Konten dari Pengguna

Sejarah Pendirian Pelabuhan Banten pada Masa Kejayaan Perdagangan Lada

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PT Pelindo Regional 2 Banten secara resmi menerima izin pengoperasian Pelabuhan Bojonegara di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, pada 7 Agustus 2025. Foto: Dok. Pelindo
zoom-in-whitePerbesar
PT Pelindo Regional 2 Banten secara resmi menerima izin pengoperasian Pelabuhan Bojonegara di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, pada 7 Agustus 2025. Foto: Dok. Pelindo

Pelabuhan Banten merupakan salah satu pelabuhan terpenting dalam sejarah perdagangan rempah Nusantara, khususnya dalam perdagangan lada yang menjadi komoditas paling dicari di dunia pada abad ke-16 hingga ke-18. Kejayaan pelabuhan ini tidak terlepas dari visi Sultan Hasanuddin yang membangun Banten sebagai pusat perdagangan internasional setelah menaklukkan wilayah tersebut dari Kerajaan Sunda. Untuk mengetahui sejarah pendirian pelabuhan Banten pada masa kejayaan perdagangan lada hingga menarik perhatian pedagang dari berbagai penjuru dunia, simak terus uraian berikut ini.

Daftar isi

Awal Pusat Perdagangan Lada di Banten

Penelitian arkeologi dengan judul Investigation of the Early Traces of Pepper Trading in Banten Area, West Java karya Moh. Ali Fadillah menunjukkan bahwa aktivitas niaga di kawasan Banten sudah berlangsung sejak abad ke‑10.

Pecahan keramik dari Dinasti Tang dan Song‑Yuan yang ditemukan di situs Banten Girang menjadi bukti adanya jaringan perdagangan internasional jauh sebelum Banten menjadi kesultanan Islam.

Kajian ini juga mengungkap jejak budidaya lada di pedalaman Banten sejak milenium pertama Masehi, berkaitan dengan kedatangan pedagang India dan Cina melalui Selat Sunda.​

Dalam analisis kontekstualnya, para peneliti Walennae menyimpulkan bahwa perdagangan lada telah menjadi penggerak utama ekonomi di pesisir utara Jawa, termasuk Banten, bahkan pada masa Tarumanagara dan berkembang di era Kerajaan Sunda‑Banten.

Artinya, ketika kemudian terbentuk pelabuhan Banten yang besar, ia sebenarnya mewarisi jaringan niaga lada yang sudah mapan sejak masa pra‑Islam.​

Pendirian Pelabuhan Banten pada Masa Peralihan Kekuasaan

Transformasi Banten dari pelabuhan kerajaan Hindu‑Sunda menjadi pusat kekuasaan Islam terjadi pada paruh kedua abad ke‑16, ketika kekuatan Islam dari Demak dan kemudian Banten mulai menguasai jalur niaga di Selat Sunda.

Studi The Spice Route and the Sub‑Urban Muslim Community yang diterbitkan oleh UIN Sunan Kalijaga menggambarkan bahwa Banten menjadi salah satu pelabuhan penting di jalur rempah, sejajar dengan Gresik, Cirebon, dan pelabuhan lain di pantai utara Jawa.

Di masa ini, penguasa baru memanfaatkan infrastruktur pelabuhan yang telah ada, lalu memperluasnya untuk mengelola ekspor lada ke pasar Asia dan Eropa.​

UNESCO mencatat bahwa Banten Lama berkembang pesat sebagai kota pelabuhan Islam ketika Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada abad ke‑17.

Pelabuhan ini bukan saja melayani perdagangan lada, tetapi juga menjadi titik temu kapal‑kapal dari Cina, India, Timur Tengah, Portugis, Belanda, Inggris, hingga Denmark yang mencari rempah dan komoditas Asia lainnya.​

Kejayaan Perdagangan Lada dan Jaringan Internasional

Dalam artikel The Dynamics of Lampung Pepper Trade Network in 16th–18th Century yang diterbitkan oleh UIN Jakarta para peneliti menunjukkan bahwa Banten menjadi pelabuhan lada internasional utama di Selat Sunda setelah Portugis menguasai Malaka pada 1511.

Lada Banten banyak dipasok dari Lampung dan kawasan Sumatra bagian selatan, kemudian dikirim ke pasar Asia dan Eropa melalui pelabuhan Banten. Posisi Banten yang strategis membuatnya menjadi penghubung penting antara pusat produksi lada di pedalaman dan jalur maritim global.​

Penelitian lain dalam jurnal Divide et Impera in the Banten Sultanate yang diterbitkan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menegaskan bahwa pada abad ke‑17, Banten menjadi salah satu eksportir lada terbesar di Asia, menarik minat pedagang Portugis, Belanda, Cina, Arab, India, dan Melayu.

Persaingan memperebutkan kendali atas pelabuhan dan jaringan lada ini kemudian memicu konflik dengan VOC, yang berusaha memonopoli perdagangan rempah di wilayah tersebut.​

Perencanaan Kota Pelabuhan dan Kebijakan Penguasa

Tesis Halwany Michrob bertajuk A Hypothetical Reconstruction of the Islamic City of Banten, Indonesia dari University of Pennsylvania menggambarkan Banten sebagai kota pelabuhan Islam yang tumbuh dari pelabuhan kecil di pantai utara Jawa menjadi pusat perdagangan rempah yang ramai.

Pelabuhan, gudang lada, dan permukiman pedagang asing disusun sedemikian rupa agar memudahkan aktivitas bongkar muat dan distribusi ke kapal‑kapal besar. Kota ini dirancang untuk melayani perputaran lada dalam skala besar sekaligus menegaskan status Banten sebagai kekuatan maritim.​

Baca juga: Peran Pelabuhan Sunda Kelapa dalam Perdagangan Nusantara

(NDA)