Peran Pelabuhan Sunda Kelapa dalam Perdagangan Nusantara

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelabuhan Sunda Kelapa telah dikenal sebagai pusat perdagangan sejak masa kolonial Belanda. Seiring perjalanan waktu, fungsinya terus berubah dari satu era ke era berikutnya. Saat ini, pelabuhan ini berperan sebagai pelabuhan angkutan antarpulau, pelabuhan pelayaran rakyat, sekaligus kawasan wisata bersejarah. Untuk memahami lebih jauh peran Pelabuhan Sunda Kelapa dalam perdagangan Nusantara, simak pembahasan lengkap berikut ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Pusat Jalur Perdagangan Nusantara
Sunda Kelapa memainkan peranan penting dalam arus perdagangan internasional. Letaknya yang strategis di pesisir Pantai Utara menjadikannya salah satu pelabuhan paling sibuk sejak berabad-abad lalu.
Mengutip laman Pelindo, Sunda Kelapa mulai dikenal pada abad ke-12 sebagai pelabuhan yang kerap disinggahi kapal-kapal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah. Mereka membawa porselen, kopi, kain sutra, serta berbagai barang mewah lain untuk ditukar dengan rempah-rempah dan hasil perkebunan Nusantara. Aktivitas perdagangan ini membuat Sunda Kelapa tumbuh menjadi penopang ekonomi penting di kawasan Asia.
2. Kekuatan Ekonomi Kerajaan Sunda
Pada masa Kerajaan Sunda, Sunda Kelapa menjadi pelabuhan utama dan terpenting dibanding pelabuhan lainnya. Lokasinya berada di sekitar muara Sungai Ciliwung serta terlindungi oleh pulau-pulau di sekitarnya.
Dalam buku Budaya Bahari karya Djoko Pramono dijelaskan bahwa pada masa Prabu Siliwangi, Kerajaan Sunda telah mengenal teknologi kelautan berupa sistem irigasi laut. Dibangun saluran atau kanal yang menghubungkan wilayah pesisir dengan pedalaman agar kapal berukuran kecil dapat melintas membawa hasil pertanian ke Sunda Kelapa. Pelabuhan ini berperan besar sebagai bandar kerajaan yang menjadi kekuatan ekonomi Kerajaan Sunda.
Namun, dominasi Kerajaan Sunda berakhir pada 1527 ketika pasukan Demak dan Cirebon berhasil merebut Sunda Kelapa. Atas kemenangan tersebut, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, menandai babak baru dalam sejarah pelabuhan ini.
3. Pelabuhan Antarpulau di Nusantara
Saat ini pengelolaan Pelabuhan Sunda Kelapa berada di bawah BUMN PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Berdasarkan laman resminya, Sunda Kelapa kini berfungsi sebagai pelabuhan bongkar muat barang dan peti kemas.
Pelabuhan ini disinggahi kapal-kapal antarpulau serta pelayaran rakyat (Pelra) yang menggunakan kapal Phinisi atau Bugis Schooner dengan bentuk khasnya. Komoditas yang diangkut meliputi kayu, bahan kebutuhan pokok, barang kelontong, hingga bahan bangunan. Banyak barang dari Pulau Jawa dikirim ke Sulawesi, Kalimantan, Maluku, hingga Papua melalui pelabuhan ini.
4. Sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa
Secara historis, pelabuhan ini diyakini telah ada sejak abad ke-5 di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara. Memasuki abad ke-12, Sunda Kelapa mulai berada di bawah Kerajaan Sunda dan berkembang sangat pesat.
Dalam perkembangannya, Sunda Kelapa juga menjadi pusat penting bagi perdagangan VOC. Berdasarkan buku Taman Arkeologi Onrust karya Maria Puspitasari, VOC merencanakan Jayakarta sebagai pusat perdagangan melalui perjanjian yang ditandatangani pada 13 November 1610 oleh Jacques L’Hermite, wakil VOC dan Pangeran Wijayakrama dari Kesultanan Banten. VOC diberi hak membangun loji atau gudang dagang di sebelah timur Sungai Ciliwung.
Pada awalnya perjanjian ini berjalan lancar. Namun seiring waktu, VOC tidak hanya berdagang tetapi juga membangun benteng pertahanan untuk kepentingan militernya. Ketegangan meningkat dan memicu pertempuran. Pada 30 Mei 1619, VOC di bawah komando J.P. Coen berhasil menghancurkan Jayakarta dan memukul mundur pasukan Kesultanan Banten.
Setelah kemenangan tersebut, J.P. Coen memerintahkan pembangunan benteng baru dan menamai kota itu menjadi Batavia. Di bawah kekuasaan Belanda, Pelabuhan Sunda Kelapa direnovasi besar-besaran.
Baca Juga: Sejarah Pelabuhan Tanjung Priok yang Dibangun di Era Hindia Belanda
(SA)
