Konten dari Pengguna

Sejarah Aceh Mulai dari Masa Kerajaan hingga Perang Melawan Belanda

Hendro Ari Gunawan
Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
22 Oktober 2025 15:12 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Masjid Raya Baiturrahman sebagai ikon kota Aceh. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Masjid Raya Baiturrahman sebagai ikon kota Aceh. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan kompleks. Perjalanan sejarah Aceh dimulai dari kerajaan-kerajaan Islam awal seperti Samudera Pasai, dilanjutkan dengan kebangkitan Kesultanan Aceh Darussalam yang mencapai puncak kejayaan pada abad ke-16 dan ke-17, hingga perlawanan heroik melawan kolonialisme Belanda yang berlangsung puluhan tahun. Artikel ini akan mengulik lebih dalam mengenai sejarah lengkap kota Aceh.
ADVERTISEMENT

Kerajaan Samudera Pasai: Pintu Gerbang Islam di Nusantara

Dalam e-jurnal Sejarah Aceh: Jejak Peradaban Aceh Darussalam Hingga Kolonial Belanda karya Marduati dan Mohamed Ali Haniffa dijelaskan bahwa Kerajaan Samudera Pasai diperkirakan berdiri pada tahun 1260 M dan menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Hikayat Raja-Raja Pasai, sebuah sumber tertulis dari Aceh, menceritakan bahwa pelantikan rajanya menggunakan tatacara pelantikan sultan di Arab dan pakaiannya diberikan oleh penguasa dari Mekkah.
Sultan dan rakyat di Kerajaan Pasai telah menganut agama Islam dengan hukum Islam yang dijadikan sebagai pedoman kehidupan. Kerajaan ini tumbuh berkembang hingga mencapai tahap kemajuan dan dikenal oleh pedagang dunia berkat posisinya yang strategis dalam jalur perdagangan internasional di Selat Malaka.
ADVERTISEMENT

Kebangkitan Kesultanan Aceh Darussalam

Pada tahun 1205 M, ketika Kerajaan Samudera Pasai mulai melemah, Sultan Johan Syah berhasil menaklukkan Kerajaan Lamuri dan membangun Kerajaan Aceh berpedoman pada ajaran Islam.
Seperti yang dicatat dalam buku Aceh Sejarah, Budaya, dan Tradisi karya Hadi. A, kesultanan ini kemudian menjadi besar dan berhasil melibatkan kerajaan-kerajaan lain di bawah pemerintahan yang diprakarsai oleh Sultan Ali Mughayat Syah sebagai sultan pertama.
Kesultanan Aceh berdiri di atas puing-puing sisa Kerajaan Lamuri dengan ibu kota pemerintahan terletak di Kuta Raja atau Banda Aceh sekarang. Kesultanan ini terletak di ujung barat Pulau Sumatera dan menguasai hampir seluruh wilayah utara pulau tersebut.

Masa Kejayaan di Era Sultan Alauddin Riayat Syah

Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan sultan ketiga, yaitu Sultan Alauddin Riayat Syah yang berjuluk al-Qahhar.
ADVERTISEMENT
Dalam Jurnal Kajian Islam Kontemporer bertajuk Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar: Sang Penakluk dari Kesultanan Aceh Darussalam karya Taslim Batubara disebutkan, Sultan Alauddin berhasil mempersatukan wilayah-wilayah Kesultanan Aceh yang sebelumnya terpecah-pecah dan memperluas pengaruh hingga ke pesisir timur Pulau Sumatera di masa kekuasaannya.
Prestasi terhebatnya adalah berhasil menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Utsmani yang saat itu menjadi salah satu imperium Islam terbesar di dunia.
Ekspansi militer Aceh ke wilayah pantai timur Sumatera menjadikan Kesultanan Aceh sebagai kekuatan politik yang diperhitungkan, bahkan dianggap sebagai ancaman oleh bangsa Eropa, terutama Portugis yang menguasai jalur perdagangan.

Zaman Keemasan Sultan Iskandar Muda

Dalam buku Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) karya Denys Lombard dijelaskan, Sultan Iskandar Muda membawa Aceh pada masa pembangunan dan kejayaan yang hebat selama 30 tahun pemerintahannya.
ADVERTISEMENT
Sistem pemerintahan ditata dengan sangat rapi, sistem fiskal dan perpajakan diterapkan secara sistematis, serta kekuatan maritim dan militer Aceh menjadi catatan penting dalam sejarah pertahanan Nusantara.
Lombard membuktikan bahwa masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda benar-benar merupakan zaman gemilang, berbeda dengan anggapan Snouck Hurgronje yang menganggapnya sebagai dongeng belaka.
Komoditas lada menjadi sumber ekonomi utama, dan pada tahun 1550-an, Aceh memasok sekitar separuh dari kebutuhan Eropa akan lada yang dikirim melalui Laut Merah.

Perang Aceh Melawan Kolonial Belanda

Perang Aceh yang berlangsung dari tahun 1873 hingga awal abad ke-20 merupakan salah satu perlawanan terpanjang dan tergigih terhadap kolonialisme di Nusantara.
Seperti dijelaskan dalam buku Perang Aceh karya T Veer dan Paul Van, konflik ini dilatarbelakangi oleh penolakan tegas Sultan Mahmud Syah terhadap tuntutan Belanda agar Aceh tunduk patuh.
ADVERTISEMENT
Pada 26 Maret 1873, Belanda mendeklarasikan perang yang dipimpin Mayjen J.H. Kohler. Masyarakat Aceh memandang perang ini bukan hanya dalam dimensi politik dan kekerasan, tetapi terutama dalam dimensi Islam sebagai jihad fisabilillah atau perang suci.
Tokoh-tokoh seperti Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro, dan Cut Nyak Dien memimpin perlawanan rakyat untuk membela tanah air dari kolonialisasi Belanda.

Warisan Sejarah dan Identitas Aceh

Dalam e-jurnal Universitas Airlangga bertajuk Dimensi Pembentuk Kesadaran Identitas Keacehan karya M. Nazaruddin, dijelaskan bahwa Islam sebagai identitas sosial masyarakat Aceh terbentuk lewat perjalanan sejarah yang panjang.
Orang Aceh sangat bangga bahwa melalui daerah mereka agama Islam masuk ke Asia Tenggara, dengan julukan Aceh sebagai "Serambi Mekkah". Semua catatan sejarah ini telah membentuk kesadaran orang Aceh bahwa mereka adalah sebuah bangsa yang tidak akan bersedia dijajah dan diperintah oleh bangsa lain.
ADVERTISEMENT
Identitas ini terus mengakar hingga kini, bahkan ketika Aceh berkontribusi besar dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Sejarah panjang perlawanan dan kejayaan Aceh menjadi bukti bahwa wilayah ini memiliki tempat istimewa dalam sejarah Nusantara dan dunia Islam.
(NDA)