Konten dari Pengguna

Sejarah Cirebon yang Menjadi Pusat Dakwah Islam di Jawa

Hendro Ari Gunawan
Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
30 Oktober 2025 19:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sejarah Cirebon yang Menjadi Pusat Dakwah Islam di Jawa
Bagaimana sejarah Cirebon dari waktu ke waktu? Simak pembahasan dalam artikel ini mengenai beberapa peristiwa penting yang terjadi.
Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi sejarah cirebon. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah cirebon. Foto: Unsplash
ADVERTISEMENT
Cirebon merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat kebudayaan dan pemerintahan. Kota ini sering dijuluki sebagai “Kota Wali” karena erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam serta peran penting para wali dalam membentuk identitas masyarakat Cirebon. Untuk memahami sejarah Cirebon dari masa ke masa, simak ulasan lengkapnya pada artikel di bawah ini.
ADVERTISEMENT

1. Awal Mula

Menuru laman Pemerintah Kota Cirebon dan buku Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon yang disusun oleh Departemen Pendidikan Nasional, pada abad ke-14 di pesisir Laut Jawa berdiri sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Saat itu, banyak pedagang asing dari Cina, Arab, dan Gujarat datang untuk berdagang.
Penguasa wilayah tersebut, Ki Gede Surawijaya, bersama syahbandarnya Ki Gede Tapa, dikenal ramah sehingga interaksi perdagangan dan penyebaran ajaran Islam semakin ramai. Pada masa inilah Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang, yang juga putri dari Ki Gede Tapa, datang ke wilayah ini untuk memperdalam ajaran Islam. Ia kemudian membentuk sebuah pedukuhan yang diberi nama Tegal Alang-Alang.
Setelah pedukuhan tersebut berdiri, Walangsungsang diangkat menjadi kepala dukuh dengan gelar Pangeran Cakrabuana. Kehidupan ekonomi tumbuh pesat karena banyak pedagang asing yang membuka pasar di wilayah itu. Lambat laun, kawasan tersebut dikenal dengan nama Caruban, yang berarti “campuran”.
ADVERTISEMENT
Saat Pangeran Cakrabuana menunaikan ibadah haji, kepemimpinan sementara diserahkan kepada Ki Gedeng Alang-Alang sebagai Kuwu Cerbon. Setelah kembali dari tanah suci, jabatan tersebut dikembalikan kepada Pangeran Cakrabuana. Di bawah kepemimpinannya, wilayah itu terus berkembang pesat dan kemudian dikenal sebagai Negeri Caruban Larang.

2. Kesultanan Cirebon

Berdasarkan buku Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara karya Deni Prasetyo, kedudukan Pangeran Cakrabuana kemudian digantikan oleh Syarif Hidayatullah pada tahun 1479. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Cirebon mengalami masa kejayaan dan perkembangan pesat. Ia tidak hanya dikenal sebagai pendiri dinasti raja-raja Cirebon, tetapi juga sebagai tokoh penyebar Islam di wilayah Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Sunda Kelapa, hingga Banten.
Syarif Hidayatullah juga dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.
ADVERTISEMENT

3. Masa Kolonial

Seperti banyak wilayah lain di Indoensia, Cirebon juga mengalami pengaruh kolonial Belanda. Pada abad ke-17, Belanda mulai menguasai wilayah ini dan mendirikan pemerintahan kolonial mereka. Pada periode ini, Cirebon menjadi bagian dari Hindia Belanda.
Seperti banyak daerah lain di Indonesia, Cirebon tidak luput dari pengaruh kolonial Belanda. Pada abad ke-17, Belanda mulai memperluas kekuasaannya di wilayah pesisir Jawa, termasuk Cirebon. Pada masa ini, Cirebon menjadi bagian dari sistem pemerintahan Hindia Belanda.

4. Setelah Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Cirebon resmi menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Seiring waktu, kota ini berkembang pesat di berbagai sektor, terutama industri, perdagangan, dan pariwisata. Cirebon juga memiliki peninggalan bersejarah yang menarik, termasuk masjid-masjid, maka-makam wali, dan istana-istana keraton.
ADVERTISEMENT
(SA)