Sejarah Makassar Sejak Abad ke-14 Hingga Jadi Pusat Perdagangan Internasional

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makassar adalah salah satu kota tertua di Indonesia yang menyimpan jejak peradaban panjang sejak abad ke-14 hingga menjadi pusat perdagangan internasional di Nusantara. Nama Makassar sebenarnya merujuk pada ibu kota Kerajaan Gowa yang kemudian berkembang melalui persekutuan dengan Kerajaan Tallo pada tahun 1528. Perjalanan sejarahnya yang panjang menjadikan Makassar sebagai saksi bisu perkembangan politik, ekonomi, dan kebudayaan di kawasan timur Nusantara. Untuk mengetahui sejarah Makassar selengkapnya, simak uraian di bawah ini hingga tuntas.
Awal Mula Kerajaan Gowa dan Tallo
Cikal bakal Makassar dimulai dari kemunculan Kerajaan Gowa sekitar tahun 1300 sebagai salah satu chiefdom agraris di semenanjung Sulawesi Selatan.
Seperti yang dijelaskan dalam buku Sejarah Gowa oleh Abd. Razak Daeng Patunru, pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan komunitas yang dikenal dengan nama Bate Kalapang atau sembilan bendera, yakni Tembolo, Lakiung, Prang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero, dan Kalili.
Melalui berbagai cara baik damai maupun paksaan, komunitas-komunitas ini bergabung membentuk Kerajaan Gowa. Di sisi lain, bandar Tallo yang awalnya berada di muara Sungai Tallo mulai berkembang sebagai pelabuhan niaga kecil pada akhir abad ke-15 di bawah kekuasaan Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene.
Persekutuan Gowa-Tallo dan Masa Kejayaan
Tahun 1528 menjadi titik penting dalam sejarah Makassar ketika Kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan yang melahirkan kekuatan besar di Sulawesi Selatan.
Persekutuan ini diikat dengan perjanjian bahwa pewaris takhta Gowa akan menjadi raja, sementara pewaris takhta Tallo menjadi mangkubumi atau perdana menteri.
Masa pemerintahan Raja Gowa IX Tumaparisi Kallonna dan kemudian Tunipalangga menandai perluasan wilayah kekuasaan melalui reformasi birokrasi dan militer.
Akibat pendangkalan Sungai Tallo karena intensifnya kegiatan pertanian di hulu, bandar kemudian dipindahkan ke muara Sungai Jeneberang dengan dibangunnya Benteng Somba Opu yang menjadi pusat pertahanan sekaligus wilayah inti Kota Makassar.
Islamisasi dan Transformasi Kerajaan Makassar
Masuknya Islam ke Makassar membawa perubahan signifikan dalam dinamika kerajaan. Seperti yang dicatat dalam buku Sejarah Gowa oleh Abd. Razak Daeng Patunru, Abdul Ma'mur Khatib Tunggal atau Dato' Ri Bandang dari Minangkabau tiba di Tallo pada bulan September 1605 dan berhasil mengislamkan Raja Gowa XIV I-Mangngarangi Daeng Manrabia yang kemudian bergelar Sultan Alauddin.
Pada tanggal 9 November 1607, hari Jumat, diadakan shalat Jumat pertama di Masjid Tallo dan Masjid Mangallekana di Somba Opu yang menandai pengislaman resmi penduduk Kerajaan Gowa-Tallo.
Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Kota Makassar sejak tahun 2000, menggantikan peringatan sebelumnya yang jatuh pada 1 April setiap tahunnya.
Makassar sebagai Pusat Perdagangan Internasional
Posisi strategis Makassar di antara wilayah barat dan timur Nusantara menjadikannya bandar pertama untuk memasuki Indonesia Timur yang kaya rempah-rempah.
Menurut catatan Tome Pires berjudul Suma Oriental yang dikutip dalam berbagai sumber sejarah, orang-orang Makassar telah berdagang sampai ke Malaka, Jawa, Borneo, Negeri Siam, dan semua tempat antara Pahang dan Siam sejak abad ke-16.
Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat terlibat dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan menyebabkan terjadinya semacam renaissance kreatif.
Makassar menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya dengan koleksi buku dan peta yang pada waktu itu masih langka di Eropa, bahkan para sultan memesan barang-barang mutakhir seperti bola dunia dan teropong terbesar yang dipesan khusus dari Eropa.
Perang Makassar dan Kejatuhan Kerajaan
Ambisi para pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo untuk memperluas wilayah kekuasaan dan persaingan dengan Kompeni Dagang Belanda berujung pada konflik berkepanjangan.
Seperti yang dijelaskan dalam jurnal Hegemoni Kerajaan Gowa dan Perang Makassar yang diterbitkan dalam Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan, Perang Makassar tahun 1666-1669 merupakan perang terbesar dan paling dahsyat yang pernah dijalankan VOC pada abad ke-17.
Pasukan Bugis, Belanda, dan sekutu dari Ternate, Buton, serta Maluku memerlukan tiga tahun operasi militer di seluruh kawasan Indonesia Timur. Pada tahun 1669, akhirnya kota Makassar dan benteng terbesarnya Somba Opu dapat dihancurkan, yang menandai kejatuhan Kerajaan Gowa-Tallo dan berakhir dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya.
Makassar di Era Kolonial hingga Masa Kini
Kejatuhan Makassar di tangan federasi VOC menjadi titik balik sejarah Sulawesi Selatan. Menurut Abd. Razak Daeng Patunru dalam bukunya yang berjudul Sejarah Gowa, beberapa pasal Perjanjian Bungaya membatasi dengan ketat kegiatan pelayaran antar-pulau Gowa-Tallo dan sekutunya, sementara pelabuhan Makassar ditutup bagi pedagang asing sehingga komunitas saudagar hijrah ke pelabuhan-pelabuhan lain.
Pemerintah kolonial Belanda kemudian berhasil membangun pemerintahan pusat yang berpusat di Benteng Rotterdam pada akhir abad ke-17. Meski demikian, semangat perlawanan terus berlanjut melalui raja-raja kerajaan vasal Makassar hingga akhirnya wilayah ini bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia pasca kemerdekaan, dengan Makassar tetap mempertahankan perannya sebagai kota penting di Indonesia bagian timur.
Baca juga: Sejarah Medan: Kampung Kecil yang Menjadi Kota Dagang Internasional
(NDA)
