Mengapa Matahari Disebut Bintang? Ini Penjelasannya Menurut Ilmu Astronomi

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap pagi kita melihat matahari terbit dan memancarkan cahaya terang yang menerangi Bumi. Namun, tahukah kamu bahwa matahari termasuk dalam kategori bintang? Menurut NASA, matahari disebut sebagai bintang karena memiliki karakteristik yang sama dengan bintang-bintang lain di alam semesta. Untuk mengetahui alasan lengkap mengapa matahari disebut bintang dalam ilmu astronomi, simak terus uraian ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Matahari Menghasilkan Cahayanya Sendiri
Alasan utama mengapa matahari digolongkan sebagai bintang adalah kemampuannya menghasilkan dan memancarkan cahaya sendiri. Secara harfiah, bintang didefinisikan sebagai benda langit yang dapat memancarkan cahayanya sendiri akibat adanya reaksi fusi nuklir yang menghasilkan energi.
Berbeda dengan planet yang hanya memantulkan cahaya matahari, matahari sebagai bintang adalah sumber cahaya itu sendiri. Cahaya yang dipancarkan matahari sangat penting bagi kehidupan di Bumi, memberikan energi untuk fotosintesis tumbuhan yang menjadi dasar dari seluruh rantai makanan.
Reaksi Fusi Nuklir di Inti Matahari
Berdasarkan penjelasan dari Solar Center Stanford University, matahari menghasilkan energi melalui proses reaksi fusi nuklir yang terjadi di intinya. Di dalam inti matahari, suhu mencapai 15 juta derajat Celsius dengan tekanan yang sangat tinggi. Kondisi ekstrem ini menyebabkan atom-atom hidrogen saling bertabrakan dengan kecepatan tinggi dan bergabung membentuk atom helium.
Proses penggabungan ini kemudian melepaskan energi yang sangat besar dalam bentuk cahaya dan panas. Setiap detik, matahari mengubah sekitar 620 juta ton hidrogen menjadi helium, dan selisih massa tersebut dikonversi menjadi energi murni yang membuat matahari terus bersinar.
Komposisi Gas yang Sama dengan Bintang
Matahari tersusun dari gas-gas yang sangat panas, terutama hidrogen dan helium, sama seperti bintang-bintang lain di alam semesta. Menurut informasi dari berbagai sumber, komposisi matahari terdiri dari sekitar 70% hidrogen, 24% helium, dan sisanya adalah elemen lain. Komposisi ini hampir identik dengan bintang-bintang deret utama lainnya. Unsur pembentuk ini berkumpul dan disatukan oleh gravitasi yang sangat kuat, menciptakan kondisi ideal untuk terjadinya reaksi fusi nuklir.
Matahari adalah Pusat Tata Surya
Sebagai bintang, matahari memiliki massa yang sangat besar yang memberikan pengaruh gravitasi sangat kuat. Berdasarkan data NASA, massa matahari mencapai sekitar 330.000 kali massa Bumi, mengandung 99,8 persen dari massa seluruh tata surya.
Gravitasi matahari yang luar biasa kuat inilah yang menjaga planet-planet tetap pada orbitnya dan menjadikan matahari sebagai pusat tata surya. Semua planet berputar mengelilingi matahari karena gaya tarik gravitasinya. Inilah yang membedakan matahari sebagai bintang dengan planet yang justru mengorbit bintang.
Mengapa Matahari Tampak Lebih Besar dari Bintang Lain
Matahari terlihat jauh lebih besar dan lebih terang dibandingkan bintang-bintang lain bukan karena ukurannya yang istimewa, melainkan karena jaraknya yang sangat dekat dengan Bumi. Menurut informasi dari The Sky Live, matahari berjarak sekitar 150 juta kilometer dari Bumi, menjadikannya bintang terdekat ke planet kita.
Jarak ini sangat dekat dibandingkan dengan bintang-bintang lain yang berada ribuan atau bahkan jutaan tahun cahaya jauhnya. Sebenarnya matahari termasuk bintang berukuran sedang dengan suhu permukaan sekitar 5.800 Kelvin. Ada banyak bintang yang jauh lebih besar dan lebih terang dari matahari, namun karena letaknya sangat jauh, mereka tampak seperti titik-titik kecil di langit malam.
Sejarah Penemuan Matahari Sebagai Bintang
Fakta bahwa matahari adalah bintang sudah disampaikan sejak zaman kuno. Berdasarkan catatan dari Solar Center Stanford University, Anaxagoras adalah orang pertama yang menyatakan bahwa matahari adalah bintang pada sekitar 450 SM di Athena, Yunani.
Namun, pernyataannya tidak diterima dengan baik dan ia bahkan dipenjara karena dianggap tidak sopan. Sekitar 1.800 tahun kemudian, Giordano Bruno kembali menyampaikan ide yang sama namun nasibnya lebih tragis karena dibakar di tiang pancang. Baru setelah masa Galileo, Kepler, dan Newton, pemahaman tentang matahari sebagai bintang mulai diterima secara ilmiah.
Baca juga: Mengapa Matahari Bersinar? Intip Rahasia di Balik Cahaya yang Menerangi Bumi
(NDA)
