Konten dari Pengguna

Mengulik Sejarah Monas, dari Pencetusan hingga Proses Pembangunannya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Monas Foto: Shutter stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Monas Foto: Shutter stock

Monumen Nasional (Monas) merupakan bangunan yang didirikan untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Tugunya menjulang megah setinggi 132 meter di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Di bagian puncak tugu, terdapat mahkota lidah api yang dilapisi emas. Ini merupakan simbol perjuangan rakyat yang membara. Sedangkan di bagian dasar monumen terdapat Museum Sejarah Nasional yang menampilkan sejarah bangsa sejak masa pra sejarah hingga Orde Baru.

Untuk memahami simbol perjuangan bangsa tersebut, simak sejarah Monas selengkapnya berikut ini.

Pencetus Ide Pembangunan Monas

Dikutip dari buku Mengenal Lebih Dekat: Bangunan Bersejarah Indonesia susunan Nunung Marzuki, ide pembangunan Monas dicetuskan oleh presiden pertama RI, yaitu Ir. Soekarno.

Gagasan ini muncul setelah HUT ke-9 RI. Kemudian dibentuklah Panitia Tugu Nasional yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu terkait pembangunan Monas, termasuk biaya yang dikumpulkan dari masyarakat.

Setelah itu, dibentuk lagi panitia pembangunan yang dipimpin langsung oleh Ir. Soekarno bernama ”Tim Yuri”. Tim ini menyelenggarakan sayembara desain bangunan Monas sebanyak dua kali.

Sayembara pertama digelar pada 17 Februari 1955, dan yang kedua pada 10 Mei 1960. Namun, tidak ditemukan rancangan bangunan yang memenuhi kriteria panitia.

Penunjukkan Arsitek

Akhirnya, ketua Tim Yuri yang tak lain adalah Soekarno menunjuk beberapa arsitek ternama untuk merancang Monas, yaitu Soedarsono dan Frederich Silaban. Keduanya membuat rancangan gambar masing-masing, kemudian diajukan ke Soekarno.

Soekarno memilih gambar yang dibuat Soedarsono. Dalam rancangannya, Soedarsono mengemukakan landasan pemikiran yang sesuai dengan kriteria panitia, yakni nasionalisme.

Dikutip dari laman Badan Sertifikasi Kadin DKI Jakarta, rancangan Soedarsono memuat unsur Proklamasi Kemerdekaan RI, yaitu angka 17, 8, dan 45 yang merupakan Hari Proklamasi.

Proses Pembangunan Monas

Pembangunan tugu Monas dilakukan dalam tiga tahap, berikut rinciannya:

Tahap Pertama (1961-1965)

Tahap pertama pembangunan berada di bawah pengawasan Panitia Monumen Nasional. Soekarno menancapkan pasak beton pertama untuk menandakan dimulainya pembangunan. Kala itu, biaya pembangunan masih bersumber dari sumbangan masyarakat.

Tahap Kedua (1966-1968)

Pengerjaan tahap kedua masih dilakukan di bawah pengawasan Panitia Monumen Nasional. Hanya saja, biaya pembangunannya mulai dibantu pemerintah pusat, tepatnya Sekretariat Negara RI. Namun, pada tahap ini, pembangunan mulai mengalami kelesuan karena keterbatasan biaya.

Tahap Ketiga (1969-1976)

Pada tahap ketiga ini, pembangunan berada di bawah pengawasan Panitia Pembina Tugu Nasional. Biaya yang digunakan bersumber dari Direktorat Jenderal Anggaran melalui Repelita dengan menggunakan Daftar Isian Proyek (DIP).

Detail Bangunan Monas

Bentuk Tugu Monas berupa batu obelisk yang terbuat dari marmer. Tugu ini mengandung falsafah “Lingga Yoni”. Lingga berarti alu atau anatan, sedangkan yoni adalah lumbung. Keduanya melambangkan kesuburan bumi Indonesia.

Pada bagian puncaknya, terdapat cawan untuk menopang lidah api yang sedang menyala. Lidah api berdiameter 6 m tersebut terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton yang dilapisi emas 35 kg.

Lidah apinya dinamakan Api Nan Tak Kunjung Padam, menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia yang tak pernah surut sepanjang masa. Jadi, jika dilihat sepintas, bentuk Monas menyerupai sebatang obor dengan api yang tengah berkobar.

Baca Juga: Filosofi Monas dan Gedung DPR yang Mendalam sebagai Pengharapan untuk Bangsa