaya tetap tinggi dan bentrokan bersenjata terus terjadi antara masyarakat setempat dan tentara Inggris.

Situasi semakin memanas setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945, yang memicu kemarahan pihak Inggris. Pada pagi 10 November, tentara Inggris melancarkan serangan besar-besaran ke kota.

Meski menghadapi pasukan Sekutu yang lebih unggul, pasukan dan milisi Indonesia memberikan perlawanan sengit demi mempertahankan wilayah mereka.

Ultimatum Inggris

Sebagai tanggapan atas perlawanan rakyat Surabaya, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, pengganti Brigadir Jenderal Mallaby, mengeluarkan ultimatum pada 10 November 1945.

Ultimatum tersebut menuntut beberapa hal penting, di antaranya:

  • Seluruh pemimpin Indonesia di Surabaya harus melaporkan diri.

  • Seluruh senjata yang dimiliki pihak Indonesia di Surabaya harus diserahkan kepada Inggris.

  • Para pemimpin Indonesia di Surabaya harus datang selambat-lambatnya tanggal 10 November 1945, pukul 06.00 pagi pada tempat yang telah ditentukan dan bersedia menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.

Ultimatum tersebut diabaikan, dan rakyat Surabaya bersiap menghadapi serangan besar dari tentara Inggris melalui darat, laut, dan udara. Hal ini memicu pecahnya pertempuran terbesar di Surabaya pada 10 November 1945.

Korban dan Kerusakan

Perlawanan sengit tersebut membawa dampak besar bagi penduduk dan kota Surabaya. Berikut di antaranya:

  • Sekitar 20.000 rakyat Surabaya gugur.

  • Sebanyak 1.600 tentara Inggris tewas, hilang, dan luka-luka.

  • Banyak bangunan dan infrastruktur kota hancur.

Tokoh Inspiratif di Balik Perlawanan

Keberhasilan perlawanan tidak lepas dari peran tokoh-tokoh yang membangkitkan semangat rakyat. Berikut beberapa tokoh penting yang menginspirasi perlawanan tersebut:

  • Bung Tomo: Memotivasi rakyat melalui siaran Radio Pemberontakan BPRI, sehingga membuat rakyat tetap berani menghadapi tentara Inggris.

  • KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah: Menggerakkan santri dan masyarakat sipil untuk berperan sebagai milisi perlawanan.

Penetapan Hari Pahlawan

Sebagai penghormatan atas jasa dan pengorbanan para pahlawan dalam mengusir tentara Inggris, pemerintah pada tahun 1959 menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur, yang ditandatangani langsung oleh Presiden Soekarno.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Bung Tomo di Surabaya yang Menginspirasi Bangsa