Konten dari Pengguna

Sejarah Cap Go Meh Indonesia, Tradisi Tionghoa dalam Mengakhiri Tahun Baru Imlek

Hendro Ari Gunawan
Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
4 Desember 2025 13:34 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sejarah Cap Go Meh Indonesia, Tradisi Tionghoa dalam Mengakhiri Tahun Baru Imlek
Inilah kisah sejarah Cap Go Meh Indonesia, tradisi Tionghoa dalam mengakhiri tahun baru Imlek.
Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Semarak Pawai Cap Go Meh di Pancoran Chinatown, Glodok, Jakarta Barat (13/2/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Semarak Pawai Cap Go Meh di Pancoran Chinatown, Glodok, Jakarta Barat (13/2/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
ADVERTISEMENT
Cap Go Meh Indonesia adalah perayaan hari ke-15 kalender lunar yang menandai akhir rangkaian Tahun Baru Imlek dengan parade lentera, barongsai, dan lontong cap go meh yang kental akulturasi lokal. Tradisi ini, yang berasal dari Festival Lentera Cina kuno, telah beradaptasi unik di Nusantara sejak abad ke-17 melalui migrasi Tionghoa dan interaksi dengan masyarakat pribumi. Sejarah Cap Go Meh Indonesia mencerminkan toleransi antaretnis, dari larangan era Orde Baru hingga kebangkitan pasca-reformasi sebagai festival nasional. Simak terus uraian ini untuk mengetahui informasi tentang Cap Go Meh yang menjadi jembatan diaspora dalam mengikat identitas Tionghoa dengan kehidupan sehari-hari Indonesia.
ADVERTISEMENT

Asal Usul Cap Go Meh dari Dinasti Han hingga Nusantara

Cap Go Meh, atau Yuan Xiao Jie dalam Mandarin, berawal dari Dinasti Han Timur (25-220 M) ketika Kaisar Ming Di memerintahkan penyalaan lentera di kuil Buddha untuk menghormati Sang Buddha pada malam bulan purnama pertama.
Merujuk buku Chinese Indonesians: Remembering, Distorting, Forgetting oleh Timothy Lindsey dan Helen Pausacker, festival Cap Go Meh kemudian bercampur dengan Taoisme dan Zoroastrianisme Persia, menjadi perayaan buang sial dengan lentera, teka-teki, dan Yuan Xiao (bola ketan). Di Indonesia, istilah Hokkien "Cap Go Meh" (15 malam) dibawa pedagang Fujian abad ke-15 seperti Laksamana Cheng Ho yang mendarat di Jawa.
Jurnal Cap Go Meh, A Lively Fun Tradition di Universitas Ciputra Library mencatat adaptasi awal di Glodok Jakarta, di mana lontong cap go meh lahir dari lontong Jawa dicampur hidangan Tionghoa, melambangkan harmoni budaya. Perayaan tertutup ini terbuka untuk publik pada Dinasti Tang (618-907 M), menyebar ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan sutra.
ADVERTISEMENT

Cap Go Meh di Era Kolonial dan Akulturasi Lokal

Sejak abad ke-17, Tionghoa di Batavia merayakan Cap Go Meh dengan tatung (medium roh) dan barongsai, tapi dibatasi VOC karena dianggap berisiko kerusuhan.
Jurnal Chinese New Year in West Kalimantan: Ritual Theatre and Political Crisis oleh Leo Suryadinata di Singapore Management University Research menyoroti parade tatung di Singkawang Pontianak sejak 1800-an, di mana medium berbasi Hakka menusuk tubuh tanpa luka untuk bukti kekuatan roh.
Di Tegal Jawa Tengah, Khaerul Ummah dalam tesisnya yang bertajuk Perayaan Cap Go Meh Bagi Masyarakat di Kota Tegal menggambarkan, partisipasi non-Tionghoa sejak era Hindia Belanda, dengan prosesi lentera menyusuri Gang Pecinan.
Di Bogor, lontong cap go meh berasal dari kompetisi Cheng Ho abad ke-15, di mana datuk lokal menang dengan resep campuran. Era Jepang (1942-1945) melarang perayaan, tapi bertahan secara sembunyi-sembunyi.
ADVERTISEMENT

Larangan Perayaan Cap Go Meh

Di Indonesia, perayaan Imlek dan ekspresi budaya Tionghoa di tempat umum termasuk Cap Go Meh sempat dilarang Presiden Soeharto. Ketentuannya tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967.
Larangan tersebut berlaku selama 32 tahun hingga akhirnya dicabut Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000.
Dua tahun kemudian, Imlek secara resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002.

Simbolisme dan Dampak Cap Go Meh Saat Ini

Cap Go Meh adalah perayaan yang dipercaya membawa keberuntungan, mempererat hubungan keluarga, dan menunjukkan sikap saling menghargai antarumat beragama. Lentera berbentuk bulat melambangkan keharmonisan, sementara tradisi tatung dipercaya memberi kekuatan atau “kekebalan” dari roh leluhur.
ADVERTISEMENT
Saat ini, Cap Go Meh dirayakan secara besar-besaran di 11 kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, Tegal, dan Pontianak. Acara ini biasanya menampilkan parade naga sepanjang sekitar 100 meter serta pertunjukan kembang api yang meriah.
Menurut artikel Cap Go Meh Singkawang: Celebrating Cultural Harmony di situs Kemenpar.go.id, festival ini juga berperan besar dalam meningkatkan pariwisata kreatif dan memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang penuh toleransi.
(NDA)