Penyebab Utama dan Modus Serangan Bom JW Marriott Jakarta

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 2003 dan 2009, Hotel JW Marriott di Jakarta menjadi sasaran aksi teror bom, yang kemudian tercatat sebagai babak kelam dalam sejarah terorisme Indonesia. Kedua peristiwa tersebut merupakan aksi bom bunuh diri yang dirancang dengan perencanaan matang oleh jaringan teroris Jamaah Islamiyah. Mari simak penyebab utama dan modus serangan bom JW Marriott Jakarta berikut ini.
Penyebab Utama Aksi Serangan Bom JW Marriot
Dikutip dari jurnal Titik Temu Fundamentalisme, Radikalisme, dan Terorisme Gerakan Jamaah Islamiyah (JI) susunan M. Hasan Syamsudin, beberapa faktor penyebab utama yang memungkinkan terjadinya aksi pengeboman di JW Marriott Hotel Jakarta, adalah sebagai berikut:
Terdapat dorongan ideologis yang kuat berupa doktrin syahid (“martyrdom”) dan “jihad fī sabīlillāh” yang dianut dalam kelompok JI. Mereka memiliki keyakinan bahwa kekerasan (perang suci) adalah jalan untuk mencapai tujuan.
Selain itu, JI memiliki hubungan dengan Al‑Qaeda dan memanfaatkan pelatihan serta jaringan lintas negara. Hal ini memperkuat kemampuan taktis mereka untuk merencanakan dan melancarkan serangan berskala besar.
Motif Dibalik Pemilihan Target
Peledakan bom di JW Marriott tidak dilakukan secara kebetulan, pemilihan target memiliki alasan strategis yang jelas. Berikut motif utamanya:
Hotel JW Marriott adalah simbol global dan sering dipakai untuk aktivitas diplomatik atau korporasi asing , sehingga menjadikannya “lambang” liberalisme Barat atau kehadiran AS.
Lokasi hotel berada di kawasan “segitiga emas” Jakarta, dekat kedutaan besar, pejabat, dan kantor asing , karena itu potensi korban non‐WNI dan perhatian internasional lebih besar.
Kelompok teroris ingin menunjukkan eksistensi dan menyampaikan pesan untuk melawan keberadaan AS dan sekutunya di Indonesia.
Modus Serangan Bom JW Marriot
Berikut rangkaian modus yang digunakan para pelaku sebelum melakukan aksi pengeboman:
Kasus JW Marriott 2003
Modus pengeboman Hotel JW Marriott di Jakarta tahun 2003 adalah bom bunuh diri yang menggunakan mobil Toyota Kijang. Mobil tersebut dilaporkan memuat bahan peledak seperti TNT dan RDX, yang menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang.
Kasus Bom JW Marriott 2009
Pada pengeboman tahun 2009, para pelaku menggunakan modus baru yang lebih cerdik dengan menyamar sebagai tamu hotel. Dua pelaku bom bunuh diri menyewa satu kamar, nomor 1808, di hotel JW Marriott.
Sementara di hotel The Ritz-Carlton, tidak ada kamar yang disewa. Dari kamar 1808 tersebut, pelaku keluar dengan membawa tas berisi bom, kemudian meledakkan diri di JW Lounge saat waktu makan siang.
Jaringan teroris: Jemaah Islamiyah (JI) dan afiliasinya
Pelaku pengeboman Hotel JW Marriott di Jakarta memiliki keterkaitan erat dengan jaringan teroris Jemaah Islamiyah (JI), yang juga berafiliasi dengan Al-Qaeda.
Menurut laman Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, tujuan utama kelompok ini adalah mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia sekaligus memperluas pengaruhnya ke wilayah lain di Asia Tenggara. Wilayah pengaruh JI di antaranya mencakup Indonesia, Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina Selatan.
Pada awal berdirinya, JI sempat menganjurkan penggunaan jalur damai untuk mencapai tujuan mereka. Namun, pada pertengahan 1990-an, kelompok ini beralih menggunakan aksi kekerasan sebagai strategi utama.
Operator JI mendapatkan pelatihan di kamp-kamp khusus di Afghanistan dan Filipina Selatan, dan mulai melancarkan serangan sejak tahun 1999.
Sejak 2002, pemerintah-pemerintah di Asia Tenggara telah menangkap lebih dari 300 tersangka teroris, dan secara signifikan melemahkan jaringan ini. Meski demikian, JI tetap dianggap sebagai ancaman serius di kawasan.
Baca Juga: Nilai Kerugian Materi Kerusakan Hotel JW Marriott Jakarta 2003 dan 2009
