Makna Gending dan Gamelan dalam Upacara Adat Jawa

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gending adalah komposisi musik yang dimainkan menggunakan perangkat gamelan. Kehadirannya memegang peran penting dalam berbagai upacara adat Jawa karena mampu menghidupkan suasana sekaligus menyampaikan pesan filosofis. Alunan nadanya yang indah meninggalkan kesan mendalam bagi para pendengar. Artikel ini akan menguraikan makna gending dan gamelan dalam upacara adat Jawa secara lebih lengkap.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Sebagai Pengatur Suasana
Gending tersusun dari laras (tangga nada), tempo, dan pola ritme tertentu. Melalui kombinasi unsur tersebut, gending mampu menciptakan suasana sesuai kebutuhan prosesi upacara adat. Dalam buku Ergonomi Industri oleh Sajiyo dkk., gamelan Jawa dibagi menjadi dua sistem laras utama:
Laras Slendro: Memiliki alunan lembut, sehingga menghadirkan nuansa tenang, teduh, dan penuh kewibawaan.
Laras Pelog: Memiliki karakter nada yang lebih tegas, sehingga memberikan kesan bergairah dan bersemangat.
2. Sebagai Penanda Tahapan Upacara Adat
Setiap tahapan upacara adat, seperti pernikahan biasanya menggunakan gending tertentu sebagai penanda prosesi. Dalam pernikahan adat Jawa, sebagaimana dijelaskan dalam buku Pengantin Gaya Yogyakarta: Tata Cara dan Wicara oleh Suwarna Dwijonagoro, gending berfungsi membangun suasana sakral, indah, bahagia, bahkan menghibur. Beberapa contoh penggunaan gending dalam prosesi pernikahan Jawa, antara lain:
Pembukaan acara: Lancaran Kebo Giro atau Ladrang Wilujeng dimainkan untuk memohon keselamatan dan kelancaran seluruh rangkaian acara.
Kirab Penggantin: Ketika pengantin diarak menuju pelaminan, biasanya dimainkan Ketawang Langen Gito yang melambangkan keikhlasan, kesetiaan, serta kesabaran kedua mempelai dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Panggih pengantin: Prosesi pertemuan dua mempelai diiringi Ketawang Puspawarna.
Sungkeman pengantin: Pada momen ini dimainkan Ketawang Ibu Pertiwi dengan tempo lambat dan lembut sebagai ungkapan hormat, kasih sayang, dan kerendahan hati kepada orang tua.
Boyongan pengantin: Saat keluarga membawa perlengkapan rumah tangga untuk mempelai, biasanya diiringi Ladrang Boyong.
3. Sebagai Pembawa Nilai Filosofis dari Setiap Instrumen
Gamelan tersusun dari berbagai instrumen seperti bonang barung, bonang penerus, kendhang, kempul, gambang, saron, rebab, gender, hingga gong. Setiap instrumen mengandung makna filosofis. Dalam buku Filsafat Jawa: Menguak Filosofi, Laku Hidup, dan Ajaran Leluhur Jawa oleh Sri Wintala Achmad, dijelaskan beberapa makna instrumen gamelan:
Bonang Barung & Bonang Penerus: Menghasilkan bunyi nang, dimaknai sebagai wenang (berhak) atau memang (jaya). Makna filosofisnya, manusia berhak menentukan nasibnya sendiri sehingga memiliki peluang meraih kemenangan.
Kendhang: Bunyi dang dimaknai sebagai ndang (segera). Pesannya adalah manusia harus segera melaksanakan kewajiban dan aktivitas sesudah bangun tidur.
Gender: Selalu ditabuh sebagai pembuka gending. Melambangkan permulaan atau awal kehidupan.
Rebab: Dibunyikan ketika gender tidak hadir. Filosofinya berkaitan dengan tujuan atau niat dari setiap tindakan manusia.
Gambang: Mengajarkan manusia agar bertindak dengan jelas, menyeimbangkan kebutuhan lahir dan batin, serta menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Gong: Ditabuh pada akhir gending, mengandung ajaran bahwa hidup hendaknya ditutup dengan kesempurnaan.
Baca Juga: Ciri-Ciri Seni Ukir Asmat Papua yang Asli dan Penuh Filosofi
(SA)
