Konten dari Pengguna

Perbedaan Senyawa Organik dan Anorganik dalam Kehidupan Sehari-hari

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi senyawa organik dan anorganik. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi senyawa organik dan anorganik. Foto: Unsplash

Senyawa kimia secara umum terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu senyawa organik dan senyawa anorganik. Perbedaan senyawa organik dan anorganik bisa dilihat dari sifat, komposisi, hingga sumber asalnya. Untuk membantu memahami perbedaan keduanya, berikut penjelasan lengkap yang dirangkum dari laman Chemistry Hall serta bukuberjudul Kimia Organik karya Muhammad Said Siregar dan Desi Ardilla.

1. Kestabilan Termal

Perbedaan pertama dapat dilihat dari bagaimana kedua jenis senyawa bertahan terhadap panas.

  • Senyawa organik: Kurang stabil terhadap pemanasan.

  • Senyawa anorganik: Stabil terhadap pemanasan, tidak mudah rusak, dan tetap bertahan meski dipanaskan pada suhu tinggi.

2. Titik Cair dan Titik Didih

Sifat senyawa juga bisa dibandingkan melalui titik cair dan titik didihnya.

  • Senyawa organik: Memiliki titik cair dan titik didih yang rendah.

  • Senyawa anorganik: Memiliki titik cair dan titik didih yang tinggi.

3. Elemen Penyusun

Unsur pembentuk menjadi faktor utama yang membedakan senyawa organik dan anorganik.

  • Senyawa organik: Sebagian besar terdiri dari karbon dan hidrogen, serta bisa juga mengandung oksigen, nitrogen, halogen, fosfor, dan unsur lain.

  • Senyawa anorganik: Dapat mengandung berbagai unsur kimia. Hampir setiap unsur dalam tabel periodik bisa membentuk senyawa anorganik.

4. Kelarutan

Perbedaan juga terlihat dari jenis pelarut yang sesuai bagi kedua senyawa.

  • Senyawa organik: Lebih mudah larut dalam pelarut nonpolar, misalnya alkohol.

  • Senyawa anorganik: Lebih mudah larut dalam pelarut polar, misalnya air.

5. Kecepatan Reaksi

Kecepatan reaksi kimia menjadi aspek lain yang menunjukkan perbedaan keduanya.

  • Senyawa organik: Umumnya bereaksi lebih lambat.

  • Senyawa anorganik: Cenderung bereaksi lebih cepat.

6. Ikatan Kimia

Jenis ikatan yang terbentuk di dalam molekulnya pun sangat berbeda.

  • Senyawa organik: Membentuk ikatan kovalen.

  • Senyawa anorganik: Jenis ikatan kimianya sebagian besar membentuk ikatan ion.

7. Adanya Isomer

Variasi struktur senyawa juga menjadi salah satu ciri pembeda. Berikut penjelasannya.

  • Senyawa organik: Memiliki banyak variasi isomer (senyawa dengan rumus molekul sama, tetapi struktur berbeda).

  • Senyawa anorganik: Jumlah isomernya terbatas.

8. Reaksi Samping

Reaksi ketika dibakar atau dipanaskan juga menunjukkan perbedaan sifat keduanya.

  • Senyawa organik: Mudah terbakar dan menghasilkan karbon (arang) atau gas CO₂.

  • Senyawa anorganik: Tidak mudah terbakar dan umumnya tidak menghasilkan karbon ata gas karbondioksida saat dibakar.

9. Nilai Kondukvititas

Daya hantar listrik menjadi salah satu sifat penting untuk dibandingkan.

  • Senyawa organik: Tidak menghantarkan listrik karena tidak membentuk ikatan ion.

  • Senyawa anorganik: Beberapa mampu menghantarkan listrik karena ion-ion bebasnya dapat bergerak dalam larutan.

10. Konduktivitas Garamnya

Garam pada senyawa organik dan anorganik juga memiliki perbedaan sifat.

  • Senyawa organik: Bersifat non-elektrolit.

  • Senyawa anorganik: Banyak yang bersifat elektrolit.

11. Sumber Senyawa

Sumber senyawa menjadi ciri khas yang jelas membedakan keduanya, antara lain:

  • Senyawa organik:Dihasilkan dari organisme hidup, misalnya akar, batang, daun, biji, atau bagian tubuh hewan seperti lemak, tulang, dan sekresi.

  • Senyawa anorganik: Umumnya diperoleh dari benda mati atau sumber mineral di alam.

12. Contoh Senyawa

Berikut contoh jenis senyawa organik dan anorganik yang mudah ditemui di sekitar .

  • Senyawa organik: Asam nukleat, lemak, gula, protein, enzim, benzena (C₆H₆), metana (CH₄), etanol (C₂H₆O).

  • Senywa anorganik: Garam dapur (NaCl), karbon dioksida (CO₂), baking soda (NaHCO₃), perak, sulfur.

Baca Juga: Cara Terbentuknya Angin Fohn dan Dampak yang Ditimbulkannya

(SA)