Konten dari Pengguna

Sejarah Sastra Klasik Hikayat Hang Tuah dan Pengaruhnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi karya sastra. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi karya sastra. Foto: Unsplash

Salah satu karya sastra Melayu klasik yang paling menonjol dalam sejarah kesusastraan adalah Hikayat Hang Tuah. Karya ini menjadi warisan budaya yang mencerminkan nilai-nilai luhur yang dapat membentuk karakter bangsa. Selama berabad-abad, kisah Hikayat Hang Tuah telah diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Artikel ini akan menguraikan sejarah sastra klasik Hikayat Hang Tuah beserta pengaruhnya.

Daftar isi

1. Asal Usul Hikayat Hang Tua

Hikayat Hang Tuah tercatat sebagai salah satu karya sastra Melayu klasik yang paling panjang. Kisah ini diduga berawal dari cerita lisan sebelum akhirnya mulai ditulis pada sekitar abad ke-17.

Dalam buku Sejarah Kesusastraan Melayu klasik oleh Yock Fang Liaw, hikayat ini telah mengalami beberapa kali penerbitan. Edisi yang paling dikenal adalah versi W.G. Shellabear (dalam huruf Rumi dan Jawi) serta versi terbitan Balai Pustaka. Pada tahun 1960, Abas Datoek Pamoentjak nan Sati juga menerbitkan edisi huruf Jawi lainnya.

2. Isi Cerita dalam Karya Sastra Hikayat Hang Tuah

Kisah Hikayat Hang Tuah berpusat pada tokoh utama, Hang Tuah, seorang pendekar yang dikenal karena keberanian dan kesetiaannya dalam sejarah Kesultanan Malaka. Dalam kisah ini juga hadir empat sahabat setianya, yaitu Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu.

Cerita dimulai dengan pembukaan negeri Melaka. Bersama Baginda Raja, rombongan Hang Tuah mencari lokasi baru untuk dijadikan pusat kerajaan. Mereka akhirnya singgah di sebuah pulau dan melihat seekor pelanduk putih yang sulit ditangkap. Berdasarkan petuah orang tua-tua, kemunculan pelanduk putih menandakan tempat yang baik untuk dijadikan negeri. Dari sinilah kemudian berdirilah negeri Melaka sesuai dinamai sesuai pohon Melaka yang ditemukan di tempat itu.

Disebutkan dalam buku Nusantaria: Sejarah Asia Tenggara Maritim karya Philip Bowring, konflik dalam hikayat ini mencapai puncaknya ketika Hang Tuah harus berhadapan dengan sahabat karibnya, Hang Jebat. Pertarungan yang berlangsung selama berhari-hari itu menjadi klimaks emosional cerita, menggambarkan dilema moral antara kesetiaan kepada raja dan perjuangan menegakkan keadilan. Pada akhirnya, Hang Jebat tewas di tangan Hang Tuah, sebagai sebuah simbol pengorbanan demi loyalitas terhadap sang raja.

3. Pengaruh dalam Hikayat Hang Tuah

Salah satu keistimewaan Hikayat Hang Tuah terletak pada kedalaman nilai moral yang dikandungnya. Dalam penelitian berjudul Peran Cerita Hikayat Hang Tuah Mewujudkan Nilai Budaya dan Karakter Bangsa oleh Errika Febi Lusianti dkk., disebutkan bahwa hikayat ini sarat dengan nilai-nilai kepahlawanan, seperti keberanian (heroisme), loyalitas, keadilan, kearifan, kebijaksanaan, patriotisme, kesopanan, serta solidaritas.

Kisah Hikayat Hang Tuah juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan pandangan hidup masyarakat. Hikayat ini menjadi instrumen penting dalam pendidikan karakter dan pelestarian warisan budaya, terutama di tengah tantangan globalisasi.

Baca Juga: Ciri-Ciri Aksara Rejang dari Bengkulu dan Sejarahnya

(SA)