Sejarah Keraton Surakarta dari Abad ke-18 Hingga Masa Kini

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Keraton Surakarta tidak hanya berkaitan dengan istana dan bangsawan, tetapi juga menggambarkan dinamika politik, budaya, dan keagamaan di Jawa sejak abad ke‑18. Keraton ini lahir dari konflik berkepanjangan di Kerajaan Mataram yang kemudian dimanfaatkan oleh VOC Belanda untuk menguatkan pengaruhnya. Dalam buku Java, Indonesia and Islam karya Mark R. Woodward, Surakarta digambarkan sebagai salah satu penerus tradisi Mataram yang berperan penting membentuk identitas kejawen dan praktik keagamaan sinkretis di Jawa. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut mengenai Keraton Surakarta yang masih dipelihara dan diwariskan hingga sekarang.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Latar Belakang Berdirinya Keraton Surakarta
Merujuk buku Java, Indonesia and Islam karya Mark R. Woodward, Keraton Surakarta berdiri setelah periode konflik internal di Mataram Islam yang memuncak pada pertengahan abad ke‑18.
Perselisihan suksesi, tekanan politik VOC, dan melemahnya otoritas raja di Kartasura mendorong pemindahan pusat kekuasaan ke tempat baru yang dianggap lebih aman dan strategis.
Dari proses inilah lahir Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai kelanjutan simbolis tahta Mataram, tetapi dalam posisi politik yang lebih terikat pada perjanjian dengan VOC.
Surakarta kemudian berkembang sebagai pusat pemerintahan dan budaya Jawa di bagian selatan, berdampingan dengan Yogyakarta yang muncul setelah pembagian wilayah melalui perjanjian politik berikutnya.
Keraton‑keraton ini dipandang sebagai lembaga yang menata ulang hubungan antara raja, bangsawan, dan rakyat di bawah bayang‑bayang kolonialisme.
Peran Keraton Surakarta dalam Politik Jawa
Pada abad ke‑18 dan ke‑19, Keraton Surakarta memegang peranan penting sebagai mitra sekaligus “benteng budaya” di tengah strategi politik Belanda.
Menurut jurnal Modern Elite Society and National Movement karya Restu Gunawan yang diterbitkan dalam GARUDA Kemendikbud, para pangeran dan bangsawan Surakarta berada di posisi ambivalen, di satu sisi menerima fasilitas dan pengakuan dari pemerintah kolonial, di sisi lain tetap memegang legitimasi tradisional di mata masyarakat Jawa.
Dalam kerangka ini, keraton berfungsi sebagai perantara antara dunia rakyat dan kekuasaan kolonial. Struktur sosial priyayi yang kuat di Surakarta melahirkan kelompok pegawai negeri, guru, dan cendekiawan yang menjadi tulang punggung administrasi kolonial dan pada saat yang sama menjadi embrio kelas menengah Jawa yang kelak terlibat dalam gerakan kebangsaan.
Keraton Surakarta sebagai Pusat Seni dan Tradisi Kejawen
Selain politik, Surakarta juga menjadi salah satu ruang utama lahirnya tradisi kejawen, yaitu perpaduan ajaran Islam, warisan Hindu‑Buddha, dan kepercayaan lokal yang terwujud dalam upacara, tari, musik gamelan, serta sastra Jawa.
Di lingkungan keraton, berbagai bentuk kesenian seperti wayang, tembang, dan tari klasik dibakukan melalui patronase raja dan bangsawan.
Keraton juga memelihara ritual‑ritual kerohanian seperti sekaten, labuhan, dan berbagai slametan yang mengikat hubungan antara raja, kosmos, dan rakyat.
Praktik‑praktik ini mencerminkan cara masyarakat Jawa memahami kekuasaan bukan hanya sebagai urusan politik, tetapi sebagai bagian dari tatanan spiritual yang lebih luas.
Perubahan Sosial di Sekitar Keraton Surakarta pada Masa Kolonial
Memasuki abad ke‑19 dan ke‑20, perubahan sosial di sekitar Surakarta semakin terasa. Penetrasi ekonomi kolonial, kebijakan Politik Etis, dan pembangunan jalur kereta api menghubungkan kota keraton dengan pusat ekonomi baru, sehingga memunculkan kelas pedagang, pegawai, dan buruh industri di sekitarnya.
Kajian tentang Labor Transformation in Javanese Society in the 19th karya Erlina Wiyanarti menunjukkan bahwa masyarakat yang dulu bergantung pada sawah dan patronase keraton mulai masuk ke dunia kerja modern sebagai buruh pabrik gula, pekerja transportasi, dan karyawan perkotaan.
Di saat yang sama, generasi muda dari keluarga priyayi Surakarta mulai mengenyam pendidikan Barat, masuk sekolah Belanda, dan mengenal gagasan tentang nasionalisme dan modernitas.
Dari lingkungan keraton dan priyayi inilah lahir tokoh‑tokoh yang berperan dalam organisasi pergerakan, menjadikan Surakarta bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga salah satu titik awal perubahan sosial dan politik di Jawa.
Baca juga: Sejarah Pendirian Pelabuhan Banten pada Masa Kejayaan Perdagangan Lada
(NDA)
