Konten dari Pengguna

Proses Pembusukan Mayat dari Tahap Awal hingga Menjadi Tulang

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi proses pembusukan mayat. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi proses pembusukan mayat. Foto: Unsplash

Pembusukan atau dekomposisi merupakan proses alami yang terjadi setelah kematian. Proses pembusukan mayat berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari autolisis, penggembungan, pembusukan aktif, pembusukan lanjut, hingga skeletonisasi. Setiap tahap menunjukkan perubahan spesifik pada tubuh manusia. Keseluruhan proses dapat berlangsung dari beberapa minggu hingga bertahun-tahun. Simak pembahasan dalam artikel ini seputar tahapan pembusukan mayat hingga akhirnya tubuh terurai sepenuhnya, berdasarkan penjelasan dari laman Aftermath Service dan Live Science.

Daftar isi

1. Tahap Autolisis

Tahap ini dimulai segera setelah kematian. Ketika darah berhenti bersirkulasi, tubuh tidak lagi menerima oksigen. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan asam di dalam sel, menyebabkan membran sel pecah dan melepaskan enzim yang mulai memecah jaringan dari dalam. Ciri-ciri yang terlihat pada tahap autolisis antara lain:

  • Lapisan atas kulit mulai mengendur.

  • Rigor mortis atau kekakuan otot terjadi, membuat tubuh tidak bisa digerakkan.

  • Kulit tampak mengilap akibat terbentuknya lepuhan.

2. Tahap Penggembungan (Bloat Stage)

Saat enzim dan bakteri mulai memecah jaringan tubuh mayat, proses ini menghasilkan gas. Gas-gas tersebut menumpuk di dalam tubuh yang dan menyebabkan pembengkakan. Proses ini juga menghasilkan senyawa sulfur yang menimbulkan bau yang sangat tidak sedap. Selama tahap ini, timbul pola khusus (marbling), yaitu pembuluh darah berwarna hitam kehijauan yang dapat terlihat melalui kulit sekitar 24 hingga 48 jam. Hal ini menyebabkan kulit tampak menghitam.

3. Tahap Pembusukan Aktif (Active Decay Stage)

Tahap pembusukan aktif ditandai oleh kerusakan besar-besaran pada jaringan lunak, yang mengakibatkan hilangnya massa secara signifikan. Saat jaringan lunak tubuh membusuk, bagian organ, otot, serta kulit mulai mencair, meninggalkan bagian tubuh yang lebih keras seperti rambut, tulang, dan tulang rawan.

4. Tahap Pembusukan Lanjut (Advanced Decay Stage)

Setelah sebagian besar jaringan lunak terurai, proses pembusukan melambat. Yang tersisa hanyalah tulang, jaringan kering, dan cairan sisa. Tahap ini bisa berlangsung selama beberapa minggu, tergantung pada kondisi lingkungan. Apabila tubuh berada di tanah lembap, cairan yang larut dalam air akan meresap ke dalam tanah.

5. Tahap Skeletonisasi

Tahap ini menandai akhir dari proses pembusukan. Hampir seluruh jaringan lunak telah hancur. Tulang juga akan perlahan-lahan mengering, dan mengalami pelapukan tergantung kondisi lingkungan. Dalam beberapa kasus, proses ini dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

6. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Proses Pembusukan Mayat

Menurut laman Trauma Services, terdapat beberapa faktor utama yang memengaruhi cepat atau lambatnya proses dekomposisi tubuh manusia:

  • Suhu lingkungan: Suhu panas mempercepat pembusukan karena mempercepat aktivitas bakteri, sedangkan suhu dingin memperlambatnya. Pada suhu yang sangat rendah, proses pembusukan bahkan bisa berhenti sepenuhnya.

  • Lokasi dan kondisi lingkungan: Jenazah yang dikubur bisa membusuk lebih lambat atau cepat tergantung kedalaman dan jenis tanahnya. Tubuh yang dibiarkan di udara terbuka membusuk lebih cepat dibanding yang terendam air, terutama air dingin. Aktivitas serangga di udara juga berperan besar dalam mempercepat pembusukan.

  • Pengawetan (Embalming): Proses pembalseman atau pengawetan melibatkan penyuntikan bahan kimia seperti formaldehida ke dalam pembuluh darah. Zat ini berfungsi memperlambat autolisis.

Baca Juga: Jumlah Tulang Rusuk Manusia dan Fungsinya bagi Tubuh

(SA)