Konten dari Pengguna

Mengapa Reog Ponorogo Dianggap Menyimpan Simbol Perlawanan? Ini Sejarahnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah penari menarikan tarian Reog Ponorogo saat kunjungan delegasi 3rd Sherpa Meeting G20 Indonesia di Balkondes Ngadiharjo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (29/9/2022). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penari menarikan tarian Reog Ponorogo saat kunjungan delegasi 3rd Sherpa Meeting G20 Indonesia di Balkondes Ngadiharjo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (29/9/2022). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO

Reog Ponorogo adalah seni pertunjukan tradisional kolosal dari Ponorogo, Jawa Timur, yang memadukan tarian, musik, dan akrobatik. Pertunjukan ini mengandung nilai-nilai luhur, seperti kebersamaan, gotong royong, hingga perlawanan. Namun, mengapa Reog Ponorogo dianggap menyimpan simbol perlawanan? Artikel ini akan mengulas sejarah tentang Reog Ponorogo selengkapnya.

Daftar isi

Cerita Ki Ageng Kutu: Pemberontakan Melawan Raja Majapahit

Reog Ponorogo berasal dari kisah Ki Ageng Kutu, seorang mantan pejabat Majapahit yang kecewa karena Raja Brawijaya V dianggap terlalu suka berpesta dan menghaburkan harta kerajaan.

Menurut buku Performance, Music and Meaning of Réyog Ponorogo karya Margaret J. Kartomi, setelah meninggalkan istana, Ki Ageng Kutu membuka sekolah bela diri di Ponorogo dan menciptakan Reog sebagai cara untuk menyindir raja, tanpa harus melawan tentara secara langsung.

Dalam pertunjukan Reog, topeng singa barong melambangkan raja yang kuat tetapi tidak bijak. Hiasan bulu merak di atasnya menggambarkan ratu yang suka kemewahan. Sementara itu, penari jathil yang berpenampilan lembut dipakai sebagai sindiran bahwa pasukan Majapahit saat itu dianggap lemah dan mudah takut.

Cerita ini muncul dari sumber-sumber lama seperti Nagarakertagama dan Serat Cabolang, yang menunjukkan bahwa Reog lahir pada masa akhir Majapahit sebagai simbol kebebasan Ponorogo dari aturan kerajaan.

Pada masa itu, rakyat Ponorogo memakai tarian ini sebagai cara menyampaikan kritik secara tersembunyi, karena kalau mengkritik secara langsung mereka bisa mendapat hukuman berat.

Simbol dalam Kostum dan Gerakan Reog yang Penuh Makna

Setiap bagian dalam Reog sebenarnya punya arti tentang perlawanan. Topeng singa yang beratnya bisa 50 kg dan diangkat hanya dengan gigi melambangkan beratnya beban rakyat yang harus menanggung kesalahan raja.

Menurut jurnal Cultural Values of Reog Ponorogo dari UINSA, bulu merak yang jumlahnya 500–1000 helai menggambarkan kemewahan istana yang sebenarnya tidak berguna.

Sementara itu, warok (penari kuat tanpa kostum mencolok) melambangkan rakyat biasa yang punya keberanian dan kekuatan batin untuk melawan ketidakadilan.

Penari jathil dengan kuda lumping mewakili prajurit istana yang lebih jadi pajangan, karena gerakannya lembut dan tidak menunjukkan kemampuan bertarung.

Jurnal Symbolic Meaning and Function of Reog Ponorogo dari (Seybold Report turut menjelaskan bahwa musik gamelan degung dan tabuhan kendang yang cepat menciptakan suasana tegang seperti hendak berperang.

Namun, bagian akhirnya tetap harmonis sebagai simbol bahwa rakyat bisa menang tanpa harus menggunakan kekerasan. Ini menunjukkan bahwa seni juga bisa menjadi cara untuk melawan, bukan hanya senjata.

Reog pada Masa Kolonial: Bentuk Perlawanan Baru

Setelah runtuhnya Majapahit, Reog dipakai sebagai alat untuk melawan Belanda dan VOC. Jurnal The Influence of Islamic in Ritual Shifted of Reog Ponorogo oleh VVW Damayanti menjelaskan bahwa Reog Bulkiyo berasal dari pasukan Pangeran Diponegoro yang bersembunyi di Ponorogo.

Mereka menggunakan tarian ini untuk berkumpul diam-diam tanpa dicurigai Belanda. Pada masa Orde Lama, Reog sempat dilarang karena dianggap terkait PKI, tetapi masyarakat tetap menampilkannya secara sembunyi-sembunyi sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah saat itu.

Makna Reog untuk Masyarakat Ponorogo Sekarang

Saat ini, Reog mengajarkan anak muda tentang keberanian dan cara menyampaikan kritik sosial. Jurnal Art and Narrative in Reog Ponorogo dari JELE menjelaskan bahwa Reog dipakai untuk menyuarakan kritik terhadap masalah zaman sekarang seperti korupsi dan kerusakan lingkungan melalui tema-tema di parade festival.

Sekolah-sekolah di Ponorogo memasukkan Reog ke dalam pelajaran budaya, dan pesantren mengembangkan “Reog Islami” tanpa unsur mistik.

Baca juga: Asal Usul Reog Ponorogo dan Kisah di Balik Topengnya yang Penuh Misteri

(NDA)