Konten dari Pengguna

Sejarah Tradisi Tumpengan dan Makna di Baliknya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tumpeng. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tumpeng. Foto: Unsplash

Sejarah tradisi tumpengan berakar pada cara masyarakat Jawa kuno memaknai alam, terutama gunung, sebagai sumber kehidupan dan tempat bersemayamnya kekuatan gaib. Nasi yang dibentuk kerucut seperti gunung lalu dikelilingi lauk pauk bukan sekadar makanan, tetapi simbol hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Tradisi tumpengan sendiri sudah hadir sejak masa kepercayaan Kapitayan pra-Hindu, kemudian “diislamkan” menjadi bagian dari slametan dan syukuran keluarga Jawa hingga sekarang. Artikel ini akan memberikan informasi lebih lanjut seputar tradisi tumpengan.

Daftar isi

Asal Usul Tradisi Tumpengan di Jawa Kuno

Sejarawan budaya menjelaskan bahwa tradisi tumpengan tumbuh di masyarakat agraris Jawa dan Bali yang memuliakan gunung sebagai pusat kosmos dan sumber kesuburan.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Tengah menafsirkan bentuk kerucut tumpeng sebagai miniatur Gunung Mahameru, gunung suci dalam kosmologi Hindu-Buddha yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa.

Dalam ritual agraris, nasi yang dibentuk seperti gunung dipersembahkan kepada Dewa Sri sebagai ungkapan terima kasih atas panen padi dan harapan agar musim berikutnya tetap subur.

Transformasi Tumpeng di Era Hindu-Buddha dan Islam

Penelitian M. Zein Ed-Dally tentang Makanan Tumpeng dalam Tradisi Bancakan menunjukkan bahwa ketika pengaruh Hindu-Buddha menguat, tumpeng menjadi sarana pemujaan lebih terstruktur, terkait upacara kerajaan, selamatan desa, dan peringatan siklus hidup.

Setelah Islam masuk abad ke-15, Walisongo (khususnya Sunan Kalijaga) tidak menghapus tumpengan, tetapi menafsirkan ulang sebagai media dakwah.

Dalam hal ini, puncak tumpeng dimaknai sebagai hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, sementara lauk pauk di sekelilingnya menggambarkan harmoni sosial dan kepedulian pada sesama.

Adapun saat tradisi slametan, tumpeng dibacakan doa-doa dan ayat Al-Qur’an sebelum dibagikan, menegaskan pergeseran dari sesaji untuk roh menjadi syukur kepada Allah.

Makna Simbolik Bentuk dan Susunan Tumpeng

Jurnal Makna Tradisi Tumpeng dalam Budaya Jawa dan Hindu karya Raimundus Lulus Sukaryo, dkk menjelaskan bahwa tumpeng kerucut melambangkan gunung sekaligus cita-cita hidup yang terus meningkat, dari dasar yang lebar menuju puncak kesempurnaan moral.

Penempatan lauk di sekeliling tumpeng tidaklah acak dan memiliki makna yang berbeda-beda, di antaranya ada sayuran hijau yang melambangkan kesuburan, ikan atau ayam sebagai simbol kerja keras dan pengorbanan, sementara telur utuh mewakili harapan lahirnya generasi baru yang lebih baik.

Selain itu, bentuk dan susunan tumpeng menggambarkan tiga jenis hubungan penting dalam kehidupan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal), hubungan antarsesama manusia (horizontal), serta hubungan manusia dengan alam sekitarnya (diagonal).

Ketiga relasi ini mencerminkan nilai etika sosial yang dijunjung tinggi dalam budaya Jawa, yakni keseimbangan antara spiritualitas, kehidupan bermasyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan.

​Tumpengan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nusantara

Portal Warisan Budaya Takbenda milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat bahwa tumpeng bukan hanya satu jenis sajian, tetapi memiliki banyak variasi tradisi di berbagai daerah.

Salah satunya adalah tradisi Tumpeng Sewu di Lumajang, Jawa Timur. Dalam tradisi ini, masyarakat setempat membuat dan menyajikan ribuan tumpeng kecil sebagai bagian dari upacara adat, yang menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur bersama.

Melihat nilai budaya yang kuat tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama para pelaku kuliner terus mendorong agar tumpeng diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Usulan ini menekankan bahwa tumpeng telah digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang agama maupun suku. Tumpeng hadir dalam beragam kegiatan, mulai dari hajatan keluarga, peringatan Hari Kemerdekaan, hingga ritual adat seperti sedekah laut.

Baca juga: Cara Mengurangi Konsumsi Makanan Tinggi Lemak Jenuh

(NDA)