Konten dari Pengguna

Kisah Sejarah Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta: Warisan Dakwah Sunan Kalijaga

Hendro Ari Gunawan
Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
7 November 2025 11:58 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kisah Sejarah Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta: Warisan Dakwah Sunan Kalijaga
Simak kisah sejarah Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta selengkapnya dalam ulasan berikut ini.
Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi tugu Yogyakarta. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tugu Yogyakarta. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Setiap tahun, alun-alun utara Yogyakarta dan Surakarta dipenuhi ribuan orang yang datang untuk menyaksikan tradisi Sekaten, sebuah upacara sakral yang telah berlangsung berabad-abad. Bunyi gamelan kuno yang bergema dari halaman Masjid Agung bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan jejak sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa yang dimulai sejak era Kerajaan Demak. Sekaten menjadi bukti nyata bagaimana para wali songo, khususnya Sunan Kalijaga, menggunakan kearifan lokal untuk menanamkan ajaran Islam tanpa meninggalkan budaya asli masyarakat Jawa. Artikel ini akan mengulas secara lengkap mengenai kisah sejarah Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta.
ADVERTISEMENT

Awal Mula Sekaten di Era Kerajaan Demak

Menurut G.P.H. Puger dalam bukunya yang berjudul Sekaten, asal mula tradisi ini dimulai pada masa Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.
Dalam penelitian A.Y.R. Firmansyah dkk yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Social Science dengan judul Sejarah Dumadosipun Gendhing Sekaten Karaton Surakarta Hadiningrat pun dijelaskan bahwa Sekaten dan gamelannya berasal dari Demak, kemudian secara turun temurun dilanjutkan oleh kerajaan Pajang, Mataram, Kerta, Pleret, Kartasura, dan akhirnya Surakarta serta Yogyakarta.
Pada masa itu, mayoritas masyarakat Jawa masih menganut kepercayaan Hindu dan Buddha. Sunan Kalijaga memahami bahwa dakwah frontal tidak akan efektif mengubah kepercayaan yang telah mengakar ratusan tahun. Ia kemudian menciptakan strategi cerdas dengan menggunakan gamelan, alat musik yang sangat digemari masyarakat Jawa.
ADVERTISEMENT
Pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung, gamelan dibunyikan dengan khidmat sehingga orang-orang berduyun-duyun datang. Di sinilah Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam, termasuk membimbing warga mengucapkan kalimat syahadat.

Makna Filosofis Kata Sekaten

Kata "Sekaten" sendiri memiliki sejarah etimologis yang menarik. Merujuk informasi dari jurnal Ichsanudin Ahmad dkk berjudul Tradisi Upacara Sekaten di Yogyakarta, nama Sekaten diadaptasi dari kata Arab "syahadatain" yang berarti dua kalimat syahadat. Karena keberhasilan dakwahnya melalui gamelan ini, Sunan Kalijaga diberi julukan "Kyai Sekati" yang diambil dari makna syahadatain.
Dalam perkembangannya, makna Sekaten diperluas menjadi beberapa interpretasi filosofis. Ada yang memaknai sebagai "suka ati" atau senang hati, "sesek ati" yang bermakna sesak hati karena rindu kepada Nabi Muhammad SAW, hingga pemaknaan "sekati" yang berarti setimbang, mengajarkan manusia untuk bisa menilai hal baik dan buruk.
ADVERTISEMENT
Pemaknaan yang beragam ini menunjukkan kekayaan filosofis dalam tradisi Jawa yang selalu mencari makna mendalam di balik setiap ritual.

Perpecahan Gamelan Sekaten Pasca Perjanjian Giyanti

Sejarah gamelan Sekaten mencerminkan perjalanan politik Kerajaan Mataram. Dalam jurnal Awilaras yang mengkaji gamelan Sekaten dijelaskan, perpecahan Kerajaan Demak menjadi Pajang dan Mataram Islam, kemudian pecahnya Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, mengakibatkan gamelan juga dibagi dua.
Di Kasunanan Surakarta gamelan diberi nama Kyai Naga Jenggot, sementara di Kasultanan Yogyakarta dinamai Kyai Naga Wilaga. Gamelan Kyai Naga Jenggot di Surakarta kemudian diduplikat dan diletakkan di Mangkunegaran alun-alun lor dengan nama Kyai Guntur Madu. Sementara itu, Gamelan Kyai Naga Wilaga di Yogyakarta dibuatkan pasangannya dengan nama Kyai Guntur Sari.
ADVERTISEMENT
Kedua set gamelan di masing-masing keraton ini dimainkan secara bersamaan setiap tahun dalam perayaan Sekaten, menciptakan harmoni spiritual yang luar biasa.

Prosesi Sekaten: Dari Miyos Gangsa hingga Grebeg Maulud

Rangkaian upacara Sekaten dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal atau bulan Maulud dalam kalender Jawa. Prosesi pertama adalah Miyos Gangsa, yaitu pemindahan gamelan sakral dari keraton menuju Masjid Agung.
Menurut penelitian dalam jurnal Triwikrama tentang Sekaten Yogyakarta: Tradisi Warisan Kerajaan yang Tetap Hidup di Tengah Modernitas, prosesi ini dipimpin oleh Sultan atau Sunan beserta para abdi dalem dengan penuh khidmat.
Gamelan kemudian dimainkan selama tujuh hari berturut-turut, dari pukul 16.00 hingga 23.00 waktu setempat. Permainan gamelan hanya diberhentikan sebelum waktu sholat dan pada malam Jumat sebagai bentuk penghormatan terhadap hari istimewa dalam Islam. Bunyi gamelan yang mengalun ini dipercaya membawa berkah dan mengundang datangnya rahmah dari Allah SWT.
ADVERTISEMENT
Puncak perayaan adalah Grebeg Maulud pada 12 Rabiul Awal, tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam prosesi ini, gunungan berisi hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan berbagai makanan diarak dari keraton menuju masjid.
Gunungan ini melambangkan rasa syukur kepada Allah dan berbagi rezeki kepada masyarakat. Masyarakat yang berhasil mendapatkan bagian dari gunungan meyakini akan mendapat berkah dan keberuntungan.

Sekaten sebagai Harmonisasi Islam dan Budaya Jawa

Penelitian dalam jurnal Triwikrama menunjukkan bahwa Sekaten bukan sekadar upacara seremonial, melainkan manifestasi harmonisasi antara budaya Jawa dan ajaran Islam.
Simbol-simbol seperti gamelan, sesaji, dan pusaka keraton memiliki makna filosofis yang mendalam, mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa yang religius dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
ADVERTISEMENT
Tradisi ini membuktikan bahwa Islam dapat berkembang di Nusantara dengan menghormati dan beradaptasi dengan budaya lokal, bukan menghapusnya.
Hingga kini, baik Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta tetap melestarikan tradisi Sekaten dengan penuh kesungguhan.
Para abdi dalem yang bertugas memainkan gamelan harus berpuasa dan menyucikan diri terlebih dahulu, menunjukkan bahwa upacara ini tetap dijalankan dengan penuh kesakralan seperti ratusan tahun silam.
(NDA)