Sejarah Bursa Efek Indonesia dari Era Kolonial hingga Sekarang

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI) bermula dari kebutuhan pemerintah kolonial Belanda menghimpun modal untuk perkebunan dan infrastruktur di Hindia Belanda. Dari sebuah ruangan kecil di Batavia pada 1912, pasar modal Indonesia tumbuh menjadi lembaga yang menghubungkan perusahaan dan investor di seluruh dunia. Buku Mengenal Investasi di Pasar Modal Melalui Bursa Efek Indonesia karya Andy Ismail, dkk menjelaskan bahwa bursa efek pertama di Indonesia didirikan pemerintah Hindia Belanda pada 14 Desember 1912 di Batavia untuk memperdagangkan saham dan obligasi perusahaan Belanda serta surat utang pemerintah kolonial. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut sejarah dari Bursa Efek Indonesia.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Awal Bursa Efek di Era Kolonial (1912–1940)
Undang-Undang Agraria 1870 dan berkembangnya perkebunan swasta membuka kebutuhan pendanaan jangka panjang. Penelitian berjudul Perkembangan Hukum Pasar Modal di Indonesia karya Gelbert, dkk menjelaskan bahwa bursa pertama di Batavia didirikan 14 Desember 1912, awalnya hanya melayani saham dan obligasi perusahaan Belanda serta pemerintah Hindia Belanda.
Menyusul kemudian, bursa di Semarang dan Surabaya dibuka tahun 1925 untuk mendukung perdagangan komoditas dan sekuritas di Jawa. Namun, aktivitas bursa sempat terhenti beberapa kali, pertama saat Perang Dunia I (1914–1918), lalu krisis ekonomi 1929, dan akhirnya tutup total ketika Belanda menyerah kepada Jerman pada 10 Mei 1940.
Pasar Modal Masa Awal Kemerdekaan dan “Tidur Panjang” (1952–1977)
Setelah kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia membuka kembali Bursa Efek Jakarta pada 3 Juni 1952 sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi nasional.
Buku Mengungkap Rahasia Bull Market Terhebat karya Hary Suwanda mencatat bahwa melalui Bank Industri Negara pemerintah menerbitkan obligasi untuk membiayai proyek industri, dan bursa digunakan untuk memperdagangkannya.
Namun nasionalisasi perusahaan Belanda pada 1958 dan situasi politik tidak stabil membuat minat investor menurun tajam, sehingga pasar modal kembali “tidur panjang” hampir dua dekade.
Kebangkitan Bursa Efek Jakarta dan Era Deregulasi (1977–2007)
Kebangkitan pasar modal dimulai ketika pemerintah Orde Baru mengaktifkan kembali Bursa Efek Jakarta pada 10 Agustus 1977, ditandai dengan pencatatan emiten pertama, PT Semen Cibinong.
Paket deregulasi perbankan dan pasar modal (PAKDES 1987, PAKTO 1988) membuka pintu lebih lebar bagi perusahaan go public dan investor asing, sehingga jumlah emiten dan nilai transaksi meningkat pesat.
Bursa Efek Surabaya (BES) yang sempat mati suri di era kolonial dihidupkan kembali 16 Juni 1989 sebagai pusat perdagangan obligasi dan derivatif.
Periode 1990-an hingga awal 2000-an ditandai modernisasi besar-besaran, sistem perdagangan beralih dari manual ke elektronik, kliring dan penyelesaian T+3, serta pendirian Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Penggabungan BEJ–BES dan Lahirnya Bursa Efek Indonesia (2007–Sekarang)
Untuk efisiensi dan menyatukan pasar saham, obligasi, dan derivatif, pemerintah memutuskan menggabungkan Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES).
Situs resmi BEI menjelaskan bahwa pada 30 November 2007 penggabungan disahkan, dan sejak 1 Desember 2007 bursa gabungan ini resmi bernama Bursa Efek Indonesia (Indonesia Stock Exchange – IDX).
Buku Mengenal Investasi di Pasar Modal Melalui Bursa Efek Indonesia karya Andy Ismail, dkk., menyebut penggabungan ini sebagai tonggak integrasi pasar modal nasional, karena seluruh saham, obligasi, dan instrumen derivatif diperdagangkan di satu lantai bursa, dengan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2013.
Bursa Efek Indonesia kemudian terus berkembang dengan program edukasi dan galeri investasi di kampus-kampus, menjadikannya bukan hanya lembaga keuangan, tetapi juga sarana literasi keuangan dan investasi bagi masyarakat luas.
Baca juga: Sejarah Radio Indonesia dari Masa Penjajahan hingga Era Digital
(NDA)
