Konten dari Pengguna

Sejarah Candi Muara Takus: Peninggalan Buddha Tertua di Sumatra

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Muara Takus. Foto: Dok. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar
zoom-in-whitePerbesar
Candi Muara Takus. Foto: Dok. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar

Sejarah Candi Muara Takus menunjukkan bahwa situs ini merupakan peninggalan penting agama Buddha Mahayana di Sumatera bagian timur pada masa Kerajaan Sriwijaya. Candi ini berlokasi di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Bangunan candi dibuat dari batu bata dan pasir sungai, dan diperkirakan dibangun antara abad ke-7 hingga abad ke-11 Masehi. Berdasarkan buku Candi Muara Takus oleh Akhmad Sadad, Candi Muara Takus menjadi satu-satunya kompleks candi Buddha di Riau yang menunjukkan hubungan erat antara kegiatan keagamaan dan jalur perdagangan kuno pada masa Sriwijaya.

Daftar isi

Asal Usul dan Penemuan Candi Muara Takus

Candi Muara Takus pertama kali dilaporkan oleh penjelajah Belanda pada tahun 1860. Penelitian arkeologi kemudian dilakukan secara lebih serius pada tahun 1880-an oleh J.L.A. Brandes. Di dalam kompleks ini terdapat tiga bangunan utama, yaitu Candi Mahligai, Candi Tiga Lorong, dan Candi Aker.

Menurut buku Mengenal Lebih Dekat Candi Nusantara karya Garsinia Lestari, keberadaan Candi Muara Takus berkaitan dengan Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 M, yang menjelaskan perluasan wilayah Kerajaan Sriwijaya hingga ke daerah pedalaman Sungai Kampar.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar juga mencatat bahwa situs ini pernah diajukan sebagai calon Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2009 karena dianggap memiliki nilai sejarah tinggi sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan bercorak Buddha.

Arsitektur Unik Candi Muara Takus

Candi Muara Takus memiliki ciri arsitektur yang berbeda dibandingkan candi-candi di Jawa. Jika candi di Jawa umumnya terbuat dari batu andesit, candi ini dibangun menggunakan bata merah dan pasir sungai setempat.

Kompleks candi dikelilingi pagar batu dengan ukuran sekitar 74 x 74 meter. Bangunan paling mencolok adalah Candi Mahligai, berupa stupa setinggi kurang lebih 12 meter dengan delapan sisi.

Menurut repositori Kemdikbud dalam dokumen Gugusan Candi Muara Takus, delapan sisi tersebut melambangkan delapan tahapan kesadaran dalam ajaran Buddha.

Gerbang utama candi menghadap ke arah timur, yaitu arah matahari terbit, yang melambangkan pencerahan spiritual. Hiasan berupa bunga teratai dan makara pada dinding candi menunjukkan pengaruh seni India Selatan yang berkembang pada masa Sriwijaya.

Fungsi Ritual dan Hubungan dengan Sriwijaya

Pada masa lalu, Candi Muara Takus digunakan sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan umat Buddha. Kompleks ini juga berfungsi sebagai vihara dan tempat penyimpanan patung Buddha. Di area candi terdapat saluran air yang terhubung ke Sungai Kampar dan digunakan untuk ritual penyucian diri.

Candi Muara Takus menjelaskan bahwa lokasi candi sangat strategis karena berada di persimpangan jalur sungai yang ramai dilalui pedagang rempah dan emas.

DJKN Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa Candi Muara Takus menjadi bukti kuat bertahannya budaya Buddha di Sumatera meskipun pengaruh Islam mulai berkembang.

Arsip daerah Kampar juga menegaskan peran Sungai Kampar sebagai jalur penting yang menghubungkan kawasan ini dengan pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Upaya Pelestarian Candi Muara Takus

Upaya pelestarian Candi Muara Takus telah dilakukan sejak tahun 1957 oleh Balai Arkeologi, termasuk penggalian bangunan stupa yang tertimbun tanah serta perbaikan tembok pembatas kompleks.

Hingga kini, Balai Pelestarian Cagar Budaya Riau terus melakukan pemantauan untuk mencegah kerusakan, terutama akibat banjir yang dapat mengikis bata candi.

Selain itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar juga menerapkan sistem pembayaran retribusi berbasis QRIS sebagai salah satu cara mendukung perawatan situs.

Dengan upaya tersebut, Candi Muara Takus tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata sejarah, ziarah, serta sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.

Baca juga: Sejarah Candi Gedong Songo: Warisan Kerajaan Mataram Kuno

(NDA)