Konten dari Pengguna

Sejarah Berdirinya Masjid Tua Wapauwe di Maluku

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masjid Tua Wapauwe di Maluku. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Masjid Tua Wapauwe di Maluku. Foto: Wikimedia Commons

Masjid Tua Wapauwe berdiri kokoh sebagai saksi bisu penyebaran Islam di Maluku sejak abad ke-15, menjadikannya masjid tertua di wilayah tersebut yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Merujuk informasi dari situs Maritime Asia Heritage Survey milik Kyoto University, masjid ini pertama kali dibangun pada 1414 di lereng gunung, menggunakan sambungan kayu tanpa paku, sebelum dipindahkan akibat tekanan kolonial Eropa. Simak terus uraian ini untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Masjid Tua Wapauwe di Maluku.

Daftar isi

Pendiri Masjid Tua Wapauwe

Mengutip buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia karya Abdul Baqir Zein, pembangunan awal Masjid Wapauwe, yang semula bernama Masjid Wawane, dilakukan oleh Maulana Kiai Pati, seorang mubaligh dari pantai Nukuhaly di Pulau Seram.

Ia berhasil mengislamkan lima desa di Pegunungan Wawane, yakni Essen, Wawane, Atetu, Nukuhaly, dan Tehala, dengan masjid sederhana dari dinding daun sagu dan atap daun ronting. Pada 1464, Kyai Jamilu dari Kesultanan Jailolo di Halmahera melanjutkan pemeliharaan dan memperluas bangunan.​

Kyai Jamilu, keturunan sultan, memilih lokasi di bawah pohon mangga liar, wapa uwe dalam bahasa setempat, sehingga masjid berganti nama menjadi Wapauwe. Pendekatan damai para pendiri ini menunjukkan bagaimana Islam berakulturasi dengan masyarakat lokal yang sebelumnya menganut Hindu.

Pemindahan Lokasi Masjid Wapauwe

Kedatangan Portugis pada 1512 dan Belanda pada 1580 mengganggu kedamaian, mendorong pemindahan masjid pada 1614 oleh Imam Rijali, keturunan Jamilu, ke Bukit Tehala sekitar 6 kilometer ke timur.

Maritime Asia Heritage Survey menjelaskan bahwa Belanda memerintahkan penduduk turun ke pesisir untuk pengawasan mudah, sehingga masjid dibongkar dan dipindah tanpa ubah bentuk asli. Pada 1664, masjid kembali berpindah ke lokasi sekarang di Desa Kaitetu, Leihitu, Maluku Tengah.​

Masyarakat setempat mempercayai masjid "turun sendiri" secara ajaib, lengkap dengan peralatan ibadah, meski catatan sejarah menyebut upaya manusiawi. Renovasi besar pertama di 1664 memperkuat struktur sambil jaga orisinalitas.

Arsitektur Unik Masjid Tua Wapauwe

Bangunan masjid ini seluas 10x10 meter dengan empat tiang utama saka guru dari kayu bintanggur, atap bertingkat tiga, dan dinding gaba-gaba dari pelepah sagu kering.

Dalam buku Masjid karya Teguh Purwantari dijelaskan bahwa bangunan masjid Wapauwe tidak ada paku atau pasak, hanya ikatan serat ijuk, dengan serambi tambahan sejak 1895 dan tiang alif di puncak melambangkan huruf Allah. Mihrab menonjol ke arah kiblat dan bedug kayu panjang menjadi artefak bersejarah.​

Lantai kerikil asli masih terlihat di sebagian area, sementara renovasi modern seperti semen dan seng atap menjaga daya tahan tanpa hilangkan esensi tradisional. Komunitas Kristen dan Muslim Kaitetu bersama rawat masjid ini.

Renovasi dan Pelestarian Sejarah

Renovasi kedua pada 1895 oleh Hamid Iha tambah serambi timur dan semen penguat dinding bawah. Pada 1982, masjid ditetapkan Cagar Budaya dengan plakat dari Kepala LIPI Bachtiar Rifai, sementara restorasi 1990-an ganti atap daun sagu libatkan dua dusun desa.

Artefak seperti mushaf Al-Quran tulis tangan tahun 1550 oleh Imam Muhammad Arikulapessy dan 1590 oleh Nur Cahya kini disimpan aman. Masjid tetap jadi tujuan ziarah, bukti harmoni antarumat beragama.

Baca juga: Peran Masjid Kuno Demak dalam Penyebaran Islam di Jawa

(NDA)