Konten dari Pengguna

Sejarah Ditemukannya Patung Megalitikum di Nias yang Masih Ada Hingga Kini

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi patung dan batu megalitikum di Nias. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi patung dan batu megalitikum di Nias. Foto: Unsplash

Sejarah ditemukannya patung megalitikum di Nias berkaitan erat dengan adanya tradisi batu besar yang masih hidup di pulau ini hingga abad ke-20. Bagi masyarakat Nias, patung dan batu megalitikum bukan hanya peninggalan masa lampau, tetapi bagian dari kehidupan adat yang masih harus dijalankan. Album Benda Cagar Budaya: Megalitik Nias terbitan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Kemdikbud menjelaskan bahwa patung-patung batu Nias mulai didata secara sistematis sejak program inventarisasi cagar budaya nasional pada dekade 1990-an, meskipun keberadaannya sudah lama dikenal oleh misionaris dan penjelajah Eropa sejak abad ke-19. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut seputar patung megalitikum yang ditemukan di Pulau Nias.

Daftar isi

Awal Penelitian Tradisi Megalitikum di Nias

UNESCO dalam naskah Tradisi Megalitik di Pulau Nias mencatat bahwa perhatian ilmiah terhadap batu-batu megalitik Nias menguat pada paruh pertama abad ke-20, ketika arkeolog dan etnografer Belanda mulai memotret dan menggambar kursi batu, menhir, dan patung manusia di desa-desa adat.

Peneliti seperti Van Heekeren dan Soejono kemudian memasukkan Nias sebagai salah satu “living megalithic tradition” di Indonesia, sejajar dengan Sumba dan Toraja.

Buku Cerdas Menjawab Soal Sejarah SMA/MA/SMK karya Samsul Farid dan Muhamad Husnu menyatakan, temuan patung megalitikum di Nias menjadi bukti kuat masih berlangsungnya tradisi zaman batu muda yang berlanjut hingga masa sejarah, karena fungsinya tetap terkait pemujaan leluhur dan penegasan status sosial.​

Jenis dan Bentuk Patung Megalitikum Khas Nias

Direktorat Cagar Budaya Kemdikbud dalam Album Tradisi Megalitik di Indonesia menegaskan bahwa megalit Nias memiliki bentuk khas yang tidak dijumpai di daerah lain, seperti osa-osa (kursi batu berukir).

Patung megalitikum Nias kerap dipahat dalam bentuk manusia dengan proporsi kaku, hidung tajam, dan mata menonjol, yang melambangkan tokoh bangsawan atau leluhur penting di desa.

H. Sukendar dalam penelitiannya yang bertajuk The Megaliths of Nias Island menyebutkan bahwa patung dan batu meja di Nias dirancang sangat spesifik untuk upacara owasa, yaitu pesta jasa besar yang diselenggarakan bangsawan sebagai syarat kenaikan status sosial.

Situs Penting Penemuan Patung Megalitikum di Nias

Kemdikbud melalui Album Megalitik Nias mendokumentasikan banyak situs di Nias Selatan dan Nias Barat, seperti Tetegewo, Hilisimaetano, dan Boronadu, yang menyimpan patung dan batu besar berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Museum Pusaka Nias pun menggambarkan bahwa patung tekhemböwö, menhir, dolmen, dan sarkofagus batu tersebar di halaman rumah adat dan alun-alun desa sebagai bagian dari tata ruang tradisional.

Artikel kajian arkeologi Megalitik Fenomena yang Berkembang di Indonesia terbitan Kemdikbud menjelaskan bahwa di wilayah Gomo, Nias Selatan, batu-batu megalitik diperkirakan dibuat antara 1000–1500 M, sejalan dengan migrasi penduduk dari daratan Asia yang membawa tradisi batu besar.

Makna Sosial dan Religius Patung Megalitikum Nias

Patung dan batu megalitik yang terdapat di wilayah Gomo, Boronadu, dan Tetegewo di Pulau Nias bukan sekadar benda kuno. Bagi masyarakat setempat, batu-batu ini memiliki makna penting sebagai tanda kedudukan sosial seseorang, sarana untuk menghormati dan berkomunikasi secara simbolis dengan leluhur, serta lambang jati diri suatu komunitas.

Setiap kali sebuah patung megalitik didirikan, prosesnya tidak dilakukan secara sederhana. Masyarakat biasanya mengadakan pesta adat besar yang melibatkan banyak orang. Dalam acara tersebut, babi disembelih dan emas dibagikan sebagai bentuk kerja sama atau gotong royong, sekaligus sebagai penghormatan kepada tokoh yang dikenang melalui patung tersebut.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menjelaskan bahwa saat ini sebagian patung dan batu megalitikum telah dipindahkan ke Museum Pusaka Nias untuk tujuan pelestarian. Namun demikian, masih banyak desa adat yang memilih mempertahankan dan merawat batu-batu megalitik di lokasi aslinya.

Menurut Kemdikbud, praktik ini penting karena menjadikan warisan budaya tersebut tetap hidup, sekaligus berperan sebagai penghubung antara generasi muda dengan sejarah panjang dan nilai-nilai leluhur mereka.

Baca juga: Asal Usul Perahu Tradisional Jukung di Kalimantan

(NDA)​