Sejarah Jenderal Sudirman, Pejuang Gigih di Masa Revolusi Kemerdekaan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jenderal Sudirman dikenal sebagai sosok pejuang yang sangat loyal terhadap bangsa dan negara. Ia merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berjasa besar pada masa revolusi kemerdekaan. Sejarah Jenderal Sudirman dapat menjadi teladan karena kegigihannya dalam memimpin pasukan meski dalam kondisi fisik yang sakit. Simak penjelasan selengkapnya mengenai kisah hidup Jenderal Sudirman.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Sosok Jenderal Sudirman
Jenderal Sudirman lahir dengan nama asli Raden Soedirman di Desa Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916. Orang tuanya bernama Karsid Kartawiraji dan Siyem. Untuk masa depan yang lebih baik, Sudirman kecil diadopsi oleh pamannya, Cokrosunaryo, yang saat itu menjabat sebagai camat.
Menurut buku 27 Karakter Tauladan Tokoh Indonesia karya Rahmat Putra Yudha, pendidikan formal Sudirman dimulai di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), kemudian dilanjutkan ke Taman Siswa. Namun, karena pemerintah Belanda menganggap Taman Siswa sebagai sekolah ilegal, ia akhirnya pindah ke Sekolah Wirotomo.
Sejak kecil, Sudirman dikenal taat beribadah dan gemar mempelajari agama. Saat remaja, ia ikut mendirikan organisasi Islam Hizbul Wathan, organisasi milik Muhammadiyah. Setelah menamatkan sekolah, ia dipercaya memimpin cabang Hizbul Wathan di Cilacap.
2. Awal Karier Sebelum Menjadi Panglima
Sebelum dikenal sebagai jenderal besar, Sudirman terlebih dahulu berprofesi sebagai guru di sekolah rakyat Muhammadiyah di Cilacap. Setelah beberapa waktu mengajar, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah khusus calon guru Muhammadiyah di Solo, namun tidak sempat menyelesaikannya karena terkendala biaya.
Sudirman kemudian kembali ke Cilacap dan melanjutkan profesinya sebagai guru. Di sana pula ia bertemu dengan Siti Alfiah, putri seorang pengusaha batik kaya bernama Sastroatmojo, yang kemudian menjadi istrinya.
Tahun 1944 menjadi titik penting dalam hidupnya, ketika ia menjabat sebagai ketua dewan kepresidenan bentukan Jepang. Dari sinilah langkahnya menuju dunia militer dimulai. Sudirman kemudian bergabung dengan organisasi militer Pembela Tanah Air (PETA) dan menerima pelatihan militer. Di sinilah bakat kepemimpinannya semakin terlihat, sehingga ia dipercaya menjabat sebagai Daidanco (komandan batalyon) di Kroya.
3. Menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, PETA dibubarkan oleh Jepang. Namun, Sudirman tidak tinggal diam. Ia mengumpulkan kembali para mantan anggota PETA dan membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berkembang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sudirman sempat menjabat sebagai Panglima Divisi V/Banyumas. Kemudian seperti dikutip dari buku Mengenal Perjuangan Tokoh Integrasi karya Aries Eka Prasetya dkk., melalui Konferensi TKR di Yogyakarta, ia kemudian terpilih menjadi Panglima Besar TKR di usia 29 tahun.
Salah satu pertempuran penting yang dipimpinnya adalah Pertempuran Ambarawa pada Desember 1945. Dengan strategi gerilya, pasukannya berhasil memukul mundur Sekutu dan NICA. Keberhasilan ini membuat nama Sudirman semakin disegani, baik di kalangan militer maupun rakyat. Atas prestasi tersebut, pada 18 Desember 1945, Sudirman resmi dilantik menjadi Panglima Besar TKR dengan pangkat Jenderal.
4. Perjuangan Gerilya Saat Sakit Parah
Pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947, Sudirman memimpin pasukannya melakukan perlawanan di berbagai daerah. Meskipun TNI kekurangan senjata, strategi gerilya yang diterapkannya membuat pasukan Belanda kesulitan untuk menguasai wilayah secara menyeluruh.
Situasi semakin berat saat Agresi Militer II pada 19 Desember 1948, ketika Belanda berhasil menduduki Yogyakarta, yang kala itu menjadi ibu kota Indonesia. Dalam kondisi tubuh yang lemah karena menderita tuberkulosis (TBC), Sudirman tetap memimpin perang gerilya sambil ditandu oleh pasukannya. Meski dokter telah menyarankan agar ia beristirahat total, Sudirman menolak.
5. Akhir Hayat Jenderal Sudirman
Dalam buku Sejarah Jenderal Soedirman di Kabupaten Bantul yang disusun oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, disebutkan bahwa kondisi kesehatan Sudirman semakin menurun setelah perang usai. Ia kemudian dipindahkan ke Pesanggrahan Wilujeng, Magelang, dan dirawat di sana selama sekitar tiga bulan. Pada 29 Januari 1950, Jenderal Sudirman wafat di usia 34 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI dari BKR hingga Tentara Kebangsaan
(SA)
