Sejarah Makam Imogiri, Jejak Peristirahatan Raja-Raja Mataram

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makam Imogiri adalah kompleks yang jadi tempat peristirahatan para raja Mataram Islam. Di balik itu, kompleks pemakaman ini juga pernah menjadi titik temu antara tradisi Islam dan warisan kebudayaan Jawa yang menjunjung tempat tinggi sebagai kawasan suci. Dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosial karya Waluyo, dkk., Makam Imogiri diperkenalkan sebagai salah satu situs penting yang menjelaskan kesinambungan kekuasaan raja-raja Mataram hingga masa kini. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut informasi mengenai sejarah Makam Imogiri.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Awal Pembangunan Makam Imogiri di Era Sultan Agung
Makam Imogiri dibangun oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, raja ketiga Mataram Islam, pada sekitar tahun 1632–1640 M di Bukit Merak, kawasan yang kini berada di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY.
Portal resmi Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan bahwa menurut babad Jawa, Sultan Agung memilih bukit ini setelah melakukan perjalanan ke Mekah dan melempar segumpal tanah yang kemudian jatuh di Merak, sebagai pertanda lokasi makam yang suci.
Sebelum membangun Imogiri, ia terlebih dahulu memerintahkan perbaikan makam Sunan Bayat di Klaten, yang menunjukkan penghormatan terhadap para wali sebagai pendahulu penyebaran Islam di Jawa.
Fungsi Makam Imogiri sebagai Kompleks Pemakaman Raja Mataram
Menurut data Cagar Budaya DIY, kompleks Makam Raja Imogiri sejak awal memang diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan raja dan keluarga besar Mataram Islam beserta keturunannya.
Sultan Agung menjadi raja pertama yang dimakamkan di sini pada 1645 M, kemudian disusul raja-raja penerus dari dua garis dinasti, yakni Kasunanan Surakarta di sayap barat dan Kasultanan Yogyakarta di sayap timur.
Situs resmi Kraton Yogyakarta menegaskan bahwa pembagian kompleks menjadi beberapa astana (kompleks kecil) menggambarkan garis keturunan raja, sekaligus menunjukkan betapa makam Imogiri berfungsi sebagai penanda legitimasi politik dan spiritual masing-masing keraton.
Arsitektur dan Makna Simbolik Makam Imogiri
Dinas Kebudayaan Bantul menjelaskan bahwa makam Imogiri dibangun bertingkat di atas bukit, mengikuti tradisi lama Jawa-Hindu yang menempatkan bangunan suci di tempat tinggi sebagai simbol kedekatan dengan dunia adikodrati.
Pintu-pintu gerbang (regol), pagar bata merah, serta susunan tangga yang panjang menuju kompleks utama memperlihatkan perpaduan gaya arsitektur Hindu-Buddha dan Islam Jawa, sesuatu yang juga dibahas dalam kajian arsitektur tradisional Jawa oleh para peneliti kebudayaan.
Penggunaan bata merah dan ornamen sederhana tanpa figur manusia menunjukkan penyesuaian terhadap ajaran Islam, tetapi tetap mempertahankan ruh kosmologi Jawa mengenai gunung sebagai pusat kesakralan.
Peran Makam Imogiri dalam Tradisi Ziarah dan Kebudayaan Jawa
Situs JogjaCagar memberitahukan, Imogiri termasuk Kawasan Cagar Budaya yang masih aktif digunakan untuk ritual ziarah, terutama pada bulan-bulan Jawa tertentu dan menjelang bulan Ramadan.
Abdi dalem dari Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta bertugas menjaga serta memandu upacara adat, mulai dari jam buka, aturan busana tradisional, hingga tata cara masuk ke tiap astana.
Dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosial karya Waluyo, dkk juga diterangkan bahwa ziarah ke makam raja di Imogiri bukan hanya aktivitas religius, tetapi juga sarana mengenal sejarah dan menghargai warisan budaya bangsa sejak masa Mataram Islam.
Baca juga: Sejarah Kota Tua Jakarta, Jejak Kolonial di Jantung Ibu Kota
(NDA)
