Konten dari Pengguna

Sejarah Gunung Rinjani, Legenda, dan Catatan Aktivitas Vulkaniknya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendakian Gunung Rinjani, Lombok. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendakian Gunung Rinjani, Lombok. Foto: Shutter Stock

Gunung Rinjani memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut dan merupakan satu-satunya gunung aktif di Pulau Lombok. Keindahannya memikat para pendaki, mulai dari danau kawah yang memesona hingga hutan yang kaya flora dan fauna. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh, berikut asal-usul terbentuknya Gunung Rinjani beserta kearifan lokalnya, sebagaimana dikutip dari laman Direktorat SMP Kemendikdasmen dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Asal Usul Gunung Rinjani

Menurut legenda masyarakat Sasak, Gunung Rinjani terbentuk dari kisah Dewi Anjani, seorang putri cantik yang sangat mencintai alam. Dewi Anjani memilih untuk bermeditasi di puncak gunung karena ingin dekat dengan alam.

Pada akhirnya, keinginannya menjadi bagian dari alam menjadikan Gunung Rinjani sebagai manifestasi fisik dari sosok Dewi Anjani.

Adapun versi lain menceritakan tentang seorang raja yang memohon perlindungan kepada para dewa agar rakyatnya selamat dari bencana alam. Sebagai jawaban, para dewa menciptakan Gunung Rinjani sebagai benteng alami, yang melindungi pulau Lombok dari berbagai bencana.

Kedua versi ini menekankan bahwa gunung tidak hanya terbentuk secara fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual bagi masyarakat sekitar.

Sejarah Meletusnya Gunung Rinjani

Seiring dengan legenda dan asal-usul Gunung Rinjani yang sarat makna spiritual, gunung ini juga menyimpan sejarah panjang aktivitas vulkaniknya. Berikut rangkaian peristiwa penting terkait sejarah letusan Gunung Rinjani dari masa ke masa:

  • 1846: Gunung Rinjani berada dalam stadia fumarola, letusan awal terjadi di dalam kaldera Rinjani.

  • 1847 - 2009: Dalam periode ini, tercatat 11 kali letusan yang menghasilkan lava dan jatuhan piroklastik.

  • Agustus 1884: Letusan tercatat dalam Natuurkunding Tijdschrift voor Nederl. Indie, v.45. Saat itu, terlihat asap dan nyala api.

  • 1 Juni 1901 pukul 21.15: Terdengar suara ledakan dari gunung.

  • April 1906 pukul 21.15: Suara ledakan kembali terdengar.

  • 4 November 1915: Terlihat tiang asap dari kawah.

  • 1944: Setelah beristirahat 29 tahun, Rinjani kembali aktif, di mana terdengar suara gemuruh, hembusan asap tebal, sinar api malam hari, kilat sambung-menyambung, dan disertai gempa bumi.

  • 1966: Setelah 22 tahun tenang, terdengar kembali suara dentuman dan goncangan gempa bumi. Gunung juga mengeluarkan pasir dan kepulan asap.

  • 1994: Setelah 28 tahun tenang, Rinjani meletus dengan ledakan sangat kuat dari kaldera, dan menghasilkan kepulan asap hitam di udara.

  • Oktober 2004: Terjadi letusan abu.

  • 2009: Letusan asap coklat pekat mencapai ketinggian 1.000 meter dari G. Barujari, disertai suara dentuman lemah dan lava mengalir ke dalam Danau Segara Anak.

Kearifan Lokal dalam Legenda Rinjani

Legenda Gunung Rinjani menunjukkan pentingnya hubungan antara manusia dan alam. Berikut beberapa kearifan lokal yang dijaga masyarakat Sasak:

  1. Upacara Mulang Pekelem: Dilakukan untuk menghormati roh leluhur yang diyakini bersemayam di Gunung Rinjani.

  2. Upacara Ngayu-Ayu: Dilaksanakan sebelum pendakian untuk meminta izin dan restu dari roh penjaga gunung.

  3. Nilai-nilai tradisi yang dijunjung tinggi:

  • Gotong royong antarwarga

  • Rasa hormat terhadap leluhur

  • Menjaga kelestarian lingkungan

Kearifan lokal ini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari serta untuk melestarikan budaya yang sudah turun-temurun.

Nilai Moral dari Legenda Gunung Rinjani

Legenda Gunung Rinjani memberikan beberapa wawasan tentang bagaimana budaya dan alam saling terkait. Adapun pesan moral yang diambil antara lain:

  • Pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam.

  • Rasa hormat terhadap leluhur dan tradisi.

  • Kesadaran akan tanggung jawab individu terhadap kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Mengulik Sejarah Garuda Wisnu Kencana: Ikon Budaya Bali yang Megah