Konten dari Pengguna

Perjuangan Sisingamangaraja XII Melawan Belanda yang Diakui Negara

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perang melawan Belanda. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perang melawan Belanda. Foto: Unsplash

Perjuangan Sisingamangaraja XII melawan Belanda adalah salah satu episode penting dalam sejarah perlawanan rakyat di Sumatra Utara. Selama hampir tiga dekade, raja Batak terakhir ini memimpin perang panjang melawan ekspansi kolonial yang mengancam kedaulatan adat, tanah ulayat, dan keyakinan masyarakat Batak. Dalam buku Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia karya Lia Nuralia, perjuangan Sisingamangaraja XII digambarkan sebagai simbol keteguhan hati untuk tidak tunduk kepada Belanda meski dikepung dari berbagai arah. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut kisah Sisingamangaraja XII dalam melawan Belanda.

Daftar isi

Latar Belakang Perang Batak dan Sikap Sisingamangaraja XII

Awal konflik terjadi ketika Belanda memperluas kekuasaan ke pedalaman Tapanuli dan Tanah Batak pada akhir abad ke-19. Pasukan kolonial masuk melalui misi zending dan pendirian benteng-benteng baru di Silindung dan sekitarnya, yang dianggap mengancam kedaulatan raja-raja Batak dan tatanan kepercayaan tradisional.

Dalam buku Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap karya Mirnawati diberitahukan bahwa Sisingamangaraja XII menolak keras penarikan pajak, kerja paksa, serta upaya Belanda memaksakan pengaruh lewat lembaga pendidikan dan agama, sehingga ia memilih jalan perlawanan bersenjata.

Pada 16 Februari 1878, ia mengumumkan perang (pulas) setelah pasukan Belanda membangun benteng di Bahal Batu, menandai dimulainya Perang Batak secara terbuka.

Strategi Perjuangan Sisingamangaraja XII Melawan Belanda

Sisingamangaraja XII tidak menghadapi Belanda dengan perang terbuka semata, melainkan mengandalkan taktik gerilya memanfaatkan kondisi geografis pegunungan Tapanuli.

Laporan sejarah yang dihimpun Kementerian Pendidikan dalam naskah Sisingamangaraja di Repositori Kemendikdasmen menyebut bahwa pasukan Batak menyerang pos-pos Belanda di Uluan, Balige, dan Tangga Batu pada awal 1880-an, lalu segera mundur ke daerah yang sulit dijangkau.

Taktik perang Sisingamangaraja XII menggambarkan bagaimana serangan kilat ke pos Belanda di Silindung dan Lobu Talu membuat Belanda harus mengerahkan lebih banyak pasukan guna mengamankan jalur komunikasi dan logistik mereka di Tanah Batak. Strategi ini membuat perlawanan bertahan lama, meski persenjataan rakyat jauh lebih sederhana dibandingkan senjata modern Belanda.

Jaringan Perlawanan dan Dukungan dari Aceh

Perjuangan Sisingamangaraja XII tidak berdiri sendiri. Ia membangun jaringan dengan pejuang dari Aceh yang sama-sama menolak dominasi Belanda di Sumatra bagian utara.

Pasukan Aceh membantu melatih laskar muda Batak, membangun markas gerilya, dan ikut serta menyerang sekolah serta pos zending Belanda di wilayah Dairi.

Jurnal Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga karya Nuril Fajri, dkk juga menyoroti bahwa aliansi ini menjadi simbol perlawanan lintas etnis dan agama, di mana persatuan dibangun atas dasar kepentingan bersama mempertahankan tanah dan martabat, bukan semata-mata faktor kesukuan. Kolaborasi ini memperkuat posisi Sisingamangaraja XII sebagai pemimpin regional yang disegani Belanda.

​Akhir Perjuangan dan Warisan Sisingamangaraja XII

Setelah bertahun-tahun memburu, Belanda akhirnya berhasil mengepung Sisingamangaraja XII dan pasukannya di daerah Si Onom Hudon, Dairi, pada 17 Juni 1907. Dalam pertempuran sengit itu, Sisingamangaraja XII gugur bersama beberapa anggota keluarganya, sebagaimana dicatat dalam naskah Sisingamangaraja terbitan Kemendikbud.

Meski secara militer perlawanan ini berakhir, jejak perjuangannya diakui negara ketika Presiden Republik Indonesia menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada 9 November 1961, pengakuan yang juga disorot dalam berbagai publikasi sejarah nasional.

Kisah Sisingamangaraja XII diajarkan kepada generasi muda sebagai teladan keberanian, keteguhan iman, dan kesetiaan pada tanah air di tengah tekanan kolonial yang sangat kuat.

Baca juga: Mengapa Belanda Menerapkan Sistem Tanam Paksa pada Abad ke-19? Ini Alasannya

(NDA)​