Sejarah Pelabuhan Tanjung Priok yang Dibangun di Era Hindia Belanda

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelabuhan Tanjung Priok yang berlokasi di Jakarta Utara merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia. Pelabuhan ini menjadi pintu utama arus keluar masuk barang, baik ekspor–impor maupun distribusi antar pulau. Sejarah Pelabuhan Tanjung Priok sendiri dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda di abad ke-19 karena meningkatnya aktivitas perdagangan di masa itu. Simak uraian selengkapnya mengenai proses pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok di bawah ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Latar Belakang Berdirinya Pelabuhan Tanjung Priok
Pada awal abad ke-19, perdagangan di Batavia berkembang pesat. Pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu menjadi pelabuhan utama dianggap tidak lagi mampu menampung lonjakan lalu lintas kapal, terutama setelah dibukanya Terusan Suez.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah kolonial Belanda memutuskan membangun pelabuhan baru sebagai pengganti Sunda Kelapa yang terlalu sempit. Lokasi yang dipilih berada kurang lebih 9 km di sebelah timur Sunda Kelapa, yang kemudian dikenal sebagai kawasan Tanjung Priok.
2. Pembangunan Besar-besaran Secara Bertahap
Pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok dilakukan secara bertahap dan memakan waktu puluhan tahun. Perencana utamanya adalah Ir. J.A.A Waldrop, seorang insinyur Belanda, sedangkan pelaksanaan teknis dipimpin oleh Ir. J.A. de Gelder. Menurut buku Ekonomi Lingkungan Pelabuhan: Konsep dan Aplikasi oleh Suwardi dan Tika Widiastuti, pembangunan pelabuhan ini terdiri dari beberapa periode sebagai berikut:
Periode I: Pembangunan tahap pertama dimulai pada tahun 1877 di bawah Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge. Fokus pembangunan berada pada pembuatan kolam pelabuhan untuk tempat singgah kapal dagang dan kapal pengangkut batu bara. Tahap ini selesai pada tahun 1883.
Periode II: Periode kedua selanjutnya dibangun kolam Pelabuhan tahun 1914 karena kebutuhan akan ruang kapal. Pembanguan memakan waktu 3 tahun. Kondisi pelabuhan kini menjadi lebih luas.
Periode III: Pembangunan kolam pelabuhan berlanjut pada tahun 1921, namun kemudian terhenti akibat wabah malaria. Pekerjaan dilanjutkan kembali pada 1929 dan selesai pada tahun 1932.
3. Peresmian Pelabuhan Tanjung Priok
Merujuk buku Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia karya Didik Pradjoko dan Bambang Budi Utomo, Pelabuhan Tanjung Priok resmi dioperasikan pada tahun 1886. Setelah peresmian tersebut, seluruh kegiatan ke pelabuhanan di Batavia yang sebelumnya berada di sekitar muara Sungai Ciliwung dialihkan ke pelabuhan baru ini. Pelabuhan lama yang dikenal sebagai Pelabuhan Pasar Ikan kemudian pada tahun 1974 kembali menggunakan nama Pelabuhan Sunda Kelapa.
4. Asal Usul Nama Pelabuhan Tanjung Priok
Menurut buku Pemeriksaan Keimigrasian di Pelabuhan Tanjung Priok karya Fauzhan Akbar Fhazmie Basha, nama “Tanjung Priok” berasal dari dua kata yaitu tanjung yaitu daratan yang menjorok ke laut, dan priok atau periuk suatu wadah dari tanah liat yang dulu menjadi komoditas perdagangan.
Ada juga pendapat lain yang mengaitkan nama ini dengan Aki Tirem, seorang penghulu di Warakas yang terkenal sebagai pembuat periuk. Pendapat ketiga menyebut bahwa nama Tanjung Priok dikaitkan dengan legenda Mbak Priok, tokoh lokal yang ceritanya berkembang di masyarakat pesisir.
Baca Juga: Mengapa Candi Muaro Jambi Disebut Kompleks Candi Terbesar di Asia Tenggara?
(SA)
