Konten dari Pengguna

Mengapa Bung Tomo Menjadi Simbol Perlawanan Surabaya? Ini Alasannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi patung pahlawan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi patung pahlawan. Foto: Unsplash

Bung Tomo, bernama asli Sutomo, lahir di Surabaya pada tahun 1920. Sejak muda, ia sudah terbiasa hidup di tengah situasi perjuangan kemerdekaan. Lalu, mengapa Bung Tomo menjadi simbol perlawanan Surabaya? Dalam buku Bung Tomo karya Raka Saliraning Gati dijelaskan bahwa Bung Tomo dikenal sebagai simbol perlawanan rakyat Surabaya karena perannya yang sangat besar dalam membangkitkan semangat perjuangan melawan pasukan Sekutu pada 10 November 1945. Untuk mengetahui perjuangan Bung Tomo dalam melawan penjajah di Surabaya, simak terus uraian ini.

Daftar isi

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Surabaya

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, situasi di Surabaya menjadi sangat tegang. Pasukan Sekutu datang dengan membawa misi melucuti senjata Jepang, tetapi juga mendukung kembalinya Belanda melalui NICA.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa rakyat Surabaya menolak ultimatum yang dikeluarkan Brigadir Jenderal Mallaby. Ketegangan ini memuncak setelah Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945, yang kemudian memicu pertempuran besar.

Dalam buku Tugu yang Bersuara: Tugu Pahlawan karya Miftachun Nur disebutkan bahwa Bung Tomo sudah aktif sejak awal, termasuk saat perebutan senjata di Don Bosco dan pembentukan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI).

Ia berperan mengoordinasikan para pemuda Surabaya, atau yang dikenal sebagai arek-arek Suroboyo, untuk melawan blokade laut Sekutu.

Pidato Radio Bung Tomo yang Membakar Semangat

Peran paling terkenal Bung Tomo adalah pidato-pidatonya melalui radio. Dari studio Radio Revolusi di Jalan Tembok Dukuh, ia menyampaikan seruan yang sangat menggugah, seperti “Allahu Akbar! Saudara-saudara, ayo bertempur!” pada pagi 10 November 1945.

Dikutip dari LLDikti Wilayah V Kemdikbud, suara Bung Tomo berhasil membangkitkan semangat sekitar 100 ribu pejuang rakyat, meskipun mereka kalah jauh dalam hal persenjataan.

Nana Supriatna dkk dalam buku IPS Terpadu: Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah menjelaskan bahwa pidato Bung Tomo merupakan bentuk propaganda perjuangan yang sangat efektif.

Siaran ini bahkan sampai didengar secara internasional, serta memperkuat posisi perjuangan Indonesia di mata dunia. Dalam situasi genting tersebut, Surabaya sempat menjadi pusat perhatian nasional.

Kepemimpinan Bung Tomo di BPRI

Sebagai pemimpin BPRI, Bung Tomo tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga terlibat langsung dalam pengaturan strategi perjuangan. Ia memimpin perlawanan rakyat di berbagai wilayah Surabaya seperti Kembang Jepun dan Dulmuluk.

Situs Musea Surabaya memberitahukan, penampilan khas Bung Tomo dengan peci hitam menjadi simbol perlawanan rakyat. Dokumen-dokumen perintah tempurnya kini disimpan di kawasan Tugu Pahlawan.

Penelitian dalam jurnal Teknik Persuasif Bung Tomo yang diterbitkan Garuda Kemendikbud menjelaskan bahwa kekuatan Bung Tomo terletak pada kemampuannya memadukan nilai agama dan nasionalisme. Seruan seperti “merdeka atau mati” berhasil menyentuh hati rakyat dan menyalakan semangat juang arek-arek Suroboyo.

Warisan Bung Tomo bagi Hari Pahlawan

Perjuangan dan pidato Bung Tomo menjadi salah satu alasan utama ditetapkannya tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional. Hingga kini, Pemerintah Kota Surabaya rutin memperingatinya dengan berbagai kegiatan, termasuk parade bambu runcing.

Menurut Raka Saliraning Gati dalam buku Bung Tomo, Bung Tomo adalah simbol persatuan bangsa, tanpa membedakan agama dan suku. Semangat perjuangannya menjadi inspirasi penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah 1945.

Baca juga: Sejarah Bung Tomo: Sang Orator yang Membakar Semangat Arek Surabaya

(NDA)