Konten dari Pengguna

Mengulik Sejarah Garuda Wisnu Kencana: Ikon Budaya Bali yang Megah

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Garuda Wisnu Kencana. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Garuda Wisnu Kencana. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Garuda Wisnu Kencana (GWK) adalah salah satu ikon budaya terbesar di Indonesia yang terletak di Desa Ungasan, Bali. Patung monumental ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga simbol dari keberagaman budaya dan spiritualitas bangsa. Untuk memahami lebih jauh tentang karya agung ini, berikut sejarah Garuda Wisnu Kencana (GWK) sebagaimana dikutip dari laman Portal Informasi Indonesia dan GWK Cultural Park.

Awal Mula Gagasan dan Konsep GWK

Sejarah GWK dimulai dari ide brilian seorang seniman Bali yang ingin mengekspresikan kebanggaan budaya Indonesia melalui karya monumental:

  • Pada tahun 1989, I Nyoman Nuarta mengusulkan patung Dewa Wisnu menunggang Garuda sebagai simbol kebijaksanaan dan pelindung manusia.

  • Tujuan utamanya adalah menghadirkan landmark budaya yang mencerminkan identitas Indonesia dan menarik wisatawan internasional.

  • Usulan ini diterima Presiden Soeharto pada 1990, yang kemudian mendirikan Yayasan Garuda Wisnu Kencana untuk mewujudkan proyek bersejarah ini.

Tahapan Pembangunan dan Tantangan Sejarah

Sejarah pembangunan GWK adalah cermin perjuangan panjang yang melewati tantangan politik dan ekonomi Indonesia. Berikut tahapan pentingnya:

  • Peletakan batu pertama berlangsung pada 8 Juni 1997, menandai awal perjalanan fisik patung yang monumental.

  • Krisis moneter Asia 1997 menghentikan sementara proyek. Ini menunjukkan bagaimana faktor ekonomi memengaruhi sejarah pembangunan.

  • Pembangunan dilanjutkan pada 2013, dan akhirnya patung selesai pada 31 Juli 2018.

  • GWK diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 September 2018, dan menjadi puncak sejarah proyek yang memakan waktu 28 tahun.

Pengaruh Budaya Jepang dalam Arsitektur GWK

Sejarah pembangunan Garuda Wisnu Kencana (GWK) juga menunjukkan pengaruh teknik dari luar negeri yang membantu membuat patung ini semakin megah dan berkualitas.

Salah satu contohnya adalah penggunaan sistem modular dan teknik perakitan yang sangat presisi. Teknik tersebut mengingatkan pada metode konstruksi kuil Shinto di Jepang.

Pendekatan ini menunjukkan bagaimana adaptasi teknik global yang dapat diaplikasikan pada seni monumental Indonesia.

Makna Filosofis dan Akar Sejarah Hindu

Sejarah GWK bukan hanya tercermin dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari filosofi yang terkandung dalam mitologi Hindu. Patung Dewa Wisnu menunggangi Garuda menjadi simbol pelindung umat manusia dan kebijaksanaan yang abadi.

Berikut beberapa hal penting tentang filosofi patung ini dalam sejarah Hindu:

  • Garuda dikenal sebagai makhluk mitologi dengan kekuatan luar biasa.

  • Kesetiaannya kepada Wisnu mengajarkan nilai loyalitas, keberanian, dan kebijaksanaan.

  • GWK menjadi saksi sejarah bagaimana nilai-nilai spiritual dan budaya Indonesia diabadikan dalam bentuk monumental.

Simbol Sejarah dan Persatuan Bangsa

GWK tidak hanya mencatat sejarah pembangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol sejarah sosial dan budaya bangsa. Berikut beberapa makna utamanya:

  • Menjadi lambang keberagaman budaya Indonesia yang bersatu dalam harmoni.

  • Mengajarkan pentingnya nilai-nilai luhur dalam sejarah kehidupan berbangsa.

  • GWK membuktikan bahwa sejarah seni dan arsitektur dapat menjadi jembatan persatuan dan kebanggaan nasional.

Baca Juga: Mengulik Sejarah Monas, dari Pencetusan hingga Proses Pembangunannya