Proses Pencernaan Makanan dalam Tubuh Manusia dari Mulut hingga Usus

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap gigitan makanan yang kamu nikmati memulai perjalanan luar biasa melalui sistem pencernaan tubuh. Dari sepiring nasi goreng hingga segelas susu, semua harus melalui serangkaian proses kompleks yang mengubah makanan menjadi molekul-molekul kecil yang bisa diserap tubuh. Lauralee Sherwood dalam bukunya yang berjudul Human Physiology: From Cells to Systems menjelaskan bahwa proses pencernaan makanan melibatkan kerja sama sempurna antara organ pencernaan, enzim, dan hormon untuk memastikan tubuh mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut informasi mengenai bagaimana tubuh manusia bekerja dalam mencerna makanan.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Tahap Awal Pencernaan Makanan di Mulut dan Kerongkongan
Proses pencernaan makanan dimulai sejak makanan masuk ke mulut. Gigi bertugas memecah makanan menjadi potongan-potongan kecil melalui proses mekanis yang disebut mastikasi.
Sementara itu, kelenjar ludah menghasilkan saliva yang mengandung enzim amilase untuk memulai pemecahan karbohidrat kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana.
Saliva tidak hanya membasahi makanan, tetapi juga mengandung enzim pencernaan pertama yang mulai bekerja. Setelah dikunyah dengan baik, makanan berbentuk bolus lembut yang mudah ditelan.
Proses menelan kemudian mendorong bolus makanan melewati kerongkongan menuju lambung melalui gerakan peristaltik, yaitu kontraksi otot yang terjadi secara bergelombang.
Pencernaan Makanan di Lambung dan Peran Asam Lambung
Lambung berperan sebagai tempat penyimpanan sementara sekaligus pusat pencernaan mekanis dan kimiawi. Dinding lambung menghasilkan asam klorida yang sangat kuat dengan pH sekitar 1,5 hingga 3,5.
Dalam jurnal bertajuk Neurogastroenterology & Motility karya Raj K. Goyal dijelaskan bahwa lambung berfungsi sebagai pressure pump dan peristaltic pump yang bekerja bersama untuk mengolah makanan.
Asam lambung tidak hanya membunuh bakteri berbahaya yang masuk bersama makanan, tetapi juga mengaktifkan enzim pepsin yang bertugas memecah protein menjadi peptida-peptida yang lebih kecil.
Lambung juga melakukan gerakan mengaduk yang kuat untuk mencampur makanan dengan cairan pencernaan, menghasilkan campuran semi-cair yang disebut kimus.
Proses pengosongan lambung diatur dengan cermat oleh sinyal saraf dan hormon untuk memastikan usus kecil tidak kewalahan menerima makanan.
Tahap Krusial Pencernaan Makanan di Usus Halus
Usus halus adalah bagian tubuh tempat sebagian besar makanan dicerna. Panjangnya sekitar 6 meter dan terdiri dari tiga bagian, yakni duodenum, jejunum, dan ileum.
Saat makanan setengah cair dari lambung (kimus) masuk ke duodenum, pankreas melepaskan cairan berisi enzim dan bikarbonat. Cairan ini membantu menetralisir asam dari lambung agar proses pencernaan bisa berjalan dengan baik.
Enzim-enzim dari pankreas bekerja memecah berbagai jenis zat gizi. Amilase memecah karbohidrat, lipase memecah lemak, dan protease membantu memecah protein hingga siap diserap tubuh.
Selain itu, kantung empedu juga mengirimkan cairan empedu ke usus halus. Empedu berfungsi memecah lemak menjadi partikel-partikel kecil sehingga enzim lipase lebih mudah mencerna lemak tersebut.
Penjelasan mengenai proses ini dipaparkan secara lengkap dalam jurnal Advances in Physiology Education yang diterbitkan oleh American Physiological Society.
Mekanisme Penyerapan Nutrisi oleh Usus Halus
Setelah makanan dipecah menjadi bagian-bagian yang sangat kecil, tubuh mulai menyerap nutrisi yang ada di dalamnya. Di dalam usus halus terdapat tonjolan-tonjolan kecil bernama vili dan mikrovili yang membuat permukaan usus menjadi jauh lebih luas sehingga penyerapan nutrisi bisa berlangsung lebih maksimal.
Tonjolan kecil yang bentuknya seperti jari ini membantu tubuh mengambil nutrisi dengan sangat efisien. Cara penyerapan setiap nutrisi berbeda-beda, tergantung jenisnya.
Glukosa dan asam amino diserap melalui proses yang membutuhkan energi khusus, sedangkan lemak bisa langsung menembus dinding sel tanpa usaha tambahan.
Sebagian besar vitamin yang larut dalam air diserap di bagian tengah usus halus (jejunum), sementara vitamin B12 dan garam empedu diserap di bagian paling akhir dari usus halus (ileum).
Pengaturan Kecepatan Pengosongan Lambung
Kecepatan lambung dalam mengosongkan isinya sebenarnya tidak terjadi secara sembarangan. Proses ini diatur dengan sangat tepat. Menurut Critical Reviews in Food Science and Nutrition, ada banyak hal yang memengaruhi seberapa cepat makanan keluar dari lambung menuju usus kecil.
Makanan yang mengandung banyak lemak biasanya membuat proses pengosongan lambung menjadi lebih lambat karena lemak butuh waktu lebih lama untuk dipecah. Tubuh juga mengeluarkan hormon seperti cholecystokinin dan GLP-1 yang memberi sinyal kepada lambung untuk menahan makanan lebih lama sebelum dikirim ke usus.
Semua mekanisme ini bertujuan agar usus kecil punya cukup waktu untuk mencerna dan menyerap nutrisi dengan baik. Goyal dalam penelitiannya menjelaskan bahwa proses pengaturan ini melibatkan jaringan saraf vagal, yaitu sistem saraf yang bekerja sangat rumit namun tetap efisien.
Tahap Akhir Pencernaan di Usus Besar
Setelah nutrisi diserap di usus halus, sisa makanan yang tidak tercerna bergerak menuju usus besar (kolon). Usus besar memiliki panjang sekitar 1,5 meter dan berfungsi terutama untuk menyerap air dan elektrolit dari sisa makanan. Proses ini sangat penting untuk mencegah dehidrasi dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Di dalam usus besar juga hidup miliaran bakteri baik yang membentuk mikrobiota usus. Bakteri-bakteri ini membantu memfermentasi serat makanan yang tidak bisa dicerna oleh enzim manusia, menghasilkan asam lemak rantai pendek yang bermanfaat bagi kesehatan.
Sisa makanan yang sudah menjadi feses kemudian disimpan di rektum sebelum dikeluarkan melalui anus. Seluruh proses pencernaan makanan dari mulut hingga pengeluaran bisa memakan waktu 24 hingga 72 jam, tergantung jenis makanan dan kondisi individu.
Baca juga: Panduan Menjaga Kesehatan Pencernaan Selama Berpuasa
(NDA)
