Konten dari Pengguna
Sejarah Ikan Kuah Kuning: Jejak Kuliner dari Laut Papua
9 Januari 2026 10:16 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sejarah Ikan Kuah Kuning: Jejak Kuliner dari Laut Papua
Cari tahu sejarah ikan kuah kuning, kuliner dari laut Papua, selengkapnya melalui ulasan ini.Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sejarah ikan kuah kuning berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir Papua yang menggantungkan hidup pada laut dan sagu. Sejak lama, ikan kuah kuning hadir sebagai pasangan utama papeda (bubur sagu khas Papua) untuk melengkapi rasa yang cenderung tawar. Buku Jelajah Jayapura karya Yusak Laksmana menggambarkan ikan kuah kuning sebagai salah satu ikon kuliner Jayapura yang tumbuh dari tradisi memasak ikan segar dengan kunyit dan rempah sederhana, lalu disajikan bersama papeda di rumah makan maupun acara adat. Untuk lebih mengenal kuliner ikan kuah kuning, simak terus uraian ini hingga tuntas.
ADVERTISEMENT
Asal Usul Ikan Kuah Kuning di Pesisir Papua
Ikan kuah kuning berkembang di masyarakat pesisir dan dataran rendah Papua yang memiliki akses pada ikan laut dan tanaman sagu. Ikan kuah kuning awalnya hanya dikenal di komunitas yang tinggal di tepi pantai, pesisir danau, serta pulau-pulau kecil, terutama sebagai “teman wajib” papeda.
Di kota-kota seperti Jayapura, Sentani, dan Sorong, hidangan ini kemudian naik kelas menjadi menu utama di rumah makan dan restoran, sementara di desa-desa masih disajikan dalam acara makan bersama dan perayaan keluarga.
Pemerintah Kabupaten Jayapura menyebutkan bahwa papeda biasanya dinikmati dengan ikan kuah kuning dari ikan kakap atau gurame, menegaskan kedekatan historis kedua hidangan ini dalam budaya makan Papua.
ADVERTISEMENT
Bahan dan Teknik Memasak Ikan Kuah Kuning
Secara sederhana, ikan kuah kuning adalah masakan ikan berkuah segar yang berwarna kuning cerah karena menggunakan kunyit. Kunyit ini tidak hanya memberi warna, tetapi juga membantu mengurangi bau amis pada ikan, sebagaimana umum digunakan dalam masakan tradisional Indonesia Timur.
Jenis ikan yang dipakai bisa bermacam-macam, tergantung daerah dan ketersediaan bahan. Di Papua, misalnya, sering digunakan ikan gabus dari Danau Sentani. Di daerah lain, ikan mujair, nila, atau ikan laut juga kerap dipilih.
Ikan tersebut dimasak dengan bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, jahe, dan kunyit, lalu ditambahkan rempah seperti serai dan daun jeruk. Bumbu-bumbu ini kemudian diberi garam serta sedikit bahan asam untuk menghasilkan rasa yang segar, gurih, dan sedikit pedas.
ADVERTISEMENT
Sebagai pelengkap, biasanya ditambahkan daun kemangi, belimbing wuluh, dan potongan tomat di tahap akhir memasak. Bahan-bahan ini membuat kuah terasa lebih segar dan aromanya wangi. Dalam tradisi makan masyarakat Papua, ikan kuah kuning sering disajikan bersama papeda, yaitu makanan pokok berbahan sagu yang rasanya cenderung tawar dan memiliki aroma khas.
Peran Ikan Kuah Kuning dalam Tradisi dan Pariwisata Papua
Papeda dan ikan kuah kuning bukan sekadar menu harian, tetapi juga bagian dari rangkaian upacara adat di sejumlah komunitas Papua. Buku Jelajah Jayapura karya Yusak Laksmana menjelaskan bahwa papeda dengan ikan kuah kuning disajikan dalam perayaan penting, misalnya pada Upacara Watani Kame di Raja Ampat yang menandai berakhirnya siklus kematian, atau pada upacara kelahiran anak pertama di Inanwatan.
ADVERTISEMENT
Pemerintah Kabupaten Jayapura bahkan menempatkan ikan kuah kuning sebagai “menu wajib coba” bagi pelancong, terutama ketika dinikmati di tepi Teluk Humboldt atau pantai Hamadi. Dalam konteks inilah ikan kuah kuning bertransformasi dari masakan rumah tangga menjadi simbol keramahtamahan Papua.
(NDA)

