Konten dari Pengguna

Mengenal Planet Tertua di Alam Semesta dan Karakteristiknya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi alam semesta. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi alam semesta. Foto: Unsplash

Di tengah miliaran bintang dan galaksi yang membentang luas, para astronom menemukan petunjuk menarik tentang planet tertua di alam semesta. Merujuk data dari NASA Hubble Space Telescope, planet tertua yang pernah ditemukan di alam semesta adalah PSR B1620-26 b, yang dijuluki "Methuselah" atau "Planet Genesis". Planet gas raksasa ini berusia sekitar 12,7 miliar tahun, hampir tiga kali lebih tua dari Bumi. Artikel ini akan menguraikan informasi lebih lanjut mengenai planet tertua yang ada di alam semesta.

Daftar isi

Profil Planet Tertua: PSR B1620-26 b atau Planet Methuselah

Salah satu kandidat planet tertua di alam semesta yang telah dikonfirmasi secara ilmiah adalah PSR B1620-26 b, yang dijuluki sebagai “Methuselah”.

Menurut data dari NASA’s Exoplanet Archive, planet ini ditemukan mengorbit dua bintang tua, yaitu sebuah pulsar (bintang neutron) dan bintang katai putih, di gugus bola M4 yang berjarak sekitar 12.400 tahun cahaya dari Bumi.

Gugus M4 terbentuk dari gas dan debu sisa ledakan besar (Big Bang). Karena itu, planet-planet yang berada di dalamnya kemungkinan besar memiliki komposisi unsur yang sangat berbeda dibandingkan planet muda seperti Bumi.

Karakteristik Planet Methuselah

Secara fisik, PSR B1620-26 b memiliki massa sekitar 2,5 kali massa Jupiter dan berjarak sekitar 23 kali jarak Bumi–Matahari dari sistem bintang ganda yang menjadi pusat orbitnya. Planet ini bukan planet batuan seperti Bumi, melainkan raksasa gas, serupa dengan Jupiter atau Saturnus.

Menurut data dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, orbit Methuselah cukup stabil meski berada di lingkungan dengan radiasi tinggi akibat kehadiran pulsar. Hal ini menunjukkan bahwa planet tersebut telah bertahan dalam kondisi ekstrem selama miliaran tahun, sesuatu yang menakjubkan dalam evolusi kosmik.

Apakah Planet Methuselah Dapat Dihuni?

Meskipun menarik dari sisi ilmiah, planet Methuselah tidak layak huni. Pulsar yang menjadi bintang induknya memancarkan radiasi sangat kuat, membuat suhu ekstrem dan kondisi atmosfer yang tidak stabil.

Merujuk studi dari Cornell University Library (arXiv), planet seperti Methuselah mungkin tidak memiliki atmosfer yang mampu menopang kehidupan seperti di Bumi.

Namun, keberadaannya menunjukkan bahwa pembentukan planet bisa terjadi lebih awal dari yang diperkirakan, membuka kemungkinan bahwa planet serupa Bumi mungkin sudah ada di masa awal alam semesta.

Kenapa Planet Tertua di Alam Semesta Disebut Methuselah?

Julukan “Methuselah” diberikan karena usia planet yang hampir setua dengan alam semesta itu sendiri. Jika Bumi baru berusia sekitar 4,5 miliar tahun, maka Methuselah telah ada tiga kali lebih lama. Fakta ini menjadikannya bukti bahwa pembentukan planet sudah dimulai tidak lama setelah ledakan besar (Big Bang).

Dikutip dari Astrophysical Journal Letters, keberadaan planet Methuselah menantang teori lama yang menyatakan bahwa planet hanya bisa terbentuk di lingkungan kaya logam. Dengan kata lain, bahkan di masa awal alam semesta, di mana unsur berat masih langka, proses pembentukan planet ternyata sudah mungkin terjadi.

Baca juga: Planet Luar: Pengertian, Jenis, dan Karakteristiknya dalam Tata Surya

(NDA)