Sejarah Jamu Tradisional Jawa Sebagai Warisan Kesehatan Nusantara

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jamu adalah kebanggaan Indonesia yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa selama berabad-abad lamanya. Ketika UNESCO mengakui budaya kesehatan jamu sebagai "Warisan Budaya Takbenda" pada Desember 2023, pengakuan tersebut bukan hanya tentang minuman herbal, melainkan tentang kearifan lokal yang telah dipraktikkan turun-temurun sejak era Kerajaan Mataram. Sosok Mbok Jamu yang berkeliling kampung dengan bakul berisi botol-botol jamu telah menjadi ikon budaya yang tidak hanya menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga melestarikan tradisi leluhur yang sarat dengan pengetahuan pengobatan alami. Penasaran dengan sejarah jamu tradisional Jawa? Simak uraian ini hingga tuntas untuk mengetahui informasi lengkapnya.
Sejarah Jamu Tradisional Menurut Manuskrip Jawa Kuno
Dalam jurnal Universitas Negeri Yogyakarta yang ditulis H. Mulyani dkk dengan judul Tumbuhan Herbal Sebagai Jamu Pengobatan Tradisional Terhadap Penyakit Dalam Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dijelaskan bahwa bukti sejarah penggunaan jamu telah terukir di helaian lontar, dinding-dinding candi, dan tulisan dalam manuskrip Jawa atau primbon.
Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I, yang merupakan koleksi Perpustakaan Reksapustaka Mangkunegaran Surakarta, mencatat pemakaian jamu dari bahan-bahan tradisional telah dilakukan masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit seperti cacingan dan disentri.
Bahan ramuan yang tercatat dalam manuskrip kuno tersebut sangat beragam, meliputi akar bakung, kayu cendana, mesoyi, daun asam, trawas, bunga cengkih, umbi bawang putih, rimpang bengle, dan temulawak.
Cara pengolahannya pun bervariasi mulai dari dibakar, dikukus, dikunyah, dihaluskan, hingga direbus. Keberagaman bahan dan teknik pengolahan ini menunjukkan pengetahuan mendalam masyarakat Jawa tentang khasiat tumbuhan herbal.
Makna Etimologis dan Filosofis Jamu
Merujuk penelitian dalam jurnal A.R. Kusumo dkk yang dipublikasikan dalam Jurnal Layanan Masyarakat dengan judul Jamu Tradisional Indonesia: Tingkatkan Imunitas Tubuh Secara Alami Selama Pandemi, kata jamu berasal dari bahasa Jawa yang merupakan gabungan dari kata "djampi" yang bermakna penyembuhan dan "oesodo" yang bermakna kesehatan. Teori lain menyebutkan bahwa jamu berasal dari kata "ngramu" yang berarti mencampur atau mengumpulkan bahan.
Jamu bukan sekadar minuman kesehatan, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang percaya pada keseimbangan alam. Penggunaan bahan-bahan alami dari alam dipercaya dapat mengembalikan keseimbangan tubuh dan jiwa, sebuah konsep yang sejalan dengan pandangan holistik kesehatan dalam budaya Jawa.
Jenis-Jenis Jamu dan Khasiatnya
Dalam penelitian yang dipublikasikan jurnal KSM Eka Prasetya UI, disebutkan terdapat berbagai jenis jamu dengan fungsi spesifik. Jamu beras kencur disukai karena rasanya manis dan segar, berkhasiat mengontrol berat badan dan menambah nafsu makan. Jamu kunyit asam menjadi favorit perempuan untuk meredakan nyeri haid dan melancarkan menstruasi.
Jamu temulawak berkhasiat untuk menyembuhkan pusing, mual, dan gejala masuk angin. Ada juga jamu pahitan atau brotowali yang rasanya sangat pahit namun berkhasiat tinggi, jamu galian singset untuk melangsingkan tubuh, dan jamu cabe puyang untuk meredakan pegal linu. Setiap jenis jamu memiliki komposisi dan khasiat khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan berdasarkan pengalaman empiris yang telah teruji berabad-abad.
Perkembangan Modern dan Pengakuan Internasional
Dalam jurnal E.H. Purwaningsih tahun 2019 berjudul Pengembangan dan Perlindungan Obat/Jamu Tradisional Menuju Industri Obat Herbal di Jawa Tengah dan Jawa Timur dijelaskan bahwa jamu mengalami transformasi dari pengolahan tradisional menjadi modern.
Pada tahun 2019, jamu secara resmi diakui sebagai "Warisan Budaya Takbenda Indonesia" oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengakuan tertinggi datang pada Desember 2023 ketika UNESCO resmi mengakui budaya kesehatan jamu sebagai "Warisan Budaya Takbenda".
Kini jamu tidak hanya diproduksi secara tradisional oleh Mbok Jamu, tetapi juga diproduksi dalam bentuk kemasan modern oleh industri dengan standar dan sertifikasi yang memenuhi persyaratan kesehatan.
Pemerintah juga mengeluarkan Permenkes No. 003 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan, memberikan landasan ilmiah untuk pengembangan jamu. Meski demikian, jamu gendong tradisional tetap eksis dan menjadi bagian dari identitas budaya Jawa yang harus dilestarikan.
Baca juga: 6 Makanan Sehat untuk Menjaga Kesehatan Kulit dan Rambut
(NDA)
