Sejarah Bung Tomo: Sang Orator yang Membakar Semangat Arek Surabaya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sutomo atau yang lebih dikenal dengan panggilan akrab Bung Tomo adalah nama yang tak pernah lekang dalam ingatan rakyat Indonesia, khususnya warga Surabaya. Pertempuran 10 November 1945 yang dipimpinnya bukan hanya sekadar perlawanan fisik, melainkan simbol kebulatan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan. Simak terus uraian ini untuk mengetahui sejarah Bung Tomo lebih lengkap.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Masa Muda dan Pendidikan Bung Tomo
Bung Tomo lahir di Kampung Blauran, Surabaya pada 3 Oktober 1920 dari pasangan Kartawan Tjiptowidjojo dan Subastita. Dalam buku Bung Tomo karya Abdul Waid yang diterbitkan Laksana dijelaskan, ayahnya merupakan seorang priyayi golongan menengah yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pengikut Pangeran Diponegoro.
Keluarga yang menghargai pendidikan membuat Bung Tomo bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Surabaya, kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama pada masa Hindia Belanda. Namun pada usia 12 tahun, pendidikannya terpaksa berhenti akibat Depresi Besar yang melanda dunia pada awal 1930-an. Meski demikian, jiwa kepemimpinannya terus berkembang.
Menurut William H. Frederick dalam jurnal berjudul In Memoriam: Sutomo, Bung Tomo bergabung dengan organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan meraih predikat Scout Eagle pada 1937. Organisasi inilah yang melatih kecakapan Bung Tomo dalam berpidato yang kelak menjadi senjata utamanya dalam membangkitkan semangat perjuangan rakyat.
Karier sebagai Jurnalis dan Aktivis
Kepiawaian Bung Tomo dalam berbahasa dan kecerdasan berpikir menuntunnya memilih jalur jurnalistik. Harsya Bachtiar dalam buku Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD tahun 1989 mencatat bahwa sejak usia 18 tahun, Bung Tomo telah menjadi redaktur mingguan Pembela Rakjat pada 1938. Di tahun yang sama, ia bahkan menjadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara setelah mendirikan biro di Surabaya.
Kiprah jurnalistiknya berlanjut pada masa pendudukan Jepang ketika ia bekerja untuk Dōmei Tsushin, kantor berita resmi Kekaisaran Jepang di Surabaya. Pada 1944, ia terpilih menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru dan pengurus Pemuda Republik Indonesia yang disponsori Jepang. Posisi ini kelak memberikannya akses ke radio yang menjadi senjata ampuhnya dalam menggerakkan massa.
Baca juga: Sejarah Pattimura: Pahlawan Maluku yang Berani Melawan Monopoli Belanda
Pertempuran 10 November 1945
Setelah proklamasi kemerdekaan, situasi di Surabaya memanas. Tentara Inggris yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) datang bersama Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dengan dalih melucuti tentara Jepang, namun diam-diam berniat mengembalikan Indonesia kepada Belanda.
Dalam jurnal yang diterbitkan Rinontje tentang Bung Tomo dan Peranannya dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, dijelaskan bahwa Bung Tomo berperan besar dalam perebutan senjata di Gudang Don Bosco dan membentuk Laskar Pemberontakan Rakyat Indonesia (LPBRI) pada 12 Oktober 1945.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh pada 30 Oktober 1945. Inggris kemudian mengultimatum rakyat Indonesia untuk menyerahkan senjata pada 10 November pukul 06.00, jika tidak Surabaya akan dibom. Ultimatum ini justru dijawab dengan perlawanan sengit.
Barlan Setiadijaya dalam buku 10 November '45: Gelora Kepahlawanan Indonesia tahun 1992 mengungkapkan bahwa Bung Tomo menggunakan siaran Radio Pemberontakan untuk melantangkan pidato heroiknya yang membakar semangat arek-arek Suroboyo.
Meskipun akhirnya Indonesia kalah dalam pertempuran tersebut, rakyat Surabaya berhasil menahan pasukan Inggris selama beberapa pekan dengan persenjataan seadanya, sebuah prestasi luar biasa yang menggetarkan dunia internasional.
Karier Politik dan Kritik terhadap Orde Baru
Pasca pertempuran, Bung Tomo mendapat pangkat Jenderal Mayor dan berkedudukan di Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada 1946, ia diangkat menjadi Kepala Perlengkapan Kementerian Pertahanan. Antara 1950-1956, ia menjabat sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Burhanuddin Harahap. Ia juga aktif sebagai anggota Konstituante mewakili Partai Rakyat Indonesia hingga dibubarkan Soekarno melalui Dekrit Presiden 1959.
Pada awal Orde Baru, Bung Tomo sempat mendukung Suharto, namun sejak awal 1970-an ia mulai mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk proyek Taman Mini Indonesia Indah. Akibatnya pada 11 April 1978, ia ditangkap dan dipenjara selama setahun atas tuduhan subversif.
Wafat di Tanah Suci dan Warisan
Pada 7 Oktober 1981, Bung Tomo wafat di Padang Arafah saat menunaikan ibadah haji. Jenazahnya dibawa pulang dan dimakamkan di TPU Ngagel Surabaya sesuai wasiatnya, bukan di Taman Makam Pahlawan. Pada peringatan Hari Pahlawan 2008, ia dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional. Tanggal 10 November kini diperingati sebagai Hari Pahlawan, dan Surabaya mendapat julukan Kota Pahlawan berkat perjuangan heroik yang dipimpin Bung Tomo.
(NDA)
