Sejarah Keraton Yogyakarta, Pusat Kekuasaan Sultan Hamengkubuwono Sejak 1755

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keraton Yogyakarta adalah istana sultan yang masih hidup dan menjadi jantung kota Jogja sejak dibangun pada tahun 1755. Sejarah Keraton Yogyakarta dimulai dari perjuangan Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I untuk selamatkan Kerajaan Mataram dari cengkeraman Belanda. Lokasi keraton di antara Gunung Merapi dan Laut Selatan mengikuti kosmologi Jawa kuno, menjadikannya simbol keseimbangan alam dan kekuasaan.
Merujuk artikel The Historical Implications of the Keraton Yogyakarta karya Herliana dari Ruang Jurnal Universitas Udayana, keraton ini bukan hanya istana, tapi pusat budaya yang bentuk kawasan Jeron Beteng dengan nilai politik, ekonomi, dan sosial dari tahun 1755 sampai sekarang. Simak terus uraian ini untuk mengetahui kilas balik tentang Keraton Yogyakarta.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Latar Belakang Berdirinya Keraton Yogyakarta
Sebelum Keraton Yogyakarta berdiri, Kerajaan Mataram mengalami perpecahan karena masalah di dalam kerajaan dan campur tangan VOC Belanda. Hal ini kemudian menghasilkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, yang membagi Mataram menjadi dua:
Kasunanan Surakarta dipimpin Pakubuwono III.
Kasultanan Yogyakarta dipimpin Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I.
Menurut buku Kraton and Kumpeni: Surakarta and Yogyakarta, 1830–1870 karya Vincent J.H. Houben, Sultan Hamengkubuwono I mendapatkan tanah sekitar 3.000 km² sebagai bagian perjanjian tersebut. Ia kemudian memilih lokasi keraton di hutan beringin antara Sungai Code dan Winongo karena daerah itu aman dari banjir dan strategis dekat jalur perdagangan menuju pelabuhan Indramayu.
Sultan sendiri merancang keraton dengan filosofi Jawa berupa:
Arah utara menghadap Gunung Merapi (lambang dunia para dewa).
Arah selatan menuju Parangtritis (wilayah Ratu Kidul).
Timur–barat melambangkan keseimbangan hidup.
Pembangunan Keraton Yogyakarta (1755–1756)
Setelah tiba di Yogyakarta pada 18 Maret 1755, Sultan Hamengkubuwono I mulai membangun keraton pada Oktober tahun yang sama. Sultan bertindak sebagai arsitek utama. Ia mengadopsi beberapa konsep dari Keraton Surakarta, seperti penggunaan kayu jati, bangunan pagelaran, dan alun-alun yang dikelilingi tembok.
Keraton dibangun di area seluas 1,6 km² dan memiliki empat pintu gerbang utama. Menurut Houben dalam buku Kraton and Kumpeni: Surakarta and Yogyakarta, pembangunan selesai pada 1756 dengan melibatkan tenaga rakyat secara gotong royong. Keraton tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga simbol kedaulatan Sultan meskipun masih berada di bawah pengaruh VOC.
Selama pembangunan, Sultan mengajarkan nilai gotong royong kepada rakyat, dan beberapa bangunan seperti gapura Wantah Abang dan Pagelaran Kidul kemudian menjadi ciri khas kota Yogyakarta.
Peran Keraton Yogyakarta Saat Revolusi Kemerdekaan (1945–1949)
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Sultan Hamengkubuwono IX langsung menyatakan dukungannya kepada Republik Indonesia. Keraton bahkan dijadikan tempat berjalannya pemerintahan darurat.
Menurut buku Primbon: Representation of Kraton Yogyakarta oleh A. Arfianti, Sultan menyembunyikan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta di dalam keraton ketika Belanda melakukan Agresi Militer I. Keraton juga menjadi pusat perlawanan, di mana abdi dalem membantu logistik untuk pasukan TKR, dan Sultan menolak tawaran Belanda yang ingin menjadikannya Gubernur Jawa Tengah.
Tidak hanya itu, Sultan pun menolak rencana Belanda yang ingin menjadikan keraton sebagai museum. Baginya, keraton harus tetap menjadi tempat hidupnya tradisi Jawa.
Keraton tetap berdiri tegak selama masa perang berkat strategi dan kepemimpinan Sultan, menjadikannya satu-satunya keraton di Indonesia yang masih aktif hingga sekarang.
Fungsi Keraton Yogyakarta sebagai Pusat Budaya dan Pendidikan
Keraton bukan hanya istana, tetapi juga pusat pembelajaran budaya Jawa. Di sana diajarkan seni seperti tarian bedhaya, gamelan sekaten, dan wayang kulit. Jurnal The Value of Yogyakarta Palace Dances oleh Sunaryadi (2013) menjelaskan bahwa tarian di keraton mengajarkan nilai etika, sikap hormat, dan keseimbangan hidup kepada generasi muda.
Keraton juga membuka museum batik, gamelan, dan berbagai pusaka untuk masyarakat umum. Setiap hari, sekitar 20.000 pengunjung datang untuk melihat kekayaan budaya tersebut. Primbon keraton bahkan menjadi panduan hidup masyarakat Jawa, mulai dari arsitektur hingga ritual seperti labuhan.
Sultan Hamengkubuwono X pun aktif mendukung pendidikan. Keraton kini menjadi “laboratorium hidup” bagi para peneliti, sejarawan, dan mahasiswa yang ingin mempelajari budaya dan sejarah Jawa secara langsung.
Baca juga: Mengapa Reog Ponorogo Dianggap Menyimpan Simbol Perlawanan? Ini Sejarahnya
(NDA)
