Konten dari Pengguna

Proses Lahirnya Bintang dari Nebula hingga Bersinar di Angkasa

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bintang. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bintang. Foto: Unsplash

Sebuah bintang terbentuk di dalam awan gas dan debu ruang angkasa yang dikenal sebagai nebula. Proses lahirnya bintang dimulai ketika gaya gravitasi di dalam nebula menyebabkan awan tersebut berkontraksi dan perlahan runtuh karena beratnya sendiri. Dari proses inilah cikal bakal bintang mulai terbentuk. Untuk memahami tahapan selanjutnya, simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Daftar isi

1. Keruntuhan Nebula oleh Gravitasi

Menurut laman NASA Science, suhu dingin di dalam awan menyebabkan partikel-partikel gas dan debu mulai saling menggumpal, kemudian membentuk inti yang semakin padat. Seiring waktu, beberapa gumpalan dapat bertabrakan atau menarik lebih banyak materi di sekitarnya. Bertambahnya massa ini membuat gaya gravitasinya semakin kuat. Pada tahap ini, gravitasi akhirnya menyebabkan gumpalan-gumpalan tersebut runtuh ke pusatnya.

2. Pembentukan Protobintang

Ketika nebula runtuh, gesekan antar partikel menyebabkan materi memanas hingga membentuk protobintang. Selama fase ini, protobintang memperoleh panas terutama dari energi gravitasi dan memancarkan radiasi inframerah. Berdasarkan laman Center for Astrophysics, tergantung pada ukurannya, satu wilayah pembentukan bintang dapat melahirkan beberapa hingga ribuan protobintang sekaligus.

3. Terjadi Proses Akresi

Di sekeliling protobintang terdapat gas dan debu yang berputar membentuk cakram akresi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam laman The Physics of Universe, protobintang terus bertambah besar dengan mengakumulasi materi dari cakram tersebut. Proses penambahan massa ini dinamakan akresi. Fase ini berlangsung hingga inti bintang menjadi sangat panas dan padat, menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya reaksi fusi nuklir.

4. Terjadinya Fusi Nuklir

Ketika tekanan dan suhu di inti bintang mencapai tingkat yang sangat tinggi, inti atom hidrogen dipaksa bergabung membentuk helium. Proses ini dikenal sebagai fusi nuklir dan menandai kelahiran bintang yang sesungguhnya.

Fusi nuklir menghasilkan energi dalam jumlah besar yang memanaskan bintang sekaligus mencegahnya runtuh lebih lanjut akibat gaya gravitasi. Para astronom menyebut bintang-bintang yang secara stabil melakukan fusi nuklir hidrogen menjadi helium sebagai bintang deret utama.

5. Fase Bintang yang Stabil

Bintang yang baru terbentuk mencapai kondisi stabil ketika tekanan ke luar yang dihasilkan oleh energi fusi nuklir seimbang dengan tarikan gravitasi ke dalam. Fase ini merupakan tahap terpanjang dalam kehidupan sebuah bintang.

Selama fase ini, luminositas, ukuran, dan suhu bintang dapat berubah secara perlahan dalam rentang waktu jutaan hingga miliaran tahun. Bintang akan terus membakar hidrogen di intinya selama masih memiliki bahan bakar. Lamanya fase ini sangat bergantung pada massa bintang tersebut.

6. Kematian Bintang

Menurut laman The Schools Observatory, menjelang akhir kehidupannya, inti bintang mulai kehabisan bahan bakar nuklir berupa hidrogen yang sebelumnya diubah menjadi helium. Ketika energi dari fusi nuklir berkurang, tekanan ke luar melemah dan tidak lagi mampu menyeimbangkan gaya gravitasi. Akibatnya, inti bintang mulai runtuh.

Baca Juga: Proses Terbentuknya Planet dari Awal Hingga Menjadi Planet Batuan dan Gas

(SA)