Kisah Pertempuran Palagan Bojongkokosan yang Tragis

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertempuran Palagan Bojongkokosan yang dikenal juga dengan Perang Konvoi terjadi pada 9 Desember 1945. Pertempuran ini diawali dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang dikabari bahwa tentara Inggris, Gurkha, dan NICA akan masuk ke wilayah Sukabumi. Simak kisah pertempuran Palagan Bojongkokosan selengkapnya berikut ini.
1. Latar Belakang Kedatangan Tentara Inggris, Gurkha, dan NICA
Dalam jurnal terbitan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ada banyak alasan di balik kedatangan tentara Inggris, Gurkha, NICA ke Sukabumi, berikut beberapa di antaranya:
Mengambil tentara Jepang di daerah Sukabumi dan sekitarnya.
Memberikan bantuan ke Bandung yang kala itu sedang terjadi pergolakan antara pihak pemuda dan tentara sekutu.
Menjaga kelancaran hubungan jalan darat antara Bogor-Sukabumi Cianjur.
2. TKR Sukabumi Mendapat Kabar Penjajah akan Datang
Ketika prajurit TKR Sukabumi di Pos Cigombong mendengar tentang kedatangan penjajah, pimpinan Kompi III saat itu, Murad, serta laskar rakyat Sukabumi segera mengadang. Mereka langsung menduduki tempat pertahanan di pinggir tebing utara dan selatan jalan Bojongkokosan.
Pengadangan yang dilakukan TKR dan rakyat Sukabumi menyebabkan terjadinya pertempuran sengit yang dikenal dengan nama Pertempuran Bojongkokosan.
3. Pertempuran Bojongkokosan
Pertempuran Bojongkokosan melibatkan banyak orang dari Sukabumi, yakni:
Tentara Keamanan Rakyat (TKR), diperkuat oleh senjata rampasan dari tentara Jepang
Laskar Rakyat Sukabumi
Barisan Banteng pimpinan Haji Toha
Hizbullah pimpinan Haji Akbar dan Pesindo
Pengadangan dilakukan mereka di sepanjang 81 km, dimulai dari daerah Cigombong Bogor, sampai dengan Ciranjang Cianjur. Sementara pasukan Sekutu diperkuat oleh puluhan tank, panser wagon, dan truk berisi ribuan pasukan Gurkha.
Konvoi yang dilakukan pasukan Sekutu berhasil masuk ke garis pertahanan TKR. Saat mendekati tebing Bojongkokosan, pasukan TKR segera melepaskan tembakan dan melakukan serangan.
Pasukan tentara Sekutu yang bersenjatakan peralatan pertempuran modern segera membombardir pertahanan pejuang dengan tank baja, mortir, dan senapan mesin. Namun, TKR berhasil meloloskan diri dari serangan Sekutu setelah hujan deras disertai kabut yang mengguyur kawasan Bojongkokosan.
Pertempuran kembali terjadi di sepanjang jalan Bojongkokosan hingga perbatasan Cianjur, seperti:
Ungkrak
Selakopi
Cikukulu
Situawi
Ciseureuh
Degung
Lintasan Ngaweng
Cimahpar
Pasekon
Sukaraja
Gekbrong
Tentara Sekutu yang dalam perjalanan ke Bandung dibuat gentar oleh terjadinya penyerangan di Bojongkokosan. Akhirnya, komandan Sekutu mengajak pemimpin TKR dan pemerintah setempat untuk berunding dan mengusulkan gencatan senjata, lalu disetujui.
4. Gencatan Senjata Berlangsung Sebentar
Gencatan senjata yang dirundingkan oleh komandan tentara Sekutu ternyata hanya berlangsung sehari. Pada 10 Desember 1945, tentara Sekutu kembali membombardir Kecamatan Cibadak. Pengeboman itu tercatat dalam majalah Belanda Fighting Cocks karangan Kolonel Doulton.
Serangan pesawat tempur yang dilakukan tentara Sekutu terhadap tentara TKR di Bojongkokosan bahkan tercatat sebagai yang terbesar sepanjang Pertempuran Dunia II.
Pada peristiwa pengeboman itu, 73 pejuang meninggal dunia. Sebagian nama pejuang yang gugur dalam Pertempuran Bojongkokosan tercatat di tugu Palagan Bojongkokosan.
Tidak hanya gugur, Peristiwa Bojongkokosan juga menewaskan dan melukai ratusan rakyat sipil. Ratusan rumah hancur setelah Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force) melakukan serangan balasan. Sekutu mengebom beberapa desa di Kompa, Parung Kuda, dan Cibadak hingga hancur dan rata dengan tanah.
Baca Juga: Cara TKR Membuat Pasukan NICA Mundur dari Kota Ambarawa
