Konten dari Pengguna
Sejarah Cut Nyak Dien, Pahlawan Nasional Perempuan yang Tangguh dari Aceh
3 November 2025 19:12 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sejarah Cut Nyak Dien, Pahlawan Nasional Perempuan yang Tangguh dari Aceh
Bagaimana sejarah Cut Nyak Dien yang ikut berperan dalam menumpas penjajan Belanda? Simak pembahasan lengkapnya pada artikel ini.Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Cut Nyak Dien adalah salah satu pahlawan nasional perempuan asal Aceh yang dikenal karena keberaniannya melawan penjajahan Belanda. Pada masa Perang Aceh, ia memimpin pasukan rakyat untuk menyingkirkan kekuasaan kolonial dari tanah kelahirannya. Sejarah Cut Nyak Dien menjadi bukti keteguhan seorang pejuang yang gigih dan pantang menyerah. Artikel ini akan menguraikan secara lengkap perjalanan hidup Cut Nyak Dien dalam menumpas penjajahan hingga akhir hayatnya.
ADVERTISEMENT
1. Latar Belakang Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien berasal dari kalangan bangsawan Aceh. Berdasarkan buku Ensiklopedia Pahlawan Nasional: Aceh karya Satyo Pijar, ia lahir pada tahun 1848 di Lampadang, wilayah VI Mukim, Aceh Besar. Ayahnya, Teuku Nanta Setia, merupakan seorang uleebalang (pemimpin daerah) di VI Mukim yang berdarah Minangkabau, sedangkan ibunya adalah putri dari uleebalang Lampagar.
Sejak kecil, Cut Nyak Dien tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan sangat menghormati adat serta agama Islam. Dari keluarganya, ia memperoleh pendidikan agama dan keterampilan dalam mengelola rumah tangga. Saat beranjak remaja, ia menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga, putra dari Teuku Po Amat, uleebalang Lamnga XIII.
2. Peranan Cut Nyak Dien Terhadap Kolonial Belanda
Pada tahun 1873, Belanda memulai serangan ke Aceh yang kemudian dikenal sebagai Perang Aceh. Dalam situasi tersebut, Cut Nyak Dien harus mengungsi bersama bayinya dan penduduk lainnya, sementara suaminya ikut bertempur di garis depan.
ADVERTISEMENT
Namun, pada bulan Juni 1878, Teuku Ibrahim Lamnga gugur dalam pertempuran di Gle Tarum. Kematian suaminya membuat Cut Nyak Dien sangat terpukul dan membangkitkan tekadnya untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda.
Beberapa tahun kemudian, pada 1880, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar, seorang pejuang Aceh yang dikenal karena kecerdikan dan keberaniannya. Keduanya menjadi pasangan yang sangat ditakuti Belanda karena strategi perang mereka yang lihai dan mampu membangkitkan semangat rakyat Aceh.
Teuku Umar bahkan sempat berpura-pura bekerja sama dengan Belanda demi mendapatkan senjata dan logistik, sebelum akhirnya kembali memihak rakyat Aceh untuk melancarkan serangan besar-besaran. Namun, pada tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh. Setelah kepergian suaminya, Cut Nyak Dien mengambil alih komando pasukan dan terus melanjutkan perjuangan.
ADVERTISEMENT
3. Bangkitnya Semangat Perlawanan
Meski kehilangan suami untuk kedua kalinya, semangat juang Cut Nyak Dien tidak pernah surut. Ia terus memimpin pasukannya dengan strategi gerilya dengan kekuatan yang ada. Meski pasukan yang ia pimpin tidak besar, tetapi memiliki keunggulan dalam bergerak cepat dan kemampuan bersembunyi di hutan-hutan pegunungan. Cut Nyak Dien kemudian memutuskan untuk bergerak ke dataran tinggi Gayo demi melanjutkan perlawanan.
Namun, semakin jauh mereka bergerak, semakin berat pula penderitaan yang harus ditanggung. Persediaan makanan menipis, dan kondisi fisik Cut Nyak Dien yang semakin menua membuatnya jatuh sakit. Karena merasa iba, salah satu orang kepercayaannya, bernama Pang Laot, akhirnya melaporkan lokasi persembunyian Cut Nyak Dien kepada pihak Belanda pada tahun 1901.
ADVERTISEMENT
4. Penangkapan dan Pengasingan Cut Nyak Dien
Mengutip buku Perempuan-Perempuan dalam Sejarah Islam karya Rizqi Sofiana dkk., setelah ditangkap oleh Belanda, Cut Nyak Dien dibawa ke Kutaraja dan dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang lemah.
Pemerintah Belanda kemudian memutuskan untuk mengasingkan Cut Nyak Dien karena khawatir keberadaannya akan kembali memicu semangat perlawanan rakyat Aceh. Pada tahun 1906, ia dipindahkan ke Sumedang, Jawa Barat untuk menjalani sisa hidupnya. Cut Nyak Dien wafat pada tahun 1908 dalam usia lanjut. Ia dimakamkan di area pemakaman keluarga terhomat di Sumedang, tepatnya di kompleks pemakaman Gunung Puyuh.
(SA)

