Peran KH Ahmad Dahlan dalam Pembaharuan Pendidikan di Indonesia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peran KH Ahmad Dahlan dalam pembaharuan pendidikan di Indonesia sangatlah besar, terutama di bidang pendidikan Islam. Pada masa kolonial Belanda, pendidikan Islam di Indonesia masih didominasi oleh sistem pesantren tradisional yang fokus pada ilmu agama saja. Namun, KH Ahmad Dahlan melihat bahwa sistem tersebut belum cukup untuk menghadapi tantangan di masa tersebut. Menurutnya, umat Islam harus dibekali ilmu agama sekaligus ilmu umum agar umat tidak tertinggal, mampu berpikir maju, mandiri, dan bisa bersaing di tengah perubahan zaman. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut peran KH Ahmad Dahlan dalam memperbarui sistem pendidikan di Indonesia.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pendirian Madrasah Modern Muhammadiyah
Langkah nyata KH Ahmad Dahlan dalam pembaharuan pendidikan dimulai dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 11 Desember 1911 di rumahnya di Kauman, Yogyakarta.
Berdasarkan keterangan dari situs resmi Muhammadiyah, madrasah ini menggunakan sistem pendidikan modern ala Barat, seperti penggunaan meja, kursi, dan papan tulis.
Meski memakai sistem modern, pelajaran agama tetap menjadi bagian utama dalam proses belajar mengajar. Buku Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam dalam Tradisi Muhammadiyah karya Dr. H. Abdul Rahman, M. Pd. I dan Dr. H. Nelson, M.Pd.I menjelaskan bahwa madrasah ini menjadi pelopor sekolah Islam terpadu di Indonesia, karena mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung bersamaan dengan pelajaran Al-Qur’an dan hadis.
Integrasi Pendidikan Agama dan Umum
KH Ahmad Dahlan tidak hanya mendirikan sekolah sendiri, tetapi juga aktif mengajarkan pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda. Hal ini dilakukan secara sukarela agar nilai-nilai Islam bisa masuk ke dalam pendidikan umum.
Alasannya karena menurut beliau pendidikan harus mampu membebaskan umat Islam dari takhayul, bid’ah, dan cara berpikir yang tertinggal.
Dalam buku Mengenal Tokoh Filsafat Muslim dan Pemikiran Kontemporer karangan Abu Bakar Dja'far, S.Ag, MA dan Dr. Yunus, S.Pd.I, M.Pd.I dijelaskan pula bahwa sekolah Muhammadiyah bersifat terbuka bagi siapa saja. Tidak hanya laki-laki, perempuan dan kaum miskin juga diberi kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Pengembangan Sekolah Lanjutan Muhammadiyah
Pada tahun 1919, KH Ahmad Dahlan mendirikan Pesantren Qismul Arqa yang kemudian berkembang menjadi Kweekschool Muallimin, yaitu sekolah khusus untuk mencetak guru Muhammadiyah.
Mengacu pada situs Muhammadiyah, sekolah ini bertujuan melahirkan tenaga pendidik yang menguasai ilmu agama sekaligus metode pengajaran modern.
Penelitian berjudul Kontribusi Pemikiran KH Ahmad Dahlan terhadap Pembaharuan Pendidikan Islam yang diterbitkan oleh e-jurnal IAIN Sorong menegaskan bahwa lembaga pendidikan guru ini berperan besar dalam melahirkan ribuan sekolah Muhammadiyah yang tersebar hingga ke pelosok Indonesia.
Dampak Jangka Panjang Reformasi Pendidikan
Menurut buku Tokoh-Tokoh Pendidikan Islam di Indonesia karya H. Herri Azhari, M.Ag, perjuangan KH Ahmad Dahlan berhasil menghapus pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan umum.
Bahkan, model pendidikan yang memadukan ilmu agama dan umum ini pun akhirnya menjadi inspirasi bagi sistem pendidikan di Indonesia secara nasional.
Hingga kini, Muhammadiyah mengelola puluhan ribu lembaga pendidikan, mulai dari PAUD, sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.
Hasilnya, banyak lulusan Muhammadiyah yang berkontribusi aktif di berbagai bidang kehidupan masyarakat, baik di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun pemerintahan.
Baca juga: Perjuangan Sisingamangaraja XII Melawan Belanda yang Diakui Negara
(NDA)
