Konten dari Pengguna

Lapisan Astenosfer Bumi, Zona yang Menggerakkan Lempeng Tektonik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lapisan astenosfer Bumi. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lapisan astenosfer Bumi. Foto: Unsplash

Lapisan astenosfer merupakan bagian penting dari struktur dalam Bumi yang berperan besar dalam terjadinya pergerakan lempeng, gempa bumi, dan aktivitas gunung berapi. Lapisan ini berada tepat di bawah litosfer yang bersifat keras. Menurut Britannica, astenosfer adalah zona mantel Bumi yang terletak di bawah litosfer, lebih panas dan lebih lunak dibandingkan litosfer, serta membentang dari kedalaman sekitar 100 kilometer hingga mendekati 700 kilometer di bawah permukaan Bumi. Artikel ini akan menjelaskan lebih lanjut seputar lapisan astenosfer Bumi.

Daftar isi

Posisi dan Ketebalan Lapisan Astenosfer

Astenosfer terletak pada bagian mantel atas Bumi, tepat di bawah litosfer. National Geographic Education menjelaskan bahwa lapisan ini berada pada kedalaman sekitar 100 kilometer hingga 410 kilometer dari permukaan Bumi.

Sementara itu, Study.com menyebutkan bahwa secara umum astenosfer mulai muncul pada kedalaman sekitar 100 kilometer dan dapat mencapai sekitar 250 kilometer, tergantung kondisi wilayahnya.

Untuk perbandingan, litosfer mencakup kerak Bumi dan sebagian mantel atas dengan ketebalan sekitar 100 kilometer, sedangkan mantel bawah membentang jauh lebih dalam hingga sekitar 2.900 kilometer.

Kerak Bumi dan mantel paling atas membentuk litosfer yang kaku dan rapuh. Di bawah lapisan inilah astenosfer berada, dengan sifat lebih lunak dan plastis.

Komposisi dan Suhu Lapisan Astenosfer

Lapisan astenosfer tersusun dari unsur magnesium, besi, dan silikon. EBSCO Research Starters menjelaskan bahwa batuan di bawah batas Moho umumnya berupa peridotit, yang didominasi mineral olivin dan piroksen dengan massa jenis sekitar 3,3 gram per sentimeter kubik.

Suhu menjadi faktor utama yang membedakan astenosfer dari lapisan di atasnya. Adapun pada suhu sekitar 1.300 derajat Celsius, batuan mantel mulai berperilaku plastis.

National Geographic Education menyebutkan bahwa suhu dan tekanan tinggi menyebabkan batuan di astenosfer melunak dan sebagian meleleh, meskipun tidak sepenuhnya cair.

Peran Astenosfer dalam Tektonik Lempeng

Astenosfer bisa dibayangkan seperti lapisan licin di dalam Bumi yang membantu lempeng-lempeng besar di permukaan Bumi bergerak. Menurut National Geographic Education, lempeng litosfer berada di atas astenosfer dan bergerak sangat perlahan karena lapisan ini bersifat lebih lunak. Pergerakan inilah yang kemudian menyebabkan berbagai peristiwa alam, seperti pergeseran benua dan aktivitas tektonik.

Sementara itu, Encyclopaedia Britannica menjelaskan bahwa panas dari bagian dalam Bumi membuat astenosfer tetap dalam kondisi lunak dan tidak sepenuhnya padat. Kondisi ini memungkinkan terjadinya arus pergerakan di dalam Bumi yang mendorong lempeng-lempeng bergerak. Akibatnya, terbentuklah pegunungan, terjadinya gempa bumi, dan munculnya gunung api di berbagai wilayah.

Karakteristik Gelombang Seismik di Astenosfer

Keberadaan astenosfer dapat diketahui dari cara gelombang gempa merambat di dalam bumi. Lapisan ini disebut sebagai zona kecepatan rendah karena gelombang gempa bergerak lebih lambat ketika melewatinya.

Sementara itu, EBSCO Research Starters menjelaskan bahwa meskipun gelombang gempa melambat, gelombang S masih dapat merambat melalui astenosfer. Hal ini menunjukkan bahwa astenosfer bersifat lunak dan plastis, tetapi belum mencair sepenuhnya seperti magma.

Baca juga: Tsunami Non Tektonik: Pengertian, Penyebab, dan Perbedaannya dengan Tektonik

(NDA)