Sejarah Bhinneka Tunggal Ika hingga Jadi Semboyan Negara

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan negara Indonesia yang bermakna “berbeda-beda tetap satu jua”. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas beragam budaya, bahasa, ras, suku, dan agama.
Lantas, bagaimana sejarah Bhinneka Tunggal Ika sampai akhirnya jadi semboyan negara? Berikut adalah penjelasannya seperti yang dirangkum dari buku Sejarah Hukum Indonesia: Seri Sejarah Hukum susunan Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, S.H.
1. Asal Muasal Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Kalimat "Bhinneka Tunggal Ika" sebenarnya dikutip dari kitab Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular. Ia merupakan pujangga yang hidup pada masa kerajaan Majapahit di era kekuasaan Prabu Rajasanagara atau yang dikenal dengan Raja Hayam Wuruk pada abad ke-14.
Mpu Tantular menganut kepercayaan Buddha dan hidup di lingkungan kerajaan Majapahit yang memiliki corak Hindu-Siwa. Nah, kalimat "Bhinneka Tunggal Ika" merupakan ungkapan toleransinya kepada sesama meskipun berbeda keyakinan.
Berikut ini adalah kutipan sajak dari Kakawin Sutasoma yang mengandung kalimat "Bhinneka Tunggal Ika":
"Rwneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ing Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa."
Artinya:
"Konon Buddha dan Siwa merupakan dua dzat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. (Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa)."
2. Penggolongan Masyarakat Kerajaan Majapahit yang Memengaruhi Lahirnya Kalimat Bhinneka Tunggal Ika
Masyarakat yang hidup pada masa kerajaan Majapahit terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:
Golongan Pertama: Orang-orang yang datang dari Barat dan menganut agama Islam serta tinggal di Majapahit.
Golongan Kedua: Orang-orang China yang datang dari Canton, Chang-chou dan Chuan-chou yang terletak di Fukien. Kemudian, mereka hijrah dan tinggal di kerajaan Majapahit. Tidak hanya itu, sebagian dari mereka kemudian memeluk agama Islam dan ikut menyebarkannya.
Golongan Ketiga: Penduduk pribumi yang berjalan tanpa alas kaki, rambut digulung di atas kepala dan memiliki kepercayaan penuh terhadap roh-roh leluhur.
Perbedaan ini membuat nilai Bhinneka Tunggal Ika dari Mpu Tantular semakin disebarkan. Bahkan, pada masa kerajaan Majapahit, kalimat tersebut menjadi sebuah ajaran atau pendirian bagi penganut agama Buddha dan Hindu-Siwa.
Dalam catatan sejarah pun terbukti bahwa prinsip Bhinneka Tunggal Ika berhasil menyatukan Nusantara di masa Kerajaan Majapahit.
3. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika Diusulkan Dalam BPUPKI
Melihat kesuksesan Bhinneka Tunggal Ika dalam menyatukan Nusantara, Mohammad Yamin akhirnya mengusulkan kalimat tersebut sebagai semboyan negara kepada Soekarno.
Muh. Yamin menyebutkan kalimat "Bhinneka Tunggal Ika" beberapa kali ketika sidang BPUPKI yang berlangsung pada bulan Mei dan Juni 1945.
Menurutnya, semboyan tersebut sangat cocok untuk diimplementasikan dengan kehidupan Indonesia pada masa itu. Sebab, Indonesia adalah negara yang memiliki beragam perbedaan dari segi agama, ideologi, suku, ras, etnik maupun golongan.
4. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika Diresmikan sebagai Semboyan Negara
Sejak kemerdekaan Indonesia, kalimat Bhinneka Tunggal Ika telah dijadikan motto, semboyan sekaligus falsafah berbangsa dan bernegara. Bahkan, semboyan ini juga disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai benteng ketahanan Republik Indonesia.
Lalu, pada sidang kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950, Bhinneka Tunggal Ika resmi jadi bagian dari lambang negara. Tulisan ini ada di atas pita yang dicengkram burung Garuda.
Baca Juga: Makna Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bagi Bangsa Indonesia
