Sejarah Goa Gajah Bali: Situs Suci dari Masa Hindu-Buddha

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Goa Gajah merupakan salah satu situs bersejarah penting di Bali yang menunjukkan perpaduan ajaran Hindu dan Buddha pada masa Bali Kuno. Lokasinya berada di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Situs ini resmi menjadi cagar budaya nasional sejak ditetapkan melalui SK Menteri Kebudayaan Nomor 131/M/1998. Artikel ini akan memberitahukan sejarah Goa Gajah Bali selengkapnya yang menarik untuk disimak.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Nama Goa Gajah
Nama Goa Gajah diyakini berasal dari istilah “Lwa Gajah”, yang berarti gua di dekat sungai. Hal ini disebutkan dalam kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca yang ditulis pada tahun 1365 M.
Penjelasan tersebut juga diperkuat oleh Arya Pradipta dalam buku Seribu Tahun Bali: 10 Legenda Sakral yang Mengubah Pulau Dewata, yang menyebutkan bahwa goa ini berada di sekitar aliran Sungai Petanu.
Goa Gajah pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1923. Penelitian lanjutan yang dimuat dalam Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur mencatatkan bahwa ditemukan juga arca Ganesha dan patung biksu pada tahun 1954. Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa Goa Gajah digunakan oleh pemeluk Hindu dan Buddha secara berdampingan.
Arsitektur dan Keunikan Relief Goa Gajah
Goa Gajah dikenal karena pintu masuknya yang sangat unik, yaitu berbentuk mulut raksasa yang terbuka lebar. Menurut buku Sejarah Kebudayaan Bali: Kajian Perkembangan karya Supratikno Raharjo dan Agus Aris Munandar, bentuk mulut raksasa ini melambangkan kekuatan alam serta dunia gaib. Masyarakat pada masa lalu percaya bahwa ukiran tersebut berfungsi sebagai pelindung tempat suci yang berada di dalam gua.
Di bagian depan Goa Gajah, terdapat relief kepala raksasa dengan rahang terbuka yang seolah-olah “menelan” siapa pun yang masuk. Di sekitarnya juga terdapat ukiran berbagai hewan, seperti gajah dan burung, yang melambangkan kehidupan alam liar. Sementara itu, di dalam gua terdapat tiga ruang kecil yang pada zaman dahulu digunakan sebagai tempat bertapa atau melakukan kegiatan spiritual.
Berdasarkan keterangan dalam Database Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), di area depan gua juga terdapat kolam petirtaan yang dilengkapi pancuran air berbentuk makhluk mitologis.
Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam buku Seri Ensiklopedia untuk Anak Indonesia I karya Slamet Riyanto dan Kaniah, yang menyebutkan bahwa relief dan pancuran air tersebut merupakan karya seni bernilai tinggi yang dirancang untuk menghadirkan suasana sakral dan mistis di kawasan Goa Gajah.
Fungsi Ritual dan Upaya Pelestarian
Sejak dahulu, Goa Gajah digunakan sebagai tempat penyucian diri dan meditasi. Air dari kolam petirtaan dipercaya memiliki nilai spiritual. Namun, batuan gua yang berasal dari tuf vulkanik mudah rusak akibat kelembapan dan lumut, sehingga perlu perawatan khusus.
Sementara itu, portal resmi Love Bali milik Pemerintah Provinsi Bali menjelaskan bahwa pelestarian Goa Gajah dilakukan melalui penetapan zona perlindungan.
Dengan cara ini, Goa Gajah tetap digunakan untuk upacara adat sekaligus menjadi destinasi wisata budaya yang dikenal hingga mancanegara.
Baca juga: Sejarah Makam Imogiri, Jejak Peristirahatan Raja-Raja Mataram
(NDA)
