Sejarah Gedung Sate yang Dulunya Jadi Pusat Pemerintahan Kolonial

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gedung Sate merupakan pusat pemerintahan Gubernur Provinsi Jawa Barat. Tujuan pembangunan gedung ini sebenarnya untuk dijadikan pusat pemerintahan kolonial Belanda. Nama awalnya adalah Gouvernements Bedrijven. Namun, masyarakat Bandung lebih suka menyebutnya Gedung Sate karena terdapat konstruksi mirip sate di menaranya. Simak sejarah gedung sate selengkapnya berikut ini.
1. Peletakan Batu Pertama
Dikutip dari laman resmi Portal Bandung, pembangunan Gedung Sate merupakan bagian dari program pemindahan pusat militer pemerintah Hindia Belanda dari Meester Cornelis ke wilayah Bandung.
Pembangunannya dilakukan mulai tahun 1920. Peletakan batu pertama dilakukan secara resmi oleh tokoh-tokoh penting dari pemerintah Hindia Belanda, yakni:
Johanna Catherina Coops, putri sulung Walikota Bandung B. Coops
Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal Batavia J.P. Graaf van Limburg Stirum
Konon, batu-batu yang digunakan dalam seremonial ini diangkut langsung dari daerah Ujung Berung, Bandung.
2. Bangunan Dirancang oleh Arsitek Ternama
Merujuk buku Jelajah Wisata Nusantara susunan Tri Maya Yulianingsih, Gedung Sate merupakan karya arsitek asal Belanda yang lama tinggal di Thailand, yaitu Ir. J. Gerber. Ia memimpin sebuah tim yang terdiri dari arsitek Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks
Pembangunan ini juga melibatkan pihak Gemeente van Bandoeng, yang diketuai Kol. Pur. VL. Slors. Total ada 2.000 pekerja yang terlibat dalam proses pembangunan, terdiri dari:
Ratusan orang pemahat.
Sejumlah ahli pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton.
Beberapa tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok dan Kampung Cibarengkok.
Sebagai informasi, tukang batu yang dipekerjakan telah berpengalaman dalam membangun Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota Bandung) sebelumnya.
3. Gaya Arsitektur Gedung Sate
Dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas IV susunan Dra. Dwi Tyas Utami dkk, disebutkan bahwa gaya arsitektur Gedung Sate merupakan perpaduan antara aliran Moor (Spanyol) dan Thailand.
Namun, sumber di buku Made in Bandung: Kreatif, Inovatif dan Imajinatif! oleh Sherly A. Suherman mengatakan bahwa gaya bangunannya cenderung ke arah zaman renaisans. Selain itu, banyak arsitek dan ahli bangunan yang menyatakan bahwa Gedung Sate sangat mempesona dengan gaya arsitektur Indo-Eropa.
Dua arsitek Belanda, Cor Pashier dan Jan Wittenberg mengatakan, "Langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa".
Pada intinya, gaya arsitektur gedung ini memadukan ciri khas timur dan barat. Hal ini ditegaskan Ir. H.P. Berlage sewaktu mengunjungi ke Gedung Sate pada April 1923.
"Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis," ucap Berlage.
4. Pembangunan Selesai
Pembangunan Gedung Sate rampung dalam kurun waktu 4 tahun, tepatnya pada bulan September 1924. Dahulu, gedung ini sempat menjadi kantor pos dan telekomunikasi serta Departemen Prasarana Umum Belanda. Namun, sejak tahun 1980, Gedung Sate akhirnya difungsikan sebagai Kantor Gubernur Bandung.
Baca Juga: Mitos Gedung Sate yang Banyak Diperbincangkan
