Sejarah Banjarmasin dari Masa Kerajaan hingga Era Kolonial

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banjarmasin merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini dijuluki Kota Seribu Sungai karena wilayahnya dilewati oleh banyak aliran sungai. Jika menelusuri ke masa lampau, sejarah Banjarmasin memiliki perjalanan panjang yang berakar pada masa kerajaan hingga periode perdagangan antarpulau di era kolonial. Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai sejarah Kota Banjarmasin dari masa ke masa.
1. Asal Mula Nama Banjarmasin
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Banjarmasin, asal usul nama Banjarmasin bermula sekitar tahun 1526. Pada masa itu, daerah tersebut dikenal dengan sebutan Banjarmasih. Nama ini diambil dari salah satu pendiri Kerajaan Banjar, yaitu Patih Masih, yang berasal dari Desa Oloh Masih. Dalam bahasa Ngaju, “Oloh Masih” berarti orang Melayu atau kampung orang Melayu.
Desa Oloh Masih inilah yang kemudian berkembang menjadi Kampung Banjarmasih, cikal bakal wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Banjarmasin. Seiring berjalannya waktu dan pengaruh kolonial, sebutan “Banjarmasih” berubah menjadi “Banjarmasin”, seperti yang digunakan hingga sekarang.
2. Lahirnya Kerajaan Banjar
Kisah berdirinya Kota Banjarmasin tak bisa dipisahkan dari sosok Pangeran Samudera, putra dari Kerajaan Negara Daha yang terbuang dari istana. Dalam masa pengasingannya di Desa Oloh Masih, Patih Masih bersama para patih lainnya mengangkat Pangeran Samudera sebagai raja. Dari sinilah awal mula berdirinya Kerajaan Banjar.
Kemajuan kerajaan ini membuat penguasa Negara Daha, Pangeran Tumenggung, merasa terancam sehingga terjadi penyerbuan terhadap Banjar. Dalam kondisi terdesak, Pangeran Samudera meminta bantuan kepada Kerajaan Demak di Pulau Jawa.
Demak bersedia membantu dengan satu syarat, yaitu raja dan rakyat Banjar harus memeluk agama Islam. Pangeran Samudera menyetujui syarat tersebut. Kerajaan Demak kemudian mengirim pasukan dan Khatib Dayan untuk membantu peperangan sekaligus menyebarkan ajaran Islam.
Berkat bantuan Demak, Kerajaan Banjar berhasil mengalahkan Daha. Pada 24 September 1526, Pangeran Samudera resmi memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Banjarmasin.
Dalam catatan sejarah Belanda, hingga tahun 1664 surat-surat dari Belanda kepada Kerajaan Banjar masih menyebut nama wilayah ini sebagai Bandzermash. Setelah itu, berubah menjadi Bandjarmassin, lalu Bandjarmasin pada masa pendudukan Jepang, hingga akhirnya ejaan baru bahasa Indonesia ditetapkan menjadi Banjarmasin.
3. Banjarmasin di Masa Kolonial
Menurut buku Seri Ensiklopedia untuk Anak Indonesia: Indahnya Pulau Kalimantan karya Slamet Riyanto dan Siti Afifatun, Kerajaan Banjar berkembang menjadi kerajaan maritim utama hingga akhir abad ke-18. Namun, kejayaan tersebut berakhir ketika Belanda (VOC) datang dan mulai menguasai wilayah ini.
VOC menjalin perjanjian monopoli dengan Sultan Banjar dan mendirikan benteng di Banjarmasin. Mereka mengambil alih perdagangan laut dan secara perlahan memonopoli pemerintahan kerajaan. Kebijakan kolonial ini menimbulkan perlawanan besar dari rakyat Banjar.
Salah satu tokoh penting dalam perlawanan tersebut adalah Pangeran Antasari. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke pedalaman dan membangun benteng pertahanan di hutan-hutan Kalimantan. Namun, Belanda akhirnya berhasil menumpas perlawanan tersebut.
4. Banjarmasin di Masa Lalu
Sejak dahulu, Banjarmasin memegang peranan penting dalam jalur perdagangan antarpulau. Letaknya yang strategis di pertemuan Sungai Barito dan Sungai Martapura menjadikannya jalur utama transportasi dan ekonomi.
Masih mengacu pada sumber resmi Pemerintah Kota Banjarmasin, salah satu wilayah bersejarah di kota ini adalah Pulau Tatas. Dahulu, Pulau Tatas merupakan pusat pemerintahan residen Belanda. Wilayah ini dikelilingi oleh Sungai Barito, Sungai Kuin, dan Sungai Martapura, sehingga tampak seperti sebuah pulau tersendiri.
Pulau Tatas dengan Benteng Tatas (Fort Tatas) menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda yang sekarang menjadi pusat kota Banjarmasin saat ini. Nama Banjarmasih, oleh Belanda lama kelamaan diubah menjadi Banjarmasin.
Baca Juga: Sejarah Aceh Mulai dari Masa Kerajaan hingga Perang Melawan Belanda
(SA)
