Sejarah Bagea, Kue Sagu Khas Indonesia Timur yang Bertahan Lintas Generasi

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah bagea tidak bisa dipisahkan dari tradisi pangan sagu di wilayah Indonesia Timur. Bagea sendiri merupakan kue tradisional khas Indonesia timur (Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Papua) dengan tekstur cenderung keras namun tetap renyah saat dikunyah. Kue ini memiliki ketahanan yang lama, sehingga menjadikannya pilihan populer sebagai oleh-oleh khas daerah atau camilan saat perayaan hari raya dan acara adat. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut seputar kue bagea yang menarik untuk disimak.
Asal Usul Kue Bagea
Menurut keterangan resmi Kementerian Pertanian dalam publikasi tentang inovasi pengolahan sagu, bagea merupakan kue kering khas Indonesia Timur. Makanan ini berasal dari daerah-daerah penghasil sagu seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Papua.
Pada masa ketika sagu menjadi makanan pokok, masyarakat membutuhkan camilan yang praktis dan bisa disimpan lama. Dari kebutuhan sehari-hari itulah bagea kemudian dibuat sebagai makanan selingan yang tidak mudah basi.
Bagi masyarakat pesisir dan kepulauan, bagea memiliki fungsi penting. Kue kering ini sering disajikan untuk menjamu tamu, dibawa saat melaut atau berlayar, serta disimpan di rumah sebagai cadangan makanan keluarga.
Bahan dan Cara Pembuatan Kue Bagea
Bagea adalah kue tradisional yang biasanya dibuat dari tepung sagu. Tepung ini dicampur dengan gula merah, kayu manis, dan pala sehingga menghasilkan rasa manis dan aroma rempah yang khas.
Pada proses tradisional, adonan bagea dibungkus menggunakan daun enau atau daun lontar, lalu dipanggang sampai benar-benar kering. Saat matang, bagea akan mengeluarkan aroma harum yang menandakan kue siap disajikan.
Selain itu, proses pemanggangan membuat bagian luar bagea cepat kering, sementara bagian dalamnya tetap rapuh, sehingga memberikan sensasi makan yang khas dan berbeda dari kue lainnya.
Ciri khas dari tekstur bagea, yakni saat pertama kali digigit, kue ini terasa keras, tetapi setelah dikunyah akan berubah menjadi lebih renyah dan perlahan hancur di mulut. Tekstur unik tersebut muncul secara alami dari pati sagu.
Dalam buku Adat Istiadat Daerah Sulawesi Tenggara terbitan Kemendikdasmen disebutkan bahwa bagea juga bisa dikreasikan dengan menambahkan bahan lain, seperti kenari atau kacang tanah yang sudah disangrai. Penambahan ini tidak hanya membuat aroma bagea semakin kuat, tetapi juga menambah kandungan gizinya karena adanya sumber protein.
Identitas Kue Bagea sebagai Kudapan
Dalam buku Ragam Kudapan Maluku, Sulawesi dan Kalimantan karya Murdijati Gardjito, Umar Santoso, dan Eni Harmayani dijelaskan bahwa kudapan atau makanan ringan bukan sekadar camilan, tetapi bagian dari sejarah bahan pangan dan kebiasaan makan masyarakat.
Dari penjelasan tersebut, bagea bisa dipahami sebagai “penyimpan rasa” dari masa lalu. Kue ini dibuat dengan bahan sederhana, bisa bertahan lama, dan terus dibuat dari generasi ke generasi karena memang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga sekarang, sejarah bagea tetap relevan sebagai contoh bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan pangan lokal agar tetap bernilai, berguna, dan berkelanjutan.
Baca juga: Sejarah Tradisi Tumpengan dan Makna di Baliknya
(NDA)
