Perkembangan Tulisan dan Aksara Lokal Sebelum Aksara Latin Masuk Indonesia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum huruf Latin menjadi standar penulisan modern, masyarakat di berbagai wilayah Nusantara telah memiliki sistem aksara lokal yang berkembang secara turun-temurun. Setiap aksara lahir dari kebutuhan mencatat peristiwa penting, menyusun aturan adat, hingga menyebarkan ajaran kepercayaan. Artikel ini menguraikan perjalanan perkembangan tulisan dan aksara lokal sebelum aksara Latin masuk Indonesia.
1. Pengaruh India sebagai Fondasi Aksara Lokal
Kontak dagang dan penyebaran agama antara Nusantara dan India sebelum abad ke-8 membawa perubahan besar dalam budaya lokal, salah satunya melalui masuknya aksara Pallawa. Aksara ini merupakan turunan dari aksara Brahmi di India.
Dalam buku Tata Bahasa Jawa Kuna karya Miswanto, pengaruh budaya India terlihat jelas pada keberadaan prasasti-prasasti awal yang ditulis dengan aksara Pallawa. Contohnya, Prasasti Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur dan Prasasti Tarumanegara, di Jawa Barat, yang ditemukan pada abad ke-5.
Aksara Pallawa berkembang seiring tumbuhnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Nusantara. Aksara ini dianggap sangat penting dalam sejarah Indonesia karena menjadi induk dari banyak aksara lokal di berbagai daerah.
2. Masa Emas Aksara Kawi
Aksara Pallawa kemudian bertransformasi menjadi aksara Kawi. Mengutip buku Lemuria Indonesia karya Santo Saba Piliang, aksara Kawi berkembang sejak abad ke-8 hingga abad ke-16 dan banyak digunakan di wilayah Jawa dan Bali.
Aksara Kawi dipakai untuk menulis bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Dalam perkembangannya, aksara inilah yang kemudian menjadi pendahulu dari berbagai aksara tradisional Indonesia, seperti aksara Jawa, Bali, Sunda, dan beberapa aksara lainnya.
3. Munculnya Aksara-Aksara Lokal di Nusantara
Perpaduan antara aksara-aksara awal melahirkan ragam aksara lokal di berbagai daerah. Berdasarkan buku Aksara-Aksara di Nusantara: Seri Baca Tulis karya Ridwan Maulana, berikut beberapa contoh aksara tradisional yang berkembang:
Aksara Jawa: Aksara Jawa merupakan turunan langsung dari aksara Kawi. Aksara pokoknya berjumlah 20 huruf, dan setiap huruf biasanya mewakili dua huruf Latin. Sistem tulisannya dikenal dengan nama Hanacaraka.
Aksara Bali: Aksara Bali memiliki bentuk yang mirip aksara Jawa, namun berbeda pada lekukan bentuk huruf. Aksara ini berjumlah 47 karakter, terdiri dari 14 huruf vokal dan 33 huruf konsonan. Sementara, aksara wianjana Bali yang lazim digunakan berjumlah 18 karakter.
Aksara Lontara: Berasal dari Bugis–Makassar, aksara Lontara digunakan untuk menulis aturan pemerintahan, hukum adat, dan catatan kemasyarakatan. Banyak naskahnya ditulis pada daun lontar.
Aksara Rejang: Disebut juga aksara Ka Ga Nga sesuai tiga huruf awalnya. Aksara ini berkembang terutama di wilayah Bengkulu.
Aksara Batak: Aksara Batak digunakan di wilayah Sumatra Utara dan berkembang sejak abad ke-14. Aksara ini memiliki beberapa variasi, seperti aksara Batak Toba, Mandailing, Karo, Pakpak, dan Simalungun.
4. Pergeseran Menuju Aksara Latin
Masuknya bangsa Eropa ke Nusantara membawa perubahan besar dalam dunia tulis-menulis. Pada masa kolonial, huruf Latin diperkenalkan sebagai standar administrasi dan pendidikan. Seiring berjalannya waktu, huruf Latin semakin dominan dan akhirnya menggantikan penggunaan tulisan dengan aksara-aksara lokal.
Baca Juga: Sejarah Aksara Lontara Bugis-Makassar dan Sistem Hurufnya
(SA)
