Konten dari Pengguna

Sejarah Lontong Sayur, Hidangan Khas Betawi Sejak Era Kolonial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lontong Cap Go Meh Foto: Kartika Pamujiningtyas/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lontong Cap Go Meh Foto: Kartika Pamujiningtyas/kumparan

Sejarah lontong sayur tidak lepas dari kehidupan masyarakat Betawi di Jakarta sejak era kolonial, ketika hidangan nasi gepeng dalam kuah santan kaya sayur jadi makanan rakyat yang bergizi. Merujuk buku Makanan Tradisional Indonesia Seri 3 karya Murdijati Gardjito, dkk., lontong sayur lahir dari akulturasi Belanda-Tionghoa-Betawi sebagai makanan sarapan murah yang tahan lama bagi buruh pelabuhan Sunda Kelapa. Artikel di bawah ini akan menguraikan informasi tentang lontong sayur selengkapnya.

Daftar isi

Asal Usul Lontong Sayur di Betawi

Lontong sayur sudah dikenal sejak abad ke-17, ketika pelabuhan Batavia menjadi pusat perdagangan yang ramai. Saat itu, banyak pekerja dan pedagang membutuhkan makanan yang praktis, mengenyangkan, dan mudah dibawa. Lontong menjadi pilihan karena tahan lama dan bisa dimakan kapan saja.

Dalam buku Info Boga Jakarta karya Rinto Habsari dijelaskan, lontong sayur Betawi merupakan hasil adaptasi lontong Jawa yang dipadukan dengan kuah santan kental yang dipengaruhi budaya Belanda. Untuk menambah tekstur, masyarakat Betawi menambahkan pepaya muda mentah agar terasa lebih segar dan renyah.

Menurut Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, lontong sayur juga menjadi hidangan penting saat Cap Go Meh dan Lebaran Betawi. Kehadirannya melambangkan perpaduan budaya yang hidup berdampingan di Jakarta, khususnya di kawasan Gang Gloria, Glodok.

Bahan dan Teknik Masak Lontong Sayur

Lontong dibuat dari beras biasa yang dibungkus daun pisang dengan sangat rapat, lalu direbus selama sekitar enam jam hingga teksturnya padat dan kenyal. Proses panjang ini membuat lontong tahan lama dan tidak mudah hancur.

Kuah lontong sayur dimasak dari santan kental, dicampur berbagai sayuran seperti pepaya muda parut, labu siam, tauge, dan kacang panjang. Ditambah juga tahu pong dan iga sapi agar rasanya lebih gurih. Bumbu yang digunakan antara lain kunyit, serai, lengkuas, dan daun kemangi.

Selain itu, hidangan ini biasanya juga dilengkapi sambal goreng ati, semur daging, dan emping, menciptakan perpaduan rasa gurih, manis, dan pedas.

Peran Ritual dan Sosial Lontong Sayur

Dalam perayaan Cap Go Meh, lontong sayur menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa-Peranakan dan Betawi. Lontong sayur mewakili identitas masyarakat Jakarta yang fleksibel dan beragam, menggantikan lontong khas Semarang dengan ketupat lokal Betawi.

Selain itu, lontong sayur juga sering disajikan dalam acara bersih desa dan syukuran. Hidangan ini melambangkan rasa syukur atas hasil panen serta doa agar terhindar dari bencana dan kesialan.

Variasi dan Pelestarian Lontong Sayur

Lontong sayur memiliki banyak variasi di berbagai daerah. Versi Betawi biasanya dilengkapi bihun goreng dan sambal kacang, sementara di Jawa Tengah lebih mirip sayur lodeh nangka. Di Kudus, dikenal lentog Tanjung, yaitu lontong dengan sayur gori dan kotokan tahu.

Dinas Kebudayaan Jakarta terus melestarikan lontong sayur melalui festival kuliner Betawi, sekaligus mendukung pedagang yang mewarisi resep turun-temurun dari keluarga mereka.

Di era modern, lontong sayur kini dikemas dalam wadah styrofoam agar tetap hangat, dan sering ditambah ayam goreng berbumbu agar lebih disukai banyak kalangan.

Baca juga: Asal Usul Nasi Uduk, Kuliner Betawi Hasil Percampuran Budaya

(NDA)