Sejarah Kota Tua Jakarta, Jejak Kolonial di Jantung Ibu Kota

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kota Tua Jakarta menyimpan cerita panjang sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan sejak abad ke-16, ketika pelabuhan kecil di muara Sungai Ciliwung mulai ramai dikunjungi pedagang asing. Kawasan ini, yang dulunya bernama Batavia, menjadi saksi pergantian kekuasaan dari Kerajaan Sunda hingga kolonial Belanda dan Jepang. Merujuk situs resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, transformasi Jayakarta menjadi Batavia pada 1619 menandai awal tata kota modern dengan kanal dan benteng pertahanan. Artikel ini akan menguraikan sejarah Kota Tua Jakarta selengkapnya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Kota Tua Jakarta
Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi titik awal sejarah Kota Tua, di mana Kerajaan Sunda menjadikannya pusat perdagangan dengan Portugis pada abad ke-16.
Pada 22 Juni 1527, Pangeran Fatahillah merebut Pelabuhan Sunda Kelapa dari Portugis dan menggantinya menjadi Jayakarta, awal mula perkembangan kawasan ini.
VOC Belanda di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Jayakarta pada 1619, menghancurkannya untuk membangun Batavia sebagai pusat perdagangan rempah-rempah terbesar dunia.
Situs UNESCO World Heritage Centre mencatat, rencana kota selesai pada 1650, dengan benteng, gudang, dan kanal yang mencerminkan kejayaan VOC saat itu.
Bentuk kota persegi panjang dibagi oleh Sungai Ciliwung yang diluruskan menjadi Kali Besar, memisahkan area Eropa di timur dan Cina di barat. Tata kota ini terinspirasi konsep "ideal city" Simon Stevin, dengan kanal untuk transportasi dan drainase banjir.
Penduduk lokal dari berbagai pulau Indonesia bercampur dengan pedagang Eropa, Cina, Arab, dan India, menciptakan budaya peranakan unik seperti masakan rijsttafel dan musik keroncong.
Bangunan Ikonik di Kota Tua Jakarta
Kota Tua Jakarta dikenal sebagai kawasan bersejarah yang menyimpan banyak bangunan peninggalan masa kolonial Belanda. Salah satu yang paling terkenal adalah Gedung Balai Kota (Stadhuis) yang terletak di Alun-Alun Kota Tua.
Dahulu, bangunan ini menjadi pusat pemerintahan VOC, dan kini difungsikan sebagai Museum Sejarah Jakarta. Di sekitar kawasan ini juga terdapat Gudang Barat dan Gudang Timur yang masih berdiri kokoh sebagai saksi kegiatan perdagangan pada masa lalu. Selain itu, Menara Syahbandar dulunya digunakan untuk mengawasi keluar-masuk kapal dagang di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Menurut UNESCO World Heritage Centre, bangunan-bangunan di Kota Tua Jakarta masih mempertahankan ciri khas arsitektur kolonial Belanda. Ciri tersebut antara lain jendela-jendela tinggi, atap berbentuk pelana, serta dinding dari batu karang berwarna putih. Desain ini dibuat agar bangunan tetap sejuk dan tahan terhadap iklim tropis Indonesia, sehingga fungsional sekaligus estetis.
Keberagaman budaya dan agama juga sangat terasa di kawasan ini. Masjid Luar Batang dan Kelenteng Jin De Yuan menjadi bukti kuatnya kehidupan multietnis yang telah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Sementara itu, keberadaan Gereja Portugis Luar menambah kekayaan warisan keagamaan di Kota Tua.
Bangunan hunian seperti Rumah Toko Merah, yang pernah dimiliki Gubernur Jenderal Van Imhoff, serta rumah milik keluarga Radermacher, menunjukkan bagaimana para pejabat dan elite kolonial tinggal pada masa itu.
Kawasan ini juga memiliki jaringan kanal tradisional yang dahulu dilalui perahu pinisi dari berbagai daerah di Indonesia, menegaskan peran penting Kota Tua dalam sejarah budaya maritim Nusantara.
Pelestarian dan Pengakuan Internasional terhadap Kota Tua Jakarta
Upaya pelestarian Kota Tua Jakarta mulai dilakukan secara serius sejak tahun 1972, ketika Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, menetapkan kawasan ini sebagai cagar budaya melalui dekrit resmi. Langkah tersebut bertujuan untuk mencegah kerusakan dan penghilangan bangunan bersejarah.
Perlindungan ini kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pelestarian Cagar Budaya serta Peraturan Daerah Nomor 36 Tahun 2014 yang mengatur perlindungan kawasan dan bangunan bersejarah.
Dalam catatan UNESCO, Kota Tua Jakarta masuk sebagai kandidat Warisan Dunia dengan memenuhi kriteria (ii), (iii), (iv), dan (v). Penilaian ini diberikan karena kawasan tersebut dianggap memiliki nilai universal yang tinggi sebagai salah satu kota kolonial VOC yang paling lengkap di Asia.
Melalui program “Old City, New Vision”, UNESCO bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan revitalisasi kawasan Kota Tua dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan. Program ini mencakup restorasi bangunan bersejarah, pengelolaan kios perahu tradisional, serta penataan kawasan agar tetap hidup tanpa kehilangan nilai sejarahnya.
Saat ini, Kota Tua Jakarta juga telah ditetapkan sebagai destinasi wisata prioritas nasional oleh Kementerian Pariwisata melalui Surat Keputusan Menteri Nomor KM.02.PW.202/MP/2014. Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk menjaga keaslian tata kota lama sekaligus menghadapi tantangan modernisasi, seperti pembangunan jalan tol dan pelabuhan modern di sekitarnya.
Baca juga: Sejarah Soto Betawi, Kuliner Warisan Budaya Jakarta
(NDA)
