Pengaruh Polusi terhadap Tumbuhan yang Bisa Mengancam Ekosistem

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Polusi udara memberikan dampak besar bagi tumbuhan yang berperan penting sebagai penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen. Menurut Airly, polutan seperti ozon tingkat permukaan dapat menghambat fotosintesis, menunda pembungaan, dan merusak akar akibat polutan yang terserap ke tanah. Kerusakan ini mempercepat perubahan iklim karena semakin banyak tumbuhan tidak dapat menjalankan fungsi ekologisnya. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut seputar pengaruh polusi terhadap tumbuhan yang dapat menjadi ancaman serius bagi ekosistem.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Gangguan Fotosintesis
Fotosintesis sangat rentan terhadap polusi udara. US EPA menyatakan bahwa ozon dan nitrogen oksida mengganggu metabolisme daun dan menghambat fiksasi karbon bersih. Selain itu, penelitian PubMed menunjukkan bahwa polutan merusak kutikula daun, mempengaruhi konduktansi stomata, serta memengaruhi sistem fotosintesis dan umur daun.
Polutan seperti smog menghalangi cahaya matahari dan meninggalkan residu berbahaya pada daun, menurunkan kemampuan tumbuhan menghasilkan makanan. Penurunan fotosintesis sebesar 10 persen bahkan dapat menurunkan hasil panen 5–8 persen.
Kerusakan Daun dan Klorofil
Polutan udara juga merusak struktur daun secara fisik. Ozon menimbulkan kerusakan oksidatif pada membran sel, mengganggu integritasnya. Daun yang terpapar polusi juga dapat mengalami penurunan klorofil a, klorofil b, dan karotenoid.
Sulfur dioksida dari hujan asam pun bisa menyebabkan klorosis atau perubahan warna daun akibat kekurangan klorofil. Di wilayah dengan ozon tinggi, bintik-bintik nekrotik sering muncul karena jaringan daun mati.
Gangguan Fungsi Stomata
Stomata berfungsi sebagai pintu pertukaran gas, tetapi polusi dapat menghambat kinerjanya. Airly menyebutkan bahwa meningkatnya polusi membuat ukuran stomata mengecil sehingga mengurangi pertukaran gas dan menghambat fotosintesis.
Sulfur dioksida juga dapat mengganggu pembukaan stomata dan menyebabkan tumbuhan kehilangan banyak air, membuatnya lebih rentan terhadap stres panas dan kekurangan nutrisi.
Ozon sebagai Polutan Paling Berbahaya
Ozon dianggap sebagai polutan paling merusak vegetasi. Itu karena ozon bersifat sangat fitotoksik karena efek oksidatif langsung pada fotosintesis dan respirasi. ScienceDirect menegaskan bahwa sekitar 90 persen kerugian hasil panen akibat polusi udara berasal dari ozon.
Dampaknya termasuk bintik klorotik, lesi nekrotik, degradasi klorofil, penutupan stomata, peroksidasi lipid membran, penuaan dini, dan meningkatnya kerentanan terhadap hama serta penyakit.
Penurunan Pertumbuhan dan Produktivitas
Menurut Vedantu, polusi udara menyebabkan efisiensi fotosintesis menurun secara konsisten, menghasilkan tanaman yang lebih kecil dengan biomassa rendah. Dampak ekonominya mencakup penurunan ukuran buah, sedikitnya jumlah biji, dan menurunnya kualitas nutrisi.
Potensi kerusakan pertanian juga bisa meningkat secara global jika emisi gas berbahaya tidak dikendalikan. Nitrogen dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil memperburuk hambatan pertumbuhan ini.
Dampak pada Reproduksi dan Ekosistem
Polusi udara juga merusak kemampuan reproduksi tumbuhan. Oizom melaporkan bahwa polutan mengubah integritas serbuk sari dan melemahkan fungsinya, mengganggu regenerasi tumbuhan. Dampaknya meluas ke ekosistem, seperti herbivora kekurangan makanan dan predator kehilangan sumber pangan. Di AS, tumbuhan seperti black cherry mengalami kerusakan daun parah di wilayah ber-ozon tinggi.
Baca juga: Ciri-Ciri Udara yang Mengandung Banyak Polutan, Kenali Sebelum Terlambat!
(NDA)
