Proses Terbentuknya Lumut di Tembok atau Batu Secara Alami

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tumbuhan lumut umumnya hidup di permukaan yang lembap dalam bentuk petak-petak hijau lembut. Meskipun terlihat kecil, lumut berperan penting dalam ekosistem karena menyediakan habitat dan sumber makanan bagi banyak makhluk. Namun, keberadaannya sering dianggap mengganggu karena membuat permukaan menjadi licin. Proses terbentuknya lumut di tembok atau batu dapat terjadi melalui penyebaran spora dan fragmentasi. Simak tahapan terbentuknya lumut secara lebih mendalam di artikel berikut.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Kehadiran Spora Lumut
Lumut dapat menyebar melalui spora yang ringan dan mudah terbawa oleh angin, air hujan, atau serangga. Mengutip buku Ayo Mempelajari Lumut karya Sriwiyati, proses ini diawali dengan pembentukan alat reproduksi berupa arkegonium (sel gamet betina) dan anteridium (sel gamet jantan). Berikut prosesnya.
Anteridium menghasilkan sperma berflagel, sedangkan arkegonium menghasilkan satu sel telur. Saat kondisi lingkungan lembap, sperma dari anteridium akan berenang melalui air menuju arkegonium untuk membuahi sel telur.
Hasil pembuahan ini membentuk zigot, yang kemudian tumbuh menjadi sporofit. Sporofit ini menghasilkan kapsul kecil di ujungnya yang disebut sporogonium, tempat terbentuknya spora haploid melalui proses meiosis.
Ketika sporogonium matang, kapsul akan pecah dan melepaskan spora ke udara.
Spora yang jatuh di tempat lembap seperti tembok, kayu, atau batu akan mulai berkecambah dan tumbuh menjadi protonema.
Protonema inilah yang kemudian berkembang menjadi gametofit, yaitu tumbuhan lumut baru yang memiliki alat kelamin jantan dan betina. Dari sinilah siklus pertumbuhan lumut terus berulang di permukaan lembab.
2. Perkembangbiakan Melalui Fragmentasi
Selain melalui spora, lumut juga dapat berkembang biak melalui fragmentasi. Menurut laman Mosskillers, banyak jenis lumut menghasilkan struktur kecil yang disebut gemmae pada daun atau cabangnya. Gemmae ini mudah terlepas dan tumbuh menjadi tanaman baru tanpa melalui proses pembuahan selama area pertumbuhan baru tersebut mendapat sinar matahari dan air yang cukup.
3. Lumut Menyerap Air dan Nutrisi
Lumut merupakan tumbuhan sederhana yang tidak memiliki akar sejati, bunga, maupun biji. Berdasarkan laman Moss & Stone Gardens, lumut tergolong tumbuhan nonvaskular, artinya tidak memiliki sistem pembuluh seperti tanaman lain yang berfungsi mengangkut air dan nutrisi jarak jauh.
Alih-alih memiliki akar, lumut menggunakan rizoid yang tampak seperti benang halus untuk menempel pada permukaan. Sementara itu, lumut menggunakan daunnya untuk menyerap kelembapan dan nutrisi secara langsung dari hujan maupun udara di sekitarnya.
4. Tumbuhan Lumut Melakukan Fotosintesis
Setelah menyerap air dan mineral, proses fotosintesis terjadi di bagian daun lumut. Mengutip laman How Stuff Works, air bergerak ke daun melalui sel atau antarsel, tergantung pada jenis lumutnya. Dengan bantuan sinar matahari, lumut mengubah air dan karbon dioksida menjadi gula dan oksigen.
Oksigen dilepaskan ke udara, sementara gula yang dihasilkan digunakan bersama mineral untuk membentuk zat yang membantu lumut tumbuh dan bereproduksi. Proses inilah yang membuat lumut mampu bertahan hidup di permukaan keras seperti batu, tembok, kayu, atau jalan setapak.
Baca Juga: Ciri-Ciri Proses Kapilaritas pada Tanaman yang Bisa Diamati
(SA)
